Sinergi Sekolah, Orangtua dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses Pembelajaran Tatap Muka

Kompas.com - 23/08/2020, 11:49 WIB
Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, terpaksa memperbolehkan belajar dengan tatap muka di seluruh sekolah SMP dan Sekolah Dasar sejak 13 Juli 2020 lalu.  Tindakan ini dilakukan karena banyaknya  siswa dan orangtua siswa yang meminta untuk sekolah tetap dibuka dengan belajar tatap muka. DEFRIATNO NEKEDinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, terpaksa memperbolehkan belajar dengan tatap muka di seluruh sekolah SMP dan Sekolah Dasar sejak 13 Juli 2020 lalu. Tindakan ini dilakukan karena banyaknya siswa dan orangtua siswa yang meminta untuk sekolah tetap dibuka dengan belajar tatap muka.

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri menyebut pembelajaran tatap muka di sekolah juga dibuka atau diperbolehkan bagi wilayah di zona kuning.

Hal itu diungkapkan Mendikbud pada Webinar Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung dari kanal YouTube Kemendikbud RI, Jumat (7/8/2020) sore.

Berdasarkan data Kemendikbud per 19 Agustus, dari 423.492 sekolah terdapat 32.821 sekolah zona hijau (8 persen), 205.154 sekolah zona oranye (48 persen), 151.269 sekolah zona kuning (36 persen) dan 34.248 sekolah zona hijau (8 persen).

Itu artinya, dengan kebijakan terbaru SKB 4 Menteri ada sekitar 44 persen sekolah di Indonesia diperkenankan melakukan pembelajaran tatap muka.

Baca juga: Sebelum Gelar Belajar Tatap Muka, Sekolah Harus Lakukan Simulasi

6 potensi dampak negatif

Analis Kebijakan Setdirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud Suharton Arham kembali menjelaskan (23/8/2020) kelangsungan belajar mengajar yang tidak dilakukan di sekolah berpotensi membawa dampak negatif berkepanjangan, antara lain;

1. Anak harus bekerja

Resiko putus sekolah dikarenakan anak "terpaksa" bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi Covid-19.

2. Persepsi orangtua

Banyak orangtua yang tidak bisa melihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila proses pembelajara tidak dilakukan secara tatap muka.

3. Kesenjangan capaian belajar

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.