Kompas.com - 27/03/2021, 10:15 WIB
Ilustrasi suhu panas ShutterstockIlustrasi suhu panas
Penulis Mela Arnani
|

Apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi musim kemarau tahun ini diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 182 ZOM (53,2 persen).

"Musim kemarau pada tahun 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya. Artinya, musim kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstreem, seperti musim kemarau tahun 2015 dan 2019," tutur Herizal.

Sejumlah 119 ZOM atau sebanyak 34,8 persen akan mengalami kondisi kemarau atas normal atau musim kemarau yang lebih basah, yaitu curah hujan musim kemarau lebih tinggi dari rerata klimatologis) dan 41 ZOM atau 12,0 persen akan mengalami bawah normal (musim kemarau lebih kering) atau curah hujan lebih rendah dari reratanya.

Menghadapi musim kemarau yang akan segera datang, masyarakat diimbau untuk mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal dibanding wilayah lainnya, seperti di sebagian wilayah Sumatera bagian utara, sebagian kecil Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi.

Peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini juga perlu ditingkatkan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya, seperti daerah Aceh bagian tengah, sebagian Sumatera Utara, Riau bagian utara, Sumatera Barat bagian timur, Jambi bagian barat dan timur, Bengkulu bagian utara, Jawa Barat bagian tengah, sebagian Jawa Timur, sebagian Bali, dan Sulawesi Selatan bagian selatan.

Baca juga: Hujan di Saat Musim Kemarau, Mengapa Bisa Terjadi?

Puncak musim kemarau

Perlu diketahui, puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan demikian, semua pihak baik pemerintah dan masyarakat diharapkan untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, serta rawan terjadi kekurangan air bersih.

Memasuki masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, dapat dilakukan pengoptimalan penyimpanan air untuk memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya di masyarakat melalui gerakan memanen air hujan.

Baca juga: Banjir Semarang Disebut karena Hujan Ekstrem, Ahli: Kurang Tepat

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X