Ferdy Hasiman
Peneliti

Peneliti di Alpha Research Database. Menulis Buku Freeport: Bisnis Orang Kuat Vs Kedaulatan Negara, Gramedia 2019. dan Monster Tambang, JPIC-OFM 2013.

Pariwisata Super Premium Labuan Bajo dan Pembungkaman Protes Warga

Kompas.com - 08/08/2022, 12:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BAGAIMANA caranya supaya ekspansi bisnis perusahaan yang kami dukung tak dihambat warga, biar cepat dapat cuan?

Gampang saja caranya Pangeran, jika ada wargamu yang berdemonstasi dan melakukan aksi protes, panggil saja polisi, minta mereka kongkang senjata agar nyali warga menjadi ciut. Jika mereka terus-menerus melakukan aksi protes terhadap kebijakanmu, tahan saja mereka menjadi tersangka, niscaya kekuasaanmu langgeng dan korporasi yang Anda dukung terus mengepakan sayapnya mengakumulasi modal dan menjadi kaya raya.

Seperti itulah alur berpikir seorang filsuf Itali, Niccolo Machiavelli, tentang “Sang Penguasa”. Tesis penting Machiavelli di atas muncul dengan melihat jatuh-bangunnya Republik Florence semasa hidupnya (1469-1527).

Dia menyaksikan kejatuhan pengeran Pietro de Medici akibat gerakan reformasi spiritual, Saveranola dan beberapa pemipin Republik Florence lainnya. Machiavelli juga terlibat dalam politik praktis ketika Pangeran Soederini, sahabatnya menjadi penguasa.

Soederini mengangkatnya menjadi sekretaris dan menjadi penasihat untuk urusan militer di Republik Florence. Dengan perjalan hidupnya itu, Machiavelli dalam gagasan filsafat politiknya lalu merumuskan bagaimana caranya agar Sang Penguasa itu langgeng?

Dia mengemukakan bahwa cara paling mudah bisa dengan cara mengokang senjata agar rakyatnya takut dan dia terus berkuasa dan bisa juga dengan bermulut manis, mengelus-elus agar warga berbelas kasih dan terpukau, sehingga kekuasaan Sang Penguasa tak diganggu.

Pariwisata super premium Labuan Bajo

Gagasan Machiavelli di atas sengaja saya angkat untuk dikaitkan dengan konteks sosial-politik yang terjadi hari-hari ini di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT yang sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata super premium oleh pemerintah.

Di Labuan Bajo, para pelaku pariwisata dan masyarakat sipil turun ke jalan, melakukan aksi demonstransi menuntut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) menghentikan kebijakan kenaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo (TNK), khususnya untuk Pulau Komodo dan Pulau Padar.

Baca juga: Polda NTT Sebut Situasi Labuan Bajo Sudah Kondusif, Personel BKO Ditarik

Dua destinasi pariwisata itu adalah magnet bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Labuan Bajo. Dengan kata lain, dua tempat ini adalah tempat favorit bagi wisatawan datang ke Labuan Bajo dibandingkan tempat wisata lainnya.

Ledakaan wisatawan ke dua tempat itu serentak membuat pelaku pariwisata lokal, usaha kecil menengah dan masyarakat Manggarai Barat umumnya mendapat berkah. Paling kurang dengan pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo, ekonomi pelaku pariwisata, terutama pelaku usaha kecil dan masyarakat Manggarai Barat sedikit terangkat, meskipun ceruk terbesarnya diambil pebisnis besar.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.