Kompas.com - 10/02/2021, 21:47 WIB
Lokakarya daring Koleksi Langka Perpustakaan Nasional ((10/2/2021) bertema ?Rekam Jejak Perkembangan Pantun di Indonesia? DOK. PERPUSNASLokakarya daring Koleksi Langka Perpustakaan Nasional ((10/2/2021) bertema ?Rekam Jejak Perkembangan Pantun di Indonesia?

KOMPAS.com - Pantun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir tahun lalu, 17 Desember 2020. Hal ini bukan waktu yang singkat mengingat pengajuan pantun telah dilakukan sejak 2016.

UNESCO menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda pada sesi ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di kantor pusatnya di Paris, Perancis.

Sekretaris Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Fitra Arda menyatakan, setelah penetapan, masih ada sejumlah hal yang mesti dilakukan demi melestarikan budaya bangsa ini.

Fitra menyebut, aspek perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan perlu diperhatikan sebagai tindak lanjut ditetapkannya pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda.

“Penetapan itu momentum awal pantun dihargai dunia internasional. Tapi langkah berikutnya, bagaimana tata kelolanya ke depan," ungkap Fitra saat menjadi narasumber Lokakarya Koleksi Langka Perpustakaan Nasional ((10/2/2021).

Dalam lokakarya daring bertema “Rekam Jejak Perkembangan Pantun di Indonesia” tersebut Fitria mengingatkan, "PR kita adalah bagaimana mewariskan kepada generasi berikutnya.”

Baca juga: Siswa, Ini Perjalanan Batik Jadi Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO

Koleksi langka Perpusnas

Senada dengan pernyataan tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Ofy Sofiana menjelaskan, Perpusnas berupaya mengenalkan pantun melalui koleksi yang dimilikinya.

Dia menyatakan, melalui lokakarya, Perpusnas sebagai lembaga yang memiliki koleksi langka dan memuat karya pantun anak bangsa, berkontribusi dalam melestarikan warisan kekayaan budaya bangsa Indonesia.

“Keberadaan pantun dalam budaya Indonesia terekam kuat dalam koleksi-koleksi langka Perpustakaan Nasional RI," ujar Ofi.

Ia menerangkan, pantun dapat ditemui dalam naskah kuno, surat kabar langka dan majalah langka, juga buku langka yang dijaga kelestariannya oleh Perpustakaan Nasional dengan tujuan dapat diakses dan dimanfaatkan untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa. paparnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X