Hari Pertama Sekolah, PMI Ingatkan Potensi Klaster Baru Sektor Pendidikan

Kompas.com - 13/07/2020, 17:44 WIB
Guru memeriksa suhu tubuh murid saat hari pertana masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin (13/7/2020). Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/IGGOY EL FITRAGuru memeriksa suhu tubuh murid saat hari pertana masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin (13/7/2020). Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

KOMPAS.com - PMI mengingatkan potensi munculnya klaster baru sebaran covid-19, seiring dimulainya hari pertama sekolah di pembukaan tahun ajaran baru sekolah zona hijau.

Sekolah zona hijau covid-19 sudah diizinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Meski di zona hijau, PMI mengingatkan penularan covid-19 dikhawatirkan masih dapat terjadi.

"Sepanjang masih ada kemunculan kasus di manapun itu artinya risiko terbuka bagi penularan virus," kata Sudirman Said, Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia (PMI). 

Dalam artikel Kompas.com sebelumnya (12/7/2020), sebanyak 1.280 orang di Secapa AD, Bandung terkonfirmasi positif covid-19 hingga saat ini. Temuan ini terungkap saat dua prajurit atau perwira siswa yang memeriksakan penyakitnya ke Rumah Sakit Dustira.

 

Karenanya, Sudirman Said menyampaikan meskipun belajar tatap muka di sekolah sudah berlaku di zona hijau covid-19, tetap harus dipikirkan ulang bagaimana risikonya.

Jika penambahan kasus positif covid-19 masih ada, peluang tingginya risiko penularan pun tidak dapat dihindari.

Baca juga: Hari Pertama Sekolah, Pembelajaran Jarak Jauh yang Penuh Tantangan

Kewaspadaan masyarakat menurun

Belum lagi dengan adanya peringatan WHO bahwa ditemukan penyebaran covid-19 melalui udara (airborne). 

Menurut Sudirman, meski telah diketahui risiko penyebaran virus makin tinggi namun sayangnya ia menilai kewaspadaan masyarakat justru tampak makin menurun.

"Kita perlu bangkitkan kembali solidaritas warga untuk saling mengingatkan, saling menjaga. Ada rumusan: “outbreak anywhere is outbreak everywhere”. Artinya kalau ada penyebaran kasus di Bandung, Surabaya, Semarang, dan lain-lain. Itu artinya selalu ada risiko penyebaran di tempat-tempat lain," ungkapnya.

Di Jakarta contohnya, lanjut Sudirman, sudah pernah menurun dan stabil, tetapi sekarang mulai naik lagi angkanya. Bisa karena penyebaran lokal DKI Jakarta, tetapi juga bisa disebabkan interaksi warga DKI dengan warga wilayah lain yang masih tinggi angka penularannya.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X