Alasan Mengapa Harus Tidak Mudik Saat Pandemi Covid-19

Kompas.com - 24/04/2020, 09:18 WIB
Suasana sejumlah bus berbagai jurusan yang berhenti di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/4/2020). Pemerintah Indonesia resmi mengeluarkan kebijakan larangan mudik Lebaran 2020 bagi masyarakat di tengah masa Pandemi guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19 yang akan berlaku ekfektif mulai Jumat 24 April 2020. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hp. ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBISuasana sejumlah bus berbagai jurusan yang berhenti di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/4/2020). Pemerintah Indonesia resmi mengeluarkan kebijakan larangan mudik Lebaran 2020 bagi masyarakat di tengah masa Pandemi guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19 yang akan berlaku ekfektif mulai Jumat 24 April 2020. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hp.


PRESIDEN Joko Widodo telah mengumumkan larangan mudik untuk semua warga negara setelah sebelumnya bersifat imbauan saja.

Hal ini penting mengingat saat ini telah memasuki bulan suci Ramadhan yang dari tahun ke tahun diwarnai arus mudik yang tinggi. Larangan ini tidak lain demi mencegah penyebaran Covid-19.

Keputusan ini patut diapresiasi mengingat bahaya yang akan timbul bila mudik tetap berjalan. Larangan ini sebenarnya selaras dengan berbagai imbauan, arahan, dan keputusan yang sudah tersebar secara masif untuk tetap tinggal di rumah.

Keputusan ini sangat dibutuhkan dalam rangka penguatan arahan tetap tinggal di rumah, belajar di rumah, bekerja dari rumah, beribadah di rumah, menjaga jarak, dan tidak berkerumun.

Sebelumnya, pelarangan ini hanya untuk ASN, pegawai BUMN, dan personel TNI-Polri.

Mobilisasi vs imobilisasi

Mudik berarti kegiatan perantau atau pekerja migran kembali ke kampung halamannya (udik). Kata “mudik” juga singkatan dari mulih dhilik yang artinya adalah pulang sebentar. Jadi, mudik berarti berpindahnya seseorang dari kota untuk pulang ke desa.

Kegiatan ini jelas berlawanan dengan semangat merumahkan orang di tempatnya masing-masing sesuai dengan domisili saat ini.

Merumahkan kegiatan belajar dan bekerja berarti merumahkan di tempat domisili saat ini, bukan merumahkan di tempat asal atau di kampung halaman.

Dalam konteks pandemi, keduanya berlawanan karena makna merumahkan sesuai domisili adalah imobilisasi sementara makna kedua adalah mobilisasi keluar domisili.

Kontradiksi ini terkait dengan risiko penularan. Imobilisasi menekan penularan sementara mobilisasi meningkatkan risiko penularan.

Petugas kesehatan tengah mengecek suhu tubuh pengendara yang masuk ke Kota Bandung melalui jalur Jalan Dr Djunjunan (Jalan Pasteur) dengan menggunakan scan thermal, Rabu (22/4/2020). Pengecekan yang dilakukan di pos check point Jalan Pasteur ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona (covid-19) di Bandung Raya selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).KOMPAS.com/AGIE PERMADI Petugas kesehatan tengah mengecek suhu tubuh pengendara yang masuk ke Kota Bandung melalui jalur Jalan Dr Djunjunan (Jalan Pasteur) dengan menggunakan scan thermal, Rabu (22/4/2020). Pengecekan yang dilakukan di pos check point Jalan Pasteur ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona (covid-19) di Bandung Raya selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dengan imobilisasi, orang tidak berpindah dari tempat domisili. Ini mengurangi kontak antar manusia sehingga risiko saling menularkan bisa minimal. Seandainya tertular pun dapat ditelusuri rantai penularannya.

Di lain pihak, mobilisasi meningkatkan peluang kontak antar manusia karena interaksinya di area publik misal terminal, stasiun, dan bandara serta dalam kendaraan.

Kondisi ini memungkinkan penularan dari orang sakit dengan maupun tanpa gejala. Penularan dari sini sulit ditelusuri. Belum lagi risiko menjadi penular di desanya.

Penyakit impor karena mobilitas orang

Seperti diketahui bahwa Covid-19 ini adalah penyakit impor yang diawali dengan kontak dan mobilitas manusia yang datang dan pergi dari dan ke luar negeri.

Jadi asalnya adalah karena adanya mobilitas global/ internasional yang masuk kategori masyarakat menengah ke atas dan mengenai masyarakat terutama di kota besar. Dalam proses perjalanannya Covid-19 ini relatif dapat ditelusuri untuk melacak rantai penularan.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Palang Merah Internasional dan 4 Fakta Menarik di Belakangnya

Hari Palang Merah Internasional dan 4 Fakta Menarik di Belakangnya

Tren
Persiapan Gelombang 17 Prakerja, Simak Tips Berikut agar Lolos

Persiapan Gelombang 17 Prakerja, Simak Tips Berikut agar Lolos

Tren
Kisah Orang-orang Beruntung, Temukan Uang dan Emas di Sofa Buangan hingga Mutiara di Makanan

Kisah Orang-orang Beruntung, Temukan Uang dan Emas di Sofa Buangan hingga Mutiara di Makanan

Tren
Hari Ini dalam Sejarah: Tragedi Gejayan dan Gugurnya Mahasiswa Mozes Gatotkaca

Hari Ini dalam Sejarah: Tragedi Gejayan dan Gugurnya Mahasiswa Mozes Gatotkaca

Tren
Mengintip Spesifikasi Tiga Kapal China yang Bantu Angkat Bangkai KRI Nanggala-402

Mengintip Spesifikasi Tiga Kapal China yang Bantu Angkat Bangkai KRI Nanggala-402

Tren
Cara Mudah Cek Penerima Bansos 2021 yang Cair Awal Mei

Cara Mudah Cek Penerima Bansos 2021 yang Cair Awal Mei

Tren
Video Viral Anak Tak Sengaja Bertemu Ayahnya Saat Mudik, Bagaimana Ceritanya?

Video Viral Anak Tak Sengaja Bertemu Ayahnya Saat Mudik, Bagaimana Ceritanya?

Tren
[HOAKS] TNI Turunkan Tank Baja untuk Penyekatan Mudik di Bekasi-Bogor

[HOAKS] TNI Turunkan Tank Baja untuk Penyekatan Mudik di Bekasi-Bogor

Tren
Update Corona Global: Covid-19 India Menyebar ke Pelosok | Jepang Perpanjang Masa Darurat

Update Corona Global: Covid-19 India Menyebar ke Pelosok | Jepang Perpanjang Masa Darurat

Tren
Berita Hangat Pekan Ini soal Isu Babi Ngepet, Dikomentari Ilmuwan hingga Penyebarnya Diusir

Berita Hangat Pekan Ini soal Isu Babi Ngepet, Dikomentari Ilmuwan hingga Penyebarnya Diusir

Tren
1,5 Juta Kasus Covid-19 Sepekan, India Diminta Lock Down

1,5 Juta Kasus Covid-19 Sepekan, India Diminta Lock Down

Tren
Mudik Lokal Dilarang, Ini Pengaturan Transportasi di Wilayah Aglomerasi

Mudik Lokal Dilarang, Ini Pengaturan Transportasi di Wilayah Aglomerasi

Tren
Foto Nani Pengirim Sate Beracun Pakai Daster Viral, Polisi Ditegur

Foto Nani Pengirim Sate Beracun Pakai Daster Viral, Polisi Ditegur

Tren
5 Bantahan Telak Iwa Kartiwa atas Cerita Anton Charliyan soal KRI Nanggala-402

5 Bantahan Telak Iwa Kartiwa atas Cerita Anton Charliyan soal KRI Nanggala-402

Tren
Rincian Peraturan Larangan Mudik 2021 dan Sanksinya yang Dimulai 6 Mei

Rincian Peraturan Larangan Mudik 2021 dan Sanksinya yang Dimulai 6 Mei

Tren
komentar
Close Ads X