Indonesia Lewati 1 Juta Kasus Covid, Ini Saran Pakar Epidemiologi UGM

Kompas.com - 29/01/2021, 07:41 WIB
Pengunjung menaiki wahana di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPengunjung menaiki wahana di Dufan, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (29/10/2020). Liburan panjang dimanfaatkan warga untuk berwisata ke tempat wisata pantai tersebut, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 22.000 pada pukul 15.00. Kuota pengunjung dibatasi 25 persen dari kapasitas maksimal atau 25.000 orang pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi ini.
|

KOMPAS.com - Sudah hampir setahun, kasus penularan Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi. Bahkan kini total kasus infeksi sudah melewati satu juta kasus Covid-19.

Karenanya, Indonesia menjadi nagara pertama di Asia Tenggara yang mencapai jumlah itu. Hingga pandemi ini belum juga berakhir.

Terkait hal itu, Pakar Epidemiologi UGM, dr. Riris Andono, menyebut bahwa jumlah ini menunjukkan penularan Covid-19 di Indonesia belum bisa dikendalikan. Maka, diperlukan kebijakan yang lebih serius untuk mengatasi pandemi.

"Yang lebih penting adalah maknanya bagi pengendalian Covid-19, apakah jumlah ini bisa memicu kebijakan yang lebih serius untuk menekan penularan atau tidak," ujarnya seperti dikutip dari laman UGM, Jumat (29/1/2021).

Baca juga: Ini Perbedaan Efikasi dan Efektivitas Vaksin dari Pakar UGM

Dikatakan Riris, kurva pandemi di Indonesia belum mencapai puncak. Meski sempat melandai, namun saat mobilitas penduduk dilonggarkan tingkat penularan terus meningkat.

Maka tak heran jika saat ini kapasitas rumah sakit tidak lagi mampu menampung banyaknya pasien yang terinfeksi virus corona.

Perlu kebijakan tegas

Lebih lanjut, Riris menyatakan bahwa pengendalikan pandemi memerlukan kebijakan yang tegas terutama dalam pembatasan mobilitas. Ketika kondisi penularan sudah begitu masif, penerapan 3M tidak lagi cukup.

Tak hanya itu saja, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di wilayah Jawa-Bali selama dua minggu pada 11 – 25 Januari lalu juga dirasa tidak cukup efektif untuk menekan penularan. Karena kenyataannya tingkat mobilitas masyarakat tidak banyak berubah.

Sedangkan kebijakan pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan hingga pukul 19.00 juga tidak bermanfaat jika jumlah orang yang mengunjungi tempat tersebut tidak berkurang secara signifikan.

"Yang lebih penting bukan durasinya diperpendek sedikit, tapi lebih pada seberapa banyak orang per satuan waktu yang ada di tempat tersebut," urainya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X