Memperjuangkan Hak Belajar Siswa di Daerah 3T, Tanpa Ponsel dan Kuota

Kompas.com - 23/05/2020, 16:52 WIB
Anak-anak Sekolah Dasar Katolik (SDK) Anaranda di Desa Mautenda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengikuti program cuci tangan pakai sabun pada pada program Meet a Need 2017 Jebsen & Jessen South East Asia yang bekerja sama dengan Area Development Program Wahana Visi Indonesia (ADP WVI) Ende pada Selasa (23/5/2017).  Kompas.com/Josephus PrimusAnak-anak Sekolah Dasar Katolik (SDK) Anaranda di Desa Mautenda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengikuti program cuci tangan pakai sabun pada pada program Meet a Need 2017 Jebsen & Jessen South East Asia yang bekerja sama dengan Area Development Program Wahana Visi Indonesia (ADP WVI) Ende pada Selasa (23/5/2017).

KOMPAS.com - Praktik belajar dari rumah di masa Pandemi Covid-19 menemui banyak tantangan, dan keterbatasan sarana seperti tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, sulitnya sinyal internet, dan keterbatasan kapasitas orangtua mendampingi anak belajar.

Keterbatasan terutama dirasakan di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) Indonesia.

Namun, di tengah segala tantangan pada masa darurat ini, inisiatif-inisiatif dilakukan untuk tetap melakukan pembelajaran pada anak didik.

Menurut data Kemendikbud (2020), sebanyak 46 ribu atau lebih 17 persen satuan pendidikan dasar dan menengah tidak memiliki akses ke internet. Sebanyak 8 ribu lebih satuan pendidikan atau 3 persen belum terpasang listrik, dan tidak terjangkau jaringan internet.

Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional, Hadirkan Pendidikan Positif dan Menggembirakan Siswa

Pendampingan guru

 

Education Team Leader Wahana Visi Indonesia, Mega Indrawati mengatakan “tantangan lain dihadapi pengajar dan siswa di daerah 3T adalah; siswa dan guru belum terbiasa dengan sistem belajar mandiri, kuota internet terbatas, lingkungan belajar kurang nyaman di rumah, dan perbedaan kemampuan orangtua dalam mendampingi anak-anak belajar.” 

“Wahana Visi Indonesia (WVI) di masa pandemi Covid-19 ini melakukan respon dengan mendampingi dan memfasilitasi guru-guru di sekolah dampingan WVI untuk melakukan pembelajaran baik secara online maupun offline,” tutur Mega.

Mega menambahkan, “selain itu, WVI juga membagikan bahan ajar kepada guru dan menyediakan wadah untuk guru mengajar melalui radio. Sosialisasi juga dilakukan melalui berbagai media cetak, elektronik, media luar ruang, buku saku, dan mobil sahabat anak.” 

Maria Ernaliana Seko dan Kristina Ani, guru SDK Galawea di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, misalnya, setiap hari berkeliling mengunjungi anak didik mereka.

Hal ini disebabkan, tidak semua orangtua siswa memiliki telepon seluler, dan sulitnya sinyal internet dan telepon di beberapa lokasi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X