Kompas.com - 08/05/2020, 19:43 WIB
Mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto dilantik mnejadi Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Sekolah Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Dok. UGMMantan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto dilantik mnejadi Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Sekolah Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

KOMPAS.com - Mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Wikan Sakarinto dilantik menjadi Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Sekolah Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Pelantikan dilakukan oleh Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim, secara daring, Jumat (8/5) dalam acara Pelantikan Pejabat Kemendikbud dan Anggota Lembaga Sensor Film periode 2020-2024.

Nadiem dalam sambutannya mengatakan bahwa pendidikan manusia Indonesia harus mengikuti perkembangan zaman dan memperhatikan pelaku pendidikan.

Pelaku pendidikan harus dilihat sebagai subyek, bukan obyek sehingga Kemendibud memberikan kebebasan pada insan pendidikan dan budaya untuk berkreasi, berinovasi, serta berpartisipasi memajukan pendidikan dan kebudayaan Indonesia.

“Hal tersebut menjadi tantangan dan motivasi kuat merdeka belajar yang berjalan secara efektif dalam sistem pendidikan Indonesia. Harapannya para pejabat yang baru dilantik bisa segera berkoordinasi internal dan melakukan penyesuaian tugas sesuai kondisi terkini, kreatif dan inovatif menjawab berbagai tantangan khususnya merdeka belajar,” papar Nadiem seperti dikutip dari laman UGM.

Baca juga: INFOGRAFIK: Mengenal Perbedaan Pendidikan Akademik, Vokasi dan Profesi

Sementara Wikan Sakarinto saat dihubungi melalui pesan WhatsApp mengaku mengemban amanah baru di Kemendikbud merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Menurutnya, pendidikan vokasi di Indonesia masih memiliki tantangan panjang ke depan.

Link and Match dunia pendidikan, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) harus disempurnakan, terstruktur, dan berkelanjutan agar menjadikan vokasi kuat yang menguatkan Indonesia,”jelasnya.

Ia menyampaikan bahwa sesuai arahan Nadiem, pendidikan vokasi meliputi SMK, pendidikan tinggi vokasi, dan lembaga pelatihan keterampilan harus bersinergi erat dengan industri dan dunia kerja (link and match).

Konsep ini sudah cukup lama dicetuskan dan diupayakan terwujud di Indonesia. Tidak sedikit SMK dan kampus vokasi yang sudah melakukannya atau mulai melakukannya dengan pihak industri.

“Namun, Link and Match tersebut jangan hanya selesai pada MoU. Prinsipnya, harus betul-betul dalam dan berkelanjutan serta menguntungkan seluruh pihak,” jelasnya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X