Loper Koran Jadi Jenderal, Cerita Pemimpin Akademi Militer

Kompas.com - 29/02/2020, 14:01 WIB
Bersama Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam peletakkan batu pertama Gereja Katolik Ign. Slamet Riyadi di Kompleks Akmil, Magelang. Dok. Akmil.Bersama Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam peletakkan batu pertama Gereja Katolik Ign. Slamet Riyadi di Kompleks Akmil, Magelang.

Sebuah pesan masuk ke whatsupp saya pagi ini. “Pada tanggal 25 Februari lalu, diletakkan batu pertama pembangunan gereja Katolik di Akademi Militer, Magelang.” Demikian bunyi pesan yang juga disertai sebuah foto yang mengabadikan peristiwa itu.

Pesan itu berasal dari Mayjen TNI Dudung Abdurachman, Gubernur Akademi Militer sejak 24 September 2018 sampai sekarang. Rupanya, di dalam ksatrian Akmil, gereja yang ada dan digunakan para taruna taruni Kristiani untuk beribadah hanya gereja Protestan. Ini membuat saat beribadah, taruna umat katolik melaksanakan peribadatan di Kelas E. Begitu pula yang terjadi dengan umat Hindu.

Artinya, sejak didirikan pada 11 November 1957 sebagai sambungan Militaire Academie (MA) Yogya, Akademi Militer yang saat itu bernama Akademi Militer Nasional (AMN) tidak memiliki gereja Katolik. Untuk kurun waktu yang begitu lama, tentu ini sebuah pertanyaan besar.

Jenderal Dudung tak mau banyak berujar apa yang membuat ini sulit dilakukan sebelumnya. Alumni Akmil 1988 ini berpendapat, untuk meningkatkan jiwa nasionalisme serta membangun toleransi beragama bagi para taruna, sekaligus juga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME, maka tempat peribadatan harus dibangun merata dan mewakili semua agama yang ada di Indonesia. Merata, tanpa diskriminasi terhadap agama minoritas.

Di dalam foto itu tampak Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko bersalam komando bersama Gubernur Akmil dalam seremoni peletakan batu pertama pembangunan Gereja Katolik Ignatius Slamet Riyadi di kompleks Akademi Militer.

Menjadi Tentara Indonesia yang Cemerlang

Peristiwa ini menjadi renungan buat kita. Inilah tolak-ukur utama seorang Tentara Nasional Indonesia yang sejati dan cemerlang. Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan bentang alam yang sangat lengkap, juga dihuni oleh warganya yang juga sangat beranekaragam.

Kita bineka sejak awal berdiri, bahkan jauh sebelum kemerdekaan itu diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Para calon pemimpin yang dididik di sini juga harus bisa memahami toleransi beragam yang mumpuni, karena selain agama mayoritas Islam, WNI juga terdiri atas umat Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu.

Apa jadinya bila seorang pemimpin tidak toleran sejak masa remaja? Institusi pendidikan adalah salah satu agen pembentuknya.

Anda atau putra-putri Anda punya cita-cita menjadi militer Indonesia yang cemerlang?

Ini seperti rentetan peristiwa kebetulan, tapi kebetulan yang bermakna. Di bulan Februari ini, bulan pendaftaran awal para pemuda dan pemudi yang berniat masuk Akademi Militer (Akmil) di Magelang.

Ini termasuk lembaga pendidikan tinggi favorit di Indonesia. Setiap tahun ratusan ribu peminat mendaftar di kantor Komando Daerah Militer (Kodam) di seluruh tanah air, dan hanya kurang dari 300 orang yang masuk dan menempuh pendidikan 4 tahun sebagai taruna (2019).

Khusus tahun ini, Waaspers Kasad Brigjen TNI Agus Setiawan, S.E., mengatakan pada 29th Indonesia International Education Training Expo & Scholarship 2020 TNI AD akan menambah alokasi menjadi 17.264 prajurit, baik Tamtama, Bintara maupun Perwira, sementara tahun sebelumnya 2019, hanya merekrut 15.547 prajurit.

Catar (calon taruna) Akmil sebanyak 400 orang, Pa PK (Perwira Pajurit Karier) Reguler 130 orang, Pa PK Tenaga Kesehatan 110 orang, Caba PK (Calon Bintara Prajurit Karier) 3.500 orang, Cata PK (Calon Tamtama Prajurit Karier) 13.100 orang dan mahasiswa beasiswa sebanyak 24 orang,” urai lulusan Akmil tahun 1990 ini.

Loper koran jadi jenderal

Dunia militer Indonesia era kini bukan lagi berbasis kekuatan personil dan persenjataan semata. Tetapi, militer kini adalah militer 4.0, istilah yang dilontarkan oleh Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto pada peringantan Hari TNI 5 Oktober 2019 lalu.

Saya bersetuju, dalam setiap profesi ada teladan yang bisa menjadi panutan. Anak muda suka dan cepat menyerap cerita teladan. Tetapi, khusus di dunia militer, sangat jarang mendapat kisah teladan dari TNI yang masih aktif.

Tak lama lagi Penerbit Buku Kompas akan merilis buku seorang militer era sekarang, alumni Akademi Militer tahun 1988, yang kini Gubernur Akademi Militer.

Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman, yang saya perkenalkan di awal tulisan ini, lewat bukunya nanti tak segan membagi pengalaman dan karier militernya sejak ia taruna remaja, perwira remaja, sampai kini menyandang bintang dua.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Akankah Jumlah Kasus Covid-19 Bertambah bila New Normal Diterapkan?

Akankah Jumlah Kasus Covid-19 Bertambah bila New Normal Diterapkan?

Tren
Ini Cara Lapor Meter Air Mandiri PDAM Tirta Banteng Tangerang

Ini Cara Lapor Meter Air Mandiri PDAM Tirta Banteng Tangerang

Tren
Bagaimana Cara Mendapatkan Surat Keterangan Bebas Covid-19? Berikut Penjelasannya...

Bagaimana Cara Mendapatkan Surat Keterangan Bebas Covid-19? Berikut Penjelasannya...

Tren
Sukses Kendalikan Virus Corona, Thailand Mulai Kembali Buka Pariwisata

Sukses Kendalikan Virus Corona, Thailand Mulai Kembali Buka Pariwisata

Tren
Diminta Contoh Australia, seperti Apa Penerapan New Normal Pendidikan di Sana?

Diminta Contoh Australia, seperti Apa Penerapan New Normal Pendidikan di Sana?

Tren
Hari Ini Terakhir, Berikut Cara Klaim Token Subsidi Listrik PLN Pelanggan 900 VA dan 1.300 VA

Hari Ini Terakhir, Berikut Cara Klaim Token Subsidi Listrik PLN Pelanggan 900 VA dan 1.300 VA

Tren
Melihat Kasus Virus Corona di Indonesia dan Pentingnya Data Pasien Covid-19...

Melihat Kasus Virus Corona di Indonesia dan Pentingnya Data Pasien Covid-19...

Tren
Panduan New Normal Naik Kereta Api dari KAI, Wajib Pakai Masker dan Face Shield

Panduan New Normal Naik Kereta Api dari KAI, Wajib Pakai Masker dan Face Shield

Tren
Sempat Dibuka, Ratusan Sekolah di Korea Selatan Kembali Ditutup, Ini Penyebabnya...

Sempat Dibuka, Ratusan Sekolah di Korea Selatan Kembali Ditutup, Ini Penyebabnya...

Tren
3 Upaya Pengembangan Vaksin Virus Corona di Indonesia

3 Upaya Pengembangan Vaksin Virus Corona di Indonesia

Tren
Viral #Boikot TVRI, Twit Iman Brotoseno, dan Rekam Jejak Digital...

Viral #Boikot TVRI, Twit Iman Brotoseno, dan Rekam Jejak Digital...

Tren
Viral, Video Sapi Masuk ke Toko Handphone di Kudus, Pemiliknya Masih Tanda Tanya

Viral, Video Sapi Masuk ke Toko Handphone di Kudus, Pemiliknya Masih Tanda Tanya

Tren
Menilik Kecintaan Warga Indonesia terhadap Drama Korea...

Menilik Kecintaan Warga Indonesia terhadap Drama Korea...

Tren
[KLARIFIKASI] Penjelasan soal Penanganan Covid-19 di Indonesia, Bukan Herd Immunity

[KLARIFIKASI] Penjelasan soal Penanganan Covid-19 di Indonesia, Bukan Herd Immunity

Tren
Viral, Foto Dokter Kenakan APD Superhero, Ini Ceritanya...

Viral, Foto Dokter Kenakan APD Superhero, Ini Ceritanya...

Tren
komentar
Close Ads X