Kompas.com - 17/03/2020, 08:15 WIB
Asap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung terlihat dari kawasan Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11/2017). Gunung Agung terus mengeluarkan asap dan abu vulkanik berintensitas sedang hingga tinggi dengan ketinggian sekitar 3.000 meter. ANTARA FOTO/FIKRI YUSUFAsap dan abu vulkanik menyembur dari kawah Gunung Agung terlihat dari kawasan Kubu, Karangasem, Bali, Selasa (28/11/2017). Gunung Agung terus mengeluarkan asap dan abu vulkanik berintensitas sedang hingga tinggi dengan ketinggian sekitar 3.000 meter.

KOMPAS.com - Hari ini 57 tahun yang lalu, Gunung Agung di Bali mengalami letusan eksplosif pada 17 Maret 1963.

Dilansir dari Straitstimes (27/11/2017), ledakan itu menewaskan sekitar 1.600 orang, menghancurkan puluhan desa, dan membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Pada tahun tersebut gunung itu meletus sebanyak 3 kali setelah tidak aktif selama 120 tahun.

Baca juga: 20 Februari 1979, Letusan dan Gas Beracun di Dieng Tewaskan 149 Orang

Gunung berapi itu melemparkan puing-puing setinggi 10 km di udara, menghancurkan puluhan desa dalam radius sekitar 7 km.

Lava mengalir menuruni lereng gunung selama beberapa hari setelah itu.

Penduduk dari tiga desa di lereng gunung yang lebih rendah dikelilingi oleh aliran lava mendidih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Banyak dari mereka yang selamat dirawat di rumah sakit karena luka bakar akibat abu panas gunung berapi dan batu yang jatuh.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Legenda Film Bisu, Charlie Chaplin Meninggal Dunia

Dampak iklim

Diberitakan Express (29/6/2018), dampak letusan 1963 tersebut tidak hanya hanya menimbulkan ribuan korban jiwa, tetapi dampaknya hingga ke seluruh Indonesia dan berdampak pada iklim.

Letusan 1963 adalah salah satu letusan gunung berapi pertama yang memiliki dampak iklim, karena banyaknya belerang yang disuntikkan ke atmosfer.

Perkiraan penurunan suhu global bervariasi antara 0,1 derajat celcius hingga 0,4 celcius.

Pulau Bali juga diselimuti oleh abu tebal sementara aliran lahar menelan berhektar-hektar tanaman padi, sebanyak 200.000 orang terancam kelaparan.

Abu dari letusan Gunung Agung mencapai Madura dan Surabaya, Jawa Timur.

Di Surabaya, awan tebal abu menyebabkan penutupan sekolah, sementara ibu kota Indonesia Jakarta juga terpengaruh.

Abu menyebar hingga 1.000 kilometer dari gunung berapi.

Baca juga: Jadi Trending Topic, Berikut Catatan Erupsi Merapi di 2020

Dimulai sebulan sebelumnya

Dilansir Express (29/6/2018), letusan sudah dimulai sejak 18 Februari 1963 setelah 2 hari gempa dengan lava pijar dan abu keluar dari gunung.

Aliran lahar kental dimulai 19 Februari dan tidak berhenti hingga 26 hari.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah letusan eksplosif pada 17 Maret. Itu merupakan yang pertama dari dua peristiwa.

Letusan eksplosif tersebut menghasilkan kolom letusan besar yang diperkirakan mencapai ketinggian 19-26 kilometer.

Letusan berlangsung selama 7 jam dan menghasilkan arus kepadatan piroklastik mematikan atau pyroclastic density currents (PDCs)

PDCs yaitu arus gas panas dan materi vulkanik yang bergerak cepat.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Persib Bandung Lahir, Berikut Perjalanannya...

Lahar dingin dan panas (aliran puing-puing yang terdiri dari bahan piroklastik) dengan cepat terbentuk dalam hujan deras yang mengikuti letusan ini.

Hal itu telah menghancurkan desa-desa dan konstruksi di lereng selatan Agung hingga mencapai pantai.

Diberitakan Harian Kompas (15/3/1974), kerusakan akibat letusan Gunung Agung 1963 berangsur-angsur dipulihkan.

Material letusan dahsyat Gunung Agung mengalir lewat Tukad Telagawaja dan Tukad Unda dengan 5 anak sungainya.

Kerusakan yang ditimbulkan merupakan kehancuran seluruh jembatan pada sungai itu, sarana irigasi sepanjang sungai rusak, dan ratusan hektar sawah tertutup di bagian hilirnya.

Jembatan yang hanyut di sepanjang aliran Tukad Telawaja dan Tukad Unda ada 9 buah.

Dengan demikian putuslah hubungan dengan Bali daerah timur.

Untuk itu dibangun beberapa jembatan penghubung dan bangunan pelintas.

Selain itu dibangun check dam atau tanggul penghambat.

Tujuannya yaitu mengendalikan material letusan yang masih turun ke hilir dan mengurangi gangguan material terhadap bangunan-bangunan pengairan,

Selain itu juga memulihkan hubungan lalu lintas antara Rendang-Muncan-Selat-Amlapura.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Schroeder, Pasien Pertama Penerima Jantung Buatan Keluar RS


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X