Kompas.com - 29/01/2021, 18:31 WIB
Tampilan meterai Rp 10.000. Direktorat Jenderal Pajak (DJP)Tampilan meterai Rp 10.000.

KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan akhirnya merilis tampilan baru meterai tempel Rp 10.000.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Kementerian Keuangan Hestu Yoga Saksama menjelaskan, meterai tempel Rp 10.000 ini sudah bisa didapatkan masyarakat di kantor PT Pos seluruh Indonesia.

Dia menambahkan, meterai Rp 10.000 ini juga mengeliminasi kehadiran meterai Rp 3.000 dan meterai Rp 6.000.

"Meterai tempel baru ini memiliki ciri umum dan ciri khusus yang perlu diketahui oleh masyarakat," kata Hestu dalam keterangan resminya yang dikutip, Jumat (29/1/2021).

Baca juga: Bakal Jadi Rp 10.000, Apa Saja Kegunaan Meterai?

Ciri umum dan khusus

Adapun ciri umum tersebut di antaranya terdapat gambar lambang negara Garuda Pancasila, angka 10.000 dan tulisan 'SEPULUH RIBU RUPIAH' yang menunjukkan tarif bea meterai.

Kemudian, tertera pula teks mikro modulasi 'INDONESIA', blok ornamen khas Indonesia, dan seterusnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan ciri khususnya adalah warna meterai didominasi merah muda, serat berwarna merah dan kuning yang tampak pada kertas.

Baca juga: RUU Bea Meterai Disetujui DPR, Bakal Ada Meterai Elektronik

Lalu, garis hologram sekuriti berbentuk persegi panjang yang memuat gambar lambang negara Garuda Pancasila, gambar bintang, logo Kementerian Keuangan, serta tulisan 'djp' dan sebagainya.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa desain meterai Rp 10.000 baru mengusung tema Ornamen Nusantara.

Tema ini dipilih untuk mewakili semangat menularkan rasa bangga atas kekayaan yang dimiliki Indonesia dan semangat nasionalisme.

Baca juga: Ramai soal Uang Rp 15 Juta Hancur Dimakan Rayap, Apa Syarat Penukaran Uang Rusak?

Desain Baru Materai Rp 10.000Dokumentasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Desain Baru Materai Rp 10.000

Materai Rp 3.000 dan Rp 9.000 masih bisa digunakan?

Terkait stok meterai tempel edisi 2014 yang masih tersisa, kata Hestu, masyarakat masih dapat menggunakannya sampai dengan 31 Desember 2021 dengan nilai paling sedikit Rp 9.000.

Caranya dengan membubuhkan tiga meterai masing-masing senilai Rp 3.000, dua meterai masing-masing Rp 6.000, atau meterai Rp 3.000 dan Rp 6.000 pada dokumen.

"DJP mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada akan meterai tempel palsu dan meterai tempel bekas pakai (rekondisi)," kata dia.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: BI Terbitkan Uang Rp 100.000 Kertas Pertama

Hestu menjabarkan, masyarakat diimbau untuk meneliti kualitas dan memperoleh meterai Rp 10.000 dari penjual yang terpercaya.

Ketentuan dan pengaturan lebih lengkap dapat dilihat pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 4/PMK.03/2021.

Untuk mendapatkan salinan peraturan ini dan peraturan lain dapat mengunjungi www.pajak.go.id.

Baca juga: [KLARIFIKASI] Tarif Bea Meterai Naik karena Rupiah Tidak Tembus Rp 10.000

Tampilan meterai Rp 10.000.Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Tampilan meterai Rp 10.000.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Viral Mobil Keluarkan Asap Putih Pekat Disebut sebagai Diesel Runaway, Apa Itu?

Video Viral Mobil Keluarkan Asap Putih Pekat Disebut sebagai Diesel Runaway, Apa Itu?

Tren
Benarkah Baja Ringan Bisa Hantarkan Arus Listrik?

Benarkah Baja Ringan Bisa Hantarkan Arus Listrik?

Tren
Jelang Pendaftaran CPNS 2021, Formasi Nakes Ini Wajib Punya STR Aktif, Apa Saja?

Jelang Pendaftaran CPNS 2021, Formasi Nakes Ini Wajib Punya STR Aktif, Apa Saja?

Tren
Dua Juta Kasus Covid-19 dan Kontribusi Minimal yang Bisa Kita Lakukan

Dua Juta Kasus Covid-19 dan Kontribusi Minimal yang Bisa Kita Lakukan

Tren
Covid-19 Tembus 2 Juta, Ini Langkah Pemerintah dan Pentingnya Peran Masyarakat

Covid-19 Tembus 2 Juta, Ini Langkah Pemerintah dan Pentingnya Peran Masyarakat

Tren
Update Corona Global 22 Juni 2021: Kasus Covid-19 di Indonesia Tembus 2 Juta | Ancaman Duterte Penjarakan Warga Filipina yang Menolak Vaksinasi

Update Corona Global 22 Juni 2021: Kasus Covid-19 di Indonesia Tembus 2 Juta | Ancaman Duterte Penjarakan Warga Filipina yang Menolak Vaksinasi

Tren
Persiapan Seleksi CPNS 2021, Pelajari Materi SKD dan SKB Ini

Persiapan Seleksi CPNS 2021, Pelajari Materi SKD dan SKB Ini

Tren
Tembus 2 Juta Kasus, Berikut Provinsi dengan Kasus Covid-19 Tertinggi di Indonesia

Tembus 2 Juta Kasus, Berikut Provinsi dengan Kasus Covid-19 Tertinggi di Indonesia

Tren
Penebalan PPKM Mikro: Gelar Hajatan Tidak Ada Hidangan Makan di Tempat

Penebalan PPKM Mikro: Gelar Hajatan Tidak Ada Hidangan Makan di Tempat

Tren
Kenapa Jakarta dan Depok Terasa Dingin? Ini Penjelasan BMKG

Kenapa Jakarta dan Depok Terasa Dingin? Ini Penjelasan BMKG

Tren
Ramai Ibu Hamil Perlu Tes Covid-19 Rutin, Ini Kata Dokter

Ramai Ibu Hamil Perlu Tes Covid-19 Rutin, Ini Kata Dokter

Tren
[POPULER TREN] Alasan Permintaan Penghentian Penggunaan Tes GeNose | Alarm Tubuh yang Menandakan Anda Kebanyakan Zat Gula

[POPULER TREN] Alasan Permintaan Penghentian Penggunaan Tes GeNose | Alarm Tubuh yang Menandakan Anda Kebanyakan Zat Gula

Tren
Ramai soal Uang Rp 1,5 Juta Tiba-tiba Masuk Rekening dari Pinjol, Ini Kata OJK

Ramai soal Uang Rp 1,5 Juta Tiba-tiba Masuk Rekening dari Pinjol, Ini Kata OJK

Tren
5 Langkah Memanjangkan Rambut dengan Cepat

5 Langkah Memanjangkan Rambut dengan Cepat

Tren
Kasus Tembus 2 Juta, Ini 7 Cara Mencegah Tertular Corona Varian Delta

Kasus Tembus 2 Juta, Ini 7 Cara Mencegah Tertular Corona Varian Delta

Tren
komentar
Close Ads X