Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 24 Oktober 1945

Kompas.com - 24/10/2021, 11:05 WIB
Jawahir Gustav Rizal,
Sari Hardiyanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) merayakan ulang tahun ke-76 pada hari ini, Minggu (24/10/2021).

PBB berdiri pada 24 Oktober 1945, sebagai organisasi persatuan negara-negara di dunia untuk menjaga perdamaian setelah Perang Dunia II berakhir.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, nilai-nilai dalam Piagam PBB yang disahkan 76 tahun lalu tidak akan pernah pudar dan kEdaluwarsa.

"Nilai-nilai yang telah memberi kekuatan pada Piagam PBB selama 76 tahun, perdamaian, pertumbuhan, hak asasi manusia, dan kesetaraan, tidak akan pernah kadaluwarsa," kata Guterres, dikutip dari laman resmi PBB, 21 Oktober 2021.

"Pada perayaan Hari PBB, mari kita berpegang teguh pada nilai-nilai ini, dan menjalankannya sesuai dengan amanah, cita-cita, dan harapan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa," ujar dia.

Sejarah berdirinya PBB

Tokoh pendiri PBB yaitu Josef Stalin, Franklin D Roosevelt , dan Winston Churchill un.org Tokoh pendiri PBB yaitu Josef Stalin, Franklin D Roosevelt , dan Winston Churchill
Mengutip Kompas.com, 31 Januari 2020, pembentukan PBB tidak bisa dilepaskan dari organisasi internasional pertama, yakni Liga Bangsa-Bangsa (LBB).

LBB atau League of Nations didirikan pada 1919, dan dibubarkan pada 1946, setelah PBB lahir.

PBB berdiri karena LBB kesulitan menghadapi konflik dunia setelah Perang Dunia I. Bahkan, Perang Dunia II tetap terjadi dan tak bisa dihentikan.

Menjelang berakhirnya PD II, negara-negara kubu Sekutu sepakat membentuk organisasi global yang menangani urusan antarnegara.

Baca juga: PBB dan Kontroversi soal Ganja...

Usulan ini pertama disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ketika menandatangani Piagam Atlantik pada Agustus 1941.

Nama "United Nations" dipilih sebagai simbol perlawanan terhadap negara yang bertentangan dengan kubu Sekutu, yakni Jerman, Italia dan Jepang.

Pada 1 Januari 1942, Declaration by United Nations, ditandatangani oleh 26 negara dan berisitujuan perang negara-negara Sekutu.

AS, Inggris, dan Uni Soviet atau biasa disebut "Big Three" merancang struktur dan fungsi PBB.

Baca juga: PBB: Lebih dari 130 Negara Belum Mendapatkan Vaksin Covid-19

Proses berdirinya PBB

Para pemimpin negara Big Three pendiri PBB (dari kiri ke kanan): Perdana Menteri Inggris WInston Churchill, Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt, dan Pemimpin Uni Soviet Josef Stalin dalam Konferensi Yalta yang digelar pada Februari 1945. National Archives and Records Administration Para pemimpin negara Big Three pendiri PBB (dari kiri ke kanan): Perdana Menteri Inggris WInston Churchill, Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt, dan Pemimpin Uni Soviet Josef Stalin dalam Konferensi Yalta yang digelar pada Februari 1945.

Perumusan berdirinya PBB mulai berlangsung pada 21 Agustus sampai 7 Oktober 1944.

Dalam Konferensi Dumbarton Oaks di Washington DC, para diplomat tiga negara (AS, Inggris, Uni Soviet) bertemu dengan diplomat China.

Negara empat besar atau "Big Four" ini merumuskan tujuan, struktur, dan fungsi PBB.

Kemudian pada Konferensi Yalta, pertemuan Big Three di Krimea pada Februari 1945 melahirkan dasar PBB.

Baca juga: Sejarah Hari Museum Nasional dan Perkembangan Permuseuman Indonesia

Pada pertemuan tersebut, Roosevelt, Churchill, dan pemimpin Uni Soviet, Josef Stalin menyapakati sistem pemungutan suara dalam PBB.

Mereka juga menyepakati bahwa PBB akan meneruskan kerja dan mandat LBB.

Pada 25 April 1945, perwakilan dari 50 negara hadir dalam Konferensi PBB tentang Organisasi Internasional di San Francisco.

Mereka yang mengirim perwakilan yakni sembilan negara dari Eropa, 21 dari Amerika, tujuh dari Timur Tengah, dua dari Asia Timur, tiga dari Afrika, dan masing-masing satu dari Ukraina dan Belarusia.

Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Nama Yogyakarta

Kemudian ada lima dari negara-negara persemakmuran Inggris. Adapun Polandia yang tak mengirim perwakilan, tetap diikutkan sebagai anggota PBB.

Perwakilan negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berdikusi soal masalah dunia dan peran PBB. Utamanya soal politik, ekonomi, dan kesejahteraan sosial.

Mereka juga membahas soal status koloni dan negara jajahan. Begitu juga pertahanan dan dominasi negara-negara adikuasa, dan kesetaraan.

Hal-hal ini dituangkan dalam Piagam PBB yang ditandatangani pada 26 Juni 1945 dan diumumkan pada 24 Oktober 1945.

Baca juga: Sejarah Hari Dokter Nasional 24 Oktober

Piagam PBB

Penandatanganan Piagam PBB di San Francisco, 26 Juni 1945.United Nations Penandatanganan Piagam PBB di San Francisco, 26 Juni 1945.

Pembukaan dari Piagam PBB menyebut tujuan PBB untuk:

  • Menyelamatkan generasi mendatang dari bencana perang
  • Menegaskan keyakinan akan hak asasi manusia
  • Membangun kondisi di mana keadilan dan kehormatan atas kewajiban yang timbul dari perjanjian dan hukum internasional dapat dipertahankan
  • Meningkatkan kesejahteraan sosial dan standar hidup yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih luas

PBB saat ini

Mengutip Kompas.com, 24 Oktober 2020, PBB saat ini dipimpin Antonio Guterres, yang merupakan Sekretaris Jenderal ke-9 PBB.

Ia mulai menjabat pada 1 Januari 2017.

Sementara itu bagian utama dari struktur PBB adalah Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan Sosial, Dewan Perwalian, Mahkamah Internasional, dan Sekretariat PBB.

Baca juga: Sejarah Instagram dan Cerita Awal Peluncurannya...

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres berbicara di depan parlemen Jerman dalam pidatonya untuk menandai 75 tahun sejak berdirinya PBB, pada Jumat (18/12/2020).AFP PHOTO/MICHAEL SOHN Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres berbicara di depan parlemen Jerman dalam pidatonya untuk menandai 75 tahun sejak berdirinya PBB, pada Jumat (18/12/2020).

Saat ini total negara anggota yang tergabung dalam PBB adalah 193 negara, termasuk Indonesia yang bergabung pada 28 September 1950.

Indonesia sempat mundur dari keanggotaan, yaitu pada 20 Januari 1965, namun kembali bergabung pada 19 September 1966.

Pada 28 September 1966, Sidang Umum mencatat keputusan ini dan Presiden mengundang perwakilan Indonesia untuk duduk di Majelis.

PBB memiliki kantor besar di Kota New York, dan juga memiliki kantor regional di Jenewa, Wina, dan Nairobi.

Bahasa resmi yang digunakan PBB adalah Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia, dan Spanyol.

Baca juga: Sejarah Peristiwa G30S/PKI

 

(Sumber: Kompas.com/Nur Fitriatus Shalihah | Editor: Jihad Akbar, Nibras Nada Nailufar)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

BMKG: Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 31 Mei-1 Juni 2024

BMKG: Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir 31 Mei-1 Juni 2024

Tren
[POPULER TREN] Bayi Tertabrak Fortuner, Orangtua Bisa Dipidana? | Mahasiswa UM Palembang Diduga Plagiat Skripsi Lulusan Unsri

[POPULER TREN] Bayi Tertabrak Fortuner, Orangtua Bisa Dipidana? | Mahasiswa UM Palembang Diduga Plagiat Skripsi Lulusan Unsri

Tren
Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Parlemen Israel Loloskan RUU yang Menyatakan UNRWA sebagai Organisasi Teroris

Tren
Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Apakah Haji Tanpa Visa Resmi Hukumnya Sah? Simak Penjelasan PBNU

Tren
Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Satu Orang Meninggal Dunia Usai Tersedot Turbin Pesawat di Bandara Amsterdam

Tren
Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Pria Jepang yang Habiskan Rp 213 Juta demi Jadi Anjing, Kini Ingin Jadi Hewan Berkaki Empat Lain

Tren
9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

9 Orang yang Tak Disarankan Minum Teh Bunga Telang, Siapa Saja?

Tren
MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

MA Ubah Syarat Usia Calon Kepala Daerah, Diputuskan 3 Hari, Picu Spekulasi Jalan Mulus bagi Kaesang

Tren
Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Disebut Bakal Maju Pilkada Jakarta 2024

Tren
Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tapera dan Kekhawatiran Akan Korupsi Asabri-Jiwasraya Jilid 2

Tren
Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Sarkofagus Ramses II Ditemukan berkat Hieroglif dengan Lambang Nama Firaun

Tren
Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Kapan Pengumuman Tes Online Tahap 2 Rekrutmen Bersama BUMN 2024?

Tren
Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Saat Korea Utara Terbangkan Balon Udara Berisi Sampah dan Kotoran ke Wilayah Korsel...

Tren
China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun

Tren
Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Kandungan dan Kegunaan Susu Evaporasi, Kenali Pula Efek Sampingnya!

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com