Kpop, antara Hiburan dan Imperialisme Budaya

Kompas.com - 29/03/2021, 09:36 WIB
Patung di Nami Island, Korea Selatan, dari adegan dan lokasi pembuatan drama Korea Winter Sonata. Gambar diambil pada 25 Oktober 2015. SHUTTERSTOCK/GUITAR PHOTOGRAPHERPatung di Nami Island, Korea Selatan, dari adegan dan lokasi pembuatan drama Korea Winter Sonata. Gambar diambil pada 25 Oktober 2015.

PRODUK hiburan Korea Selatan semakin digandrungi masyarakat Indonesia, mulai dari film, musik Kpop hingga drama Korea, atau yang sering disebut sebagai Drakor.

The World of the Married, Crash Landing on You, Itaewon Class, serta It’s OK to Not Be OK adalah beberapa dari sederet judul drama Korea yang paling banyak ditonton sepanjang tahun 2020 (Kompas, 31/12/2020).

Di tahun 2021, sejumlah judul Drakor seperti The Penthouse 2, Vincenzo, River and the Moon Rises serta beberapa judul lainnya sempat menjadi trending topic di beberapa platform media sosial, khususnya di twitter.

Popularitas Drakor di Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi, terutama di kalangan generasi milenial dan kelompok ibu rumah tangga dengan demografi penonton rentang usia 20 hingg 49 tahun.

Alasannya sederhana, selain suguhan cerita romantis yang diperankan aktor tampan dan aktris cantik, episode Drakor bisa dibilang tidak terlalu panjang sehingga membuat penonton tidak merasa bosan dan terpuaskan.

Selain itu, umumnya ceritanya juga sederhana dan dekat dengan keseharian, misalnya kisah seorang pria tampan yang memperjuangkan cintanya dengan perempuan miskin dibungkus dengan sentuhan cerita yang romantis, memilukan, dan kebanyakan berakhir bahagia.

Selain itu, peran platfom media sosial serta tayangan digital resmi seperti Netflix, Iflix, Vidio, Viki, juga memudahkan khalayak untuk mengakses dan menikmati drama Korea.

Gelombang Korea (Korean wave) di negara-negara Asia

Yang (2012) dalam The Korean Wave (Hallyu) in East Asia: A Comparison of Chinese, Japanese, and Taiwanese Audiences Who watch Korean TV Dramas mengatakan bahwa produk budaya populer Korea menyebar ke beberapa negara-negara Asia seperti China, Hongkong, Taiwan, Singapura, Vietnam, Malaysia, hingga Indonesia sejak pertengahan 1990an.

Ada tiga produk hiburan unggulan yang menjadi komoditas industri hiburan Korea Selatan yaitu film, drama televisi (Kdrama), dan musik pop (Kpop). Di antara ketiganya, drama televisi yang paling laris dan banyak digemari oleh masyarakat di Asia.

Dari situ, muncullah istilah Hallyu atau Korean wave (gelombang Korea) yang merujuk pada popularitas produk budaya populer Korea Selatan sebagai kekuatan besar di banyak negara Asia, mulai dari film, drama, musik, iklan, makanan, produk kecantikan, hingga fashion.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X