Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aktivitas Kegempaan di Gunung Gamalama Meningkat, Warga Diimbau Waspada

Kompas.com - 19/04/2024, 12:45 WIB
Alicia Diahwahyuningtyas,
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gunung api Gamalama yang berada di Kota Ternate, Maluku Utara, dilaporkan mengalami peningkatan kegempaan sejak Rabu (17/4/2024) hingga Kamis (18/4/2024).

Menurut laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), saat ini tingkat aktivitas gunung Gamalama masih berada pada Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015.

Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Muhammad Wafid.

"Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data visual maupun instrumental, maka tingkat aktivitas gunung Gamalama masih berada pada Level II (Waspada)," kata Wafid dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (19/4/2024).  

Baca juga: Tertidur Selama 22 Tahun, Ini Penyebab Gunung Ruang Meletus


Peningkatan kegempaan di gunung Gamalama

Lebih lanjut, Wafid mengungkapkan bahwa erupsi gunung Gamalama umumnya terjadi di kawah pusat dengan prekursor erupsi yang relatif singkat.

Tercatat, erupsi terakhir terjadi pada 4 Oktober 2018 yang diawali dengan 7 gempa vulkanik satu jam sebelum terjadi erupsi, dengan tinggi kolom erupsi mencapai 250 meter dari puncak.

"Sedangkan terakhir terjadi peningkatan kegempaan signifikan pada 22 dan 23 Februari 2024 terekam 18 gempa vulkanik dalam dengan embusan asap kawah putih tebal dengan tinggi 400 meter dari puncak, namun tidak diikuti dengan terjadinya erupsi," terang dia.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada Rabu (17/4/2024) pukul 20.30 WIT, telah terjadi peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) yang cukup siginifikan.

"Rekaman kegempaan pada 17 April 2024 dari pukul 00.00-20.30 WIT terekam 22 kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 4–8 mm dan 82 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3–5 mm," jelas Wafid.

Selain itu, terdapat juga gempa hembusan yang mengindikasikan aktivitas magma berada di dekat permukaan/dangkal dengan suplai/migrasi magma terus berlangsung dari dapur magma.

Berdasarkan data pengamatan visual 17 April 2024, teramati embusan asap kawah putih tebal dengan tinggi 100 meter, dengan aangin lemah kencang ke arah utara.

Baca juga: Erupsi Gunung Ruang pada 1871 Picu Tsunami Setinggi 25 Meter dan Renggut Ratusan Nyawa

Dominasi gempa di gunung Gamalama

Wafid mengungkapkan, terhitung sejak 1–16 April 2024, sudah terekam 28 kali gempa hembusan, satu kali gempa vulkanik dangkal, 29 kali gempa vulkanik dalam, 45 kali gempa tektonik lokal (TL), satu kali gempa terasa, dan 282 kali gempa tektonik jauh (TJ).

"Aktivitas embusan kawah teramati embusan asap kawah putih tipis hingga sedang dengan tinggi 20–300 meter. Angin lemah-kencang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat," ujar dia.

"Pada kondisi seperti di atas, dan mengingat karakteristik prekursor erupsi gunung Gamalama, maka potensi bahaya yang kemungkinan besar terjadi adalah erupsi freatik dengan ancaman bahaya untuk saat ini berupa lontaran material dari kawah utama melanda wilayah dengan radius 1.5 km dari pusat erupsi," jelasnya.

Baca juga: Muncul Kilatan Petir di Puncak Gunung Ruang Saat Meletus, Ini Kata PVMBG

Rekomendasi

Adanya peningkatan aktivitas gunung Gamalama pada Level II (Waspada), maka ada beberapa rekomendasi untuk masyarakat, sebagai berikut:

  1. Masyarakat di sekitar gunung Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 1,5 km dari kawah utama di puncak gunung Gamalama.
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di kawasan puncak gunung Gamalama untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
  3. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Gamalama 081244474775.
  4. Tingkat aktivitas gunung Gamalama akan dievaluasi kembali secara berkala maupun jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Tingkat Aktivitas dianggap tetap jika evaluasi berikutnya belum dikeluarkan.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Air Rendaman dan Rebusan untuk Menurunkan Berat Badan, Cocok Diminum Saat Cuaca Panas

Air Rendaman dan Rebusan untuk Menurunkan Berat Badan, Cocok Diminum Saat Cuaca Panas

Tren
Prakiraan BMKG: Ini Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir pada 27-28 Mei 2024

Prakiraan BMKG: Ini Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Petir pada 27-28 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Taruna TNI Harus Pakai Seragam ke Mal dan Bioskop? | Apa Tugas Densus 88?

[POPULER TREN] Taruna TNI Harus Pakai Seragam ke Mal dan Bioskop? | Apa Tugas Densus 88?

Tren
Berencana Tinggal di Bulan, Apa yang Akan Manusia Makan?

Berencana Tinggal di Bulan, Apa yang Akan Manusia Makan?

Tren
Ustaz Asal Riau Jadi Penceramah Tetap di Masjid Nabawi, Kajiaannya Diikuti Ratusan Orang

Ustaz Asal Riau Jadi Penceramah Tetap di Masjid Nabawi, Kajiaannya Diikuti Ratusan Orang

Tren
Gratis, Ini 3 Jenis Layanan yang Ditanggung BPJS Kesehatan Sesuai Perpres Terbaru

Gratis, Ini 3 Jenis Layanan yang Ditanggung BPJS Kesehatan Sesuai Perpres Terbaru

Tren
Respons Kemenkominfo soal Akun Media Sosial Kampus Jadi Sasaran Peretasan Judi Online

Respons Kemenkominfo soal Akun Media Sosial Kampus Jadi Sasaran Peretasan Judi Online

Tren
Ketahui, Ini 8 Suplemen yang Bisa Sebabkan Sakit Perut

Ketahui, Ini 8 Suplemen yang Bisa Sebabkan Sakit Perut

Tren
Batu Kuno Ungkap Alasan Bolos Kerja 3.200 Tahun Lalu, Istri Berdarah dan Membalsam Mayat Kerabat

Batu Kuno Ungkap Alasan Bolos Kerja 3.200 Tahun Lalu, Istri Berdarah dan Membalsam Mayat Kerabat

Tren
Ditemukan di Testis, Apa Bahaya Mikroplastik bagi Manusia?

Ditemukan di Testis, Apa Bahaya Mikroplastik bagi Manusia?

Tren
Pegi Teriak Fitnah, Ini Fakta Baru Penangkapan Tersangka Kasus Pembunuhan Vina

Pegi Teriak Fitnah, Ini Fakta Baru Penangkapan Tersangka Kasus Pembunuhan Vina

Tren
Ikang Fawzi Antre Layanan di Kantor BPJS Selama 6 Jam, BPJS Kesehatan: Terjadi Gangguan

Ikang Fawzi Antre Layanan di Kantor BPJS Selama 6 Jam, BPJS Kesehatan: Terjadi Gangguan

Tren
Beredar Isu Badai Matahari 2025 Hilangkan Akses Internet Berbulan-bulan, Ini Penjelasan Ahli

Beredar Isu Badai Matahari 2025 Hilangkan Akses Internet Berbulan-bulan, Ini Penjelasan Ahli

Tren
Mengenal Jampidsus, Unsur 'Pemberantas Korupsi' Kejagung yang Diduga Dikuntit Densus 88

Mengenal Jampidsus, Unsur "Pemberantas Korupsi" Kejagung yang Diduga Dikuntit Densus 88

Tren
Starlink dan Literasi Geospasial

Starlink dan Literasi Geospasial

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com