Melihat Bagaimana Korea Selatan Bisa Mengatasi Virus Corona

Kompas.com - 28/09/2020, 21:09 WIB
Seorang petugas medis membawa kipas angin portable untuk menyejukkan diri di tengah panasnya cuaca, saat melakukan tes Covid-19 ke para polisi di Kantor Polisi Metropolitan Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (19/8/2020). AP/AHN YOUNG-JOONSeorang petugas medis membawa kipas angin portable untuk menyejukkan diri di tengah panasnya cuaca, saat melakukan tes Covid-19 ke para polisi di Kantor Polisi Metropolitan Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (19/8/2020).

KOMPAS.com – Cara Korea Selatan mengatasi pandemi virus corona Covid-19 banyak menjadi sorotan.

Negara itu kini seolah telah menemukan cara mengenai mengatasi masalah virus yang telah menginfeksi lebih dari 33 juta penduduk dunia tersebut. 

Mengutip dari The Wall Street Journal, solusinya adalah cara yang lugas, fleksibel dan relatif mudah untuk diaplikasikan.

Korea Selatan kini hanya memiliki 77 kasus infeksi harian Covid-19. Padahal negara tersebut sempat mengalami awal pandemi di waktu yang hampir bersamaan dengan AS.

AS saat ini memiliki sekitar 490 kasus harian.

Baca juga: Hari Hak untuk Tahu, Bagaimana Sejarah dan Penerapan di Indonesia?

Mengendalikan penularan virus

Korea Selatan disebut-sebut bisa menghentikan penularan virus lebih baik dibandingkan negara kaya lainnya. Kemampuannya sekitar dua kali lebih efektif daripada AS dan Inggris.

Menurut laporan baru-baru ini dari jaringan penelitian yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, ekonomi Korea Selatan diperkirakan bahkan akan turun hanya 0,8 persen pada tahun ini.

Ini adalah penurunan terbaik jika dibandingkan perkiraan negara lain.

Adapun kunci kesuksesan Korea Selatan sendiri berasal dari pencampuran antara teknologi dan pengujian yang berbeda dengan negara lain, kontrol dan komunikasi terpusat.

Ibu Kota Korea Selatan Seoul sejak 24 April 2020 tidak pernah lagi memerintahkan adanya penguncian.

Negara tersebut mempercepat persetujuan alat uji domestik segera setelah kasus mulai merebak. Selain itu, hampir semua orang di Korsel juga mulai rajin mengenakan masker.

Negara ini juga memanfaatkan kemampuan hiperkonektivitasnya untuk melakukan penerusan pesan kepada warga ketika ada infeksi di daerah mereka.

Saat ada pengarahan dua kali sehari pejabat kesehatan mengungkapkan kekhawatirannya saat mereka hanya dapat melacak asal dari tiga perempat kasus yang dikonfirmasi.

Baca juga: Sempat Dibuka, Ratusan Sekolah di Korea Selatan Kembali Ditutup, Ini Penyebabnya...

Isolasi

Selain itu setiap pasien yang dikonfirmasi, tak memiliki gejala atau gejala ringan akan diisolasi di rumah sakit yang disediakan pemerintah.

Saat ini restoran dan bisnis di negara itu juga tetap hidup.

“Tidak ada negara yang beradaptasi untuk hidup dengan, dan mengandung, virus seperti Korea Selatan,” kata Dale Fisher, ketua jaringan siaga dan respons wabah global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Anda tidak perlu atau ingin memberantas virus. Tapi Anda mengubah perilaku Anda dan melanjutkan hidup," ujarnya tentang Korsel.

Warga patuh

Sementara itu yang membuat Korsel unggul dalam mengatasi virus, di antaranya pedoman terkait virus di Korea Selatan dipatuhi oleh masyarakat.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di masyarakat barat.

Perbedaan lain, pejabat kesehatan diberikan izin untuk mengakses hingga secara tak terbatas ke data seluler pribadi.

Serta sejak awal situs web pemerintah berbagi mengenai pasien yang dikonfirmasi berdasarkan GPS ponsel.

Pengungkapan sendiri tak menyertai nama individu. Akan tetapi hanya detil meliputi jenis kelamin, usia, dan dan tempat kerja yang dapat mengidentifikasi pasien.

Baca juga: Setelah Dua Bulan, Kasus Baru Covid-19 di Korea Selatan Turun Drastis

Korea Selatan sempat menjadi negara dengan kasus terbesar di luar China. Hal tersebut disampaikan saat sebuah cluster muncul di Daegu.

“Kami berada di garis depan,” kata Kwon Jun-wook, wakil direktur Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan.

“Dulu, kami memperlakukan peraturan dari Organisasi Kesehatan Dunia dan AS sebagai Alkitab. Tapi saya harus meminta maaf kepada warga kami karena sudah waktunya bagi kami untuk membuat peraturan kami sendiri berdasarkan bukti kami sendiri,” lanjutnya.

Kini infeksi di negara itu tetap rendah.

Saat kasus meningkat kembali pada Agustus negara ini diuji lagi. Hasilnya pada 27 Agustus hasil menunjukkan 441 orang positif


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X