Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

STOVIA, Sekolah Dokter Zaman Hindia Belanda

Kompas.com - 04/10/2021, 15:00 WIB
Verelladevanka Adryamarthanino ,
Nibras Nada Nailufar

Tim Redaksi

KOMPAS.com - School tot Opleiding van Indische Artsen disingkat STOVIA adalah sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman Hindia Belanda. Sekolah ini juga dikenal dengan Sekolah Dokter DJawa.

STOVIA resmi dibuka bulan Maret 1902 dalam gedung yang saat ini menjadi Museum Kebangkitan Nasional di Weltevreden, sebuah distrik makmur di Batavia (Jakarta).

STOVIA ini juga menjadi pelopor pergerakan nasional dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908, didirikan oleh dua alumni STOVIA, yaitu Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo.

Stovia kini berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Baca juga: STOVIA, Sekolah Kedokteran yang Melahirkan Tokoh Pergerakan Nasional

Sejarah STOVIA

Berdirinya sekolah kedokteran atau STOVIA bermula dari kekhawatiran akan kurangnya tenaga kesehatan dalam menghadapi berbagai macam penyakit yang mewabah di wilayah jajahan Belanda.

Hal ini kemudian membuat pemerintah kolonial menetapkan perlunya dibentuk kursus juru kesehatan di Hindia Belanda.

Tanggal 2 Januari 1849, dikeluarkanlah Surat Keputusan Gubernemen No. 22 mengenai sekolah tersebut.

Tempat pendidikannya berada di Rumah Sakit Militer di Kawasan Wltevreden, Batavia (Jakarta).

Empat tahun kemudian, tanggal 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen No. 10, menjadi Sekolah Dokter Djawa.

Setelah itu, Sekolah Dokter Djawa pun terus mengalami perbaikan dan penyempuranaan kurikulum.

Tahun 1889, nama sekolah kembali diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi.

Lalu, tahun 1898, namanya kembali diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Pribumi (STOVIA).

Kemudian, tahun 1913, kata Inlandsche (pribumi) diubah menjadi Indische (Hindia), karena pada akhirnya sekolah ini dibuka untuk siapa saja, termasuk penduduk keturunan Timur Asing dan Eropa.

Baca juga: Tokoh Pendiri Budi Utomo: Pelajar STOVIA

Masa Pendidikan

Awal STOVIA berdiri, sekolah ini hanya memakan waktu pendidikan satu tahun yang kemudian diperpanjang menjadi dua tahun dengan penambahan mata pelajaran lain.

Tujuannya adalah agar para lulusannya dapat mengenal berbagai macam penyakit yang ada di Indonesia dan dapat melakukan pembedahan ringan serta merawat pasien.

Setelah dididik selama dua tahun, para siswa akan diuji. Apabila lolos dalam uji tersebut, maka para mahasiswa akan mendapat gelar Dokter Jawa.

Pada 1864, masa belajar sekolah dokter kembali diperpanjang menjadi lima atau enam tahun.

Dalam rentang waktu lima sampai enam tahun, para mahasiswa diberi pelajaran dalam bahasa Melayu. Kemudian, sejak 1875, bahasa pengantara menggunakan bahasa Belanda.

Untuk para murid yang tidak memahami bahasa Belanda akan menjalani pendidikan pendahuluan bahasa Belanda selama dua sampai tiga tahun terlebih dahulu.

Seiring berjalannya waktu, para mahasiswa STOVIA mendapatkan beasiswa pemerintah kolonial dan wajib menjalani ikatan dinas selama sepuluh tahun.

Apabila ikatan dinas tersebut dilanggar, mereka akan didenda sebesar 5.800 gulden.

Melalui sekolah ini juga muncul pergerakan nasional di Hindia Belanda yang dicetus salah dua alumni STOVIA, yaitu Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Soetomo.

Keduanya mendirikan organisasi pergerakan nasional pertama bernama Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

 

Referensi:

  • Makmur, Djohan, Pius Suryo Haryono, dkk. (1993). Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Penjajahan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com