Wabah Penyakit Menular Terjadi Setiap 100 Tahun

Kompas.com - 24/03/2020, 12:44 WIB
Barak yang diperuntukkan penderita flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, 1918. Otis Historical Archives, National Museum of Health and MedicineBarak yang diperuntukkan penderita flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, 1918.

 

Wabah Flu merupakan wabah yang paling mematikan dalam sejarah peradaban umat manusia.

Beberapa analisis telah menengarai virus flu H1N1 sangat mematikan karena memicu angkara murka sitokin yang merusak sistem kekebalan tubuh.

Ditambah kondisi malnutrisi serta rumah sakit yang penuh sesak serta kebersihan yang buruk menggairahkan bakteri ini semakin cepat menyebar.

Wabah Corona

Tidak perlu dijelaskan mengenai Wabah Corona sebab umat manusia di segenap pelosok planet Bumi termasuk Indonesia kini sedang merasakan betapa dahsyat dampak wabah penyakit menular terhadap masyarakat dunia termasuk di negara-negara yang dianggap dan menganggap dirinya sebagai paling adidaya bahkan adikuasa di marcapada abad XXI.

Wabah Corona diduga berawal dari Wuhan di daratan Republik Rakyat China sementara Amerika Serikat yang semula merasa kebal Wabah Corona terbukti kemudian kewalahan juga.

Dalam memangsa manusia, virus Corona tidak pandang bulu dan tidak kenal kelas sosial. Mulai dari rakyat jelata termasuk diri saya sendiri sebagai penulis naskah ini sampai para mahakayarawan, para menteri dan para kepala negara yang paling berkuasa pun potensial terjangkit wabah Corona.

Ojo dumeh

Adalah Mahaguru Patriotisme saya, Haryono Kartohadiprojo yang menyadarkan saya bahwa keempat wabah mengerikan itu merajalela dalam siklus 100 tahun yaitu 1720, 1820, 1920 dan 2020.

Berbagai pihak kreatif memunculkan beraneka ragam tafsir, teori, kesimpulan, hipotesis, vonis bahkan fitnah dan hoaks.

Sebagai seorang insan awam jelata yang sedang berupaya mempelajari makna kemanusiaan di kehidupan umat manusia, saya pribadi merasakan makna spiritual di balik tirai mengerikan wabah penyakit menular.

Wabah Corona menyadarkan diri saya sendiri bahwa pada hakikatnya diri saya hanya sesosok makhluk hidup yang lemah daya, lemah jiwa dan lemah raga jauh dari kesempurnaan.

Maka sama sekali tidak ada alasan bagi diri saya untuk merasa takabur sehingga bersikap dumeh atau sombong.

Demikian pula, mereka yang sedang bertakhta di singgasana kekuasaan, Insya Allah tersadarkan oleh wabah Corona bahwa sebenarnya kekuasaan mereka diperoleh dari rakyat maka jangan mengkhianati kepentingan rakyat terutama rakyat yang papa dan miskin. Di atas langit masih ada langit.

Maka setiap 100 tahun Allah Yang Maha Kuasa menyadarkan umat manusia agar senantiasa menjaga diri masing-masing untuk tetap bersikap dan berperilaku ojo dumeh, jangan jumawa, jangan sombong, jangan angkuh, jangan takabur merasa diri sendiri paling benar apalagi paling berkuasa.

 

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X