Kompas.com - 14/02/2021, 16:57 WIB

KOMPAS.com - Unggahan soal gaji Rp 250 juta per bulan sedang ramai jadi perbincangan warganet. Beberapa bertanya mengenai pekerjaan atau profesi apa yang dapat mendapatkan penghasilan seperempat miliar itu?

Ramai soal gaji Rp 250 juta bermula dari pertanyaan Jenny Jusuf melalui akun Twitter @JennyJusuf, mengenai pengasilan minimal calon pasangan.

Hal itu ditanggapi akun Andrea Gunawan (@catwomanizer) yang kemudian menyebut angka Rp 250 juta. 

Baca juga: Ramai Gaji Karawang di Twitter, Ada Apa?

Sampai pada Minggu (14/2/2021) pukul 14.00, pertanyaan tersebut mendapat 244 balasan. Salah satunya seperti jawaban Andrea Gunawan, melalui akun Twitter @catwomanizer.

Balasan Andrea Gunawan mengenai minimal penghasilan Rp 250 juta per bulan pun ramai diperbincangkan. Beberapa ada yang bertanya mengenai pekerjaan macam apa dengan gaji sejumlah itu.

Pertanyaan mengenai pekerjaan, salah satunya seperti disampaikan oleh akun Twitter @pyzzapuzzyn.

Pekerjaan gaji Rp 250 juta

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, menerangkan bahwa memang ada beberapa pekerjaan dengan penghasilan hingga Rp 250 juta per bulan

Baca juga: Disebut Setara PNS, Berapa Gaji PPPK?

Bima menyebutkan, pekerjaan di sektor IT hingga pengacara bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 250 juta. Berikut ini di antaranya: 

  1. Pengacara,
  2. Pekerja di sektor IT,
  3. Ahli artificial intelegent,
  4. Data scientist,
  5. Developer program,
  6. Digital marketing,
  7. Bisnis properti skala besar.

"Kebanyakan memang gajinya besar ya lawyer itu ya," katanya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/2/2021).

Sementara untuk bidang pekerjaan seperti influencer dan content creator, Bhima menjelaskan memang bisa mencapai penghasilan sebanyak itu, tetapi hanya segelintir orang.

"Bisa juga, tapi jumlahnya hanya sedikit orang lah yang kayak gitu," tambahnya.

Kesenjangan

Ramainya soal pembahasan gaji Rp 250 juta per bulan di antaranya karena nominal tersebut dinilai cukup besar, terutama apabila dibandingkan dengan upah minimum regional (UMR) atau upah minimum provinsi (UMP) di Indonesia. 

Sebagai gambaran, UMP tertinggi di Indonesia diberikan kepada pekerja di DKI Jakarta yaitu  Rp 4.416.186. 

Sedangkan UMP terendah di Indonesia diterima buruh di Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar Rp 1.765.000 per bulan. 

Baca juga: Daftar Lengkap UMP 2021 di 34 Provinsi Indonesia: DKI Jakarta Tertinggi, DIY Terendah

Disparitas semacam ini, menurut Bhima, salah satu penyebabnya karena adanya kesenjangan di bidang akses pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

"Faktornya adalah masalah pendidikan yang paling dasar, karena keterbatasan fasilitas pendidikan," ujar Bhima.

Akses pendidikan

Ia mencontohkan profesi seperti pengacara dan ahli IT, menuntut seseorang mendapatkan pendidikan yang memadai. Begitu juga dengan content creator.

"Itu juga memiliki modal besar untuk mengikuti trending-trending digital. Mereka juga punya alat, tekait dengan latihan, training. Jadi misal videographer, content creator, mereka bisa beli software dengan harga yang mahal misalnya. Untuk latihan sedari muda, sedari dini," jelas Bhima.

Baca juga: Tolong Kami, Bayarkan Gaji Covid-19 Kami

Terkait dengan kesehatan, Bhima memberi contoh bahwa orang dengan kondisi ekonomi rendah, hartanya akan habis seketika saat sakit parah. Sementara, orang kaya akan dapat mengandalkan asuransi.

"Sekali sakit bisa menjual rumah atau habis hartanya. Sementara orang kaya berlindung dengan asuransi, sehingga mereka bisa berkreatifitas lebih karena masalah kesehatan kira-kira sudah ditangani dengan baik. Mereka punya ruang lebih untuk mencoba hal baru dan berkreatifitas," terang Bhima.

Privilege

Lebih lanjut, mengenai penghasilan Rp 250 juta, Bhima juga menjelaskan adanya pengaruh privilege atau hak istimewa.

"Kira-kira kalau anaknya orang kaya, bisa dapat privilege lebih untuk bayaran mahal dibandingkan lingkungan dari keluarga miskin. Jadi start-nya aja udah beda," kata Bhima.

Lingkungan seseorang berpengaruh besar pada jangkauan pekerjaan dan penghasilan. Bhima berpendapat, orang yang lahir dari keluarga kaya cenderung lebih mudah melihat peluang.

"Kalau kita lihat influencer-influencer juga salah satunya lahir dari keluarga artis, lahir dari keluarga orang kaya. Sehingga mereka lebih gampang melihat peluang ke depannya, terkait dengan perubahan," ujar Bhima.

Baca juga: Semenit Messi di Barcelona Setara Gaji 1 Bulan Buruh di Jakarta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.