Kompas.com - 03/10/2020, 13:32 WIB

Awalnya pemberontakan hanya terjadi di Jawa Barat pada 7 Agustus 1949, namun meluas ke Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Kartosuwirjo sebagai pimpinan DI/TII tidak mau mengakui pemerintah RI di Jawa Barat akibat penghapusan kesepakatan Perjanjian Renville.

Pemerintah akhirnya mengerahkan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam menumpaskan DI/TII dalam operasi Bratayudha dan Pagar Betis. Hingga akhinya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah.

Kapten Raymond Westerling yang disebut terlibat dalam pembantaian di Sulawesi Selatan dan membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang menyerang Bandung pada 1950.Wikipedia Kapten Raymond Westerling yang disebut terlibat dalam pembantaian di Sulawesi Selatan dan membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang menyerang Bandung pada 1950.
Pemberontakan APRA

Dilansir dari buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (1984) oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pemberontakan APRA atau Angkatan Perang Ratu Adil terjadi pada 23 Januari 1950.

Latar belakang pemberontakan ini karena adanya friksi dalam tubuh Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). APRA dipimpin oleh Raymond Westerling dengan 800 serdadu bekas KNIL.

Baca juga: Pemberontakan PETA di Blitar

Westerling yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah mengalami penjajahan Belanda dan Jepang, sehingga dibutuhkan adanya kemakmuran seperti yang diramalkan Ramalan Jayabaya.

Keganasan APRA yang telah membunuh 79 anggota APRIS atau Angkatan Perang RIS dan penduduk sipil, membuat APRIS mengejar segeromblan APRA.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berkat APRIS, APRA gagal dalam menculik semua menteri dan Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono IX serta Pejabat Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Hingga akhirnya Westerling meninggalkan Indonesia dan usaha APRA menjadi sia-sia.

Peristiwa Andi Aziz

Pemberontakan ini dipelopori oleh Andi Azis pada tahun 1950 yang dianggap sebagai mantan perwira KNIL. Latar bleakang peristiwa ini karena Andi Azisi ngin mempertahankan Negara Indonesia Timur.

Di samping itu faktor lainnya disebabkan adanya keinginan Andi Azis untuk menentang campur tangan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) terhadap konflik yang ada di Sulawesi Selatan.

Untuk menanggulangi pemberontakan ini, pemerintah meminta Andi Azis untuk melaporkan diri ke Jakarta agar dapat mempertanggungjawabkan yang sudah ia lakukan.

Baca juga: Peristiwa G30S: Siapakah Sosok Letnan Untung?

Setelah didesak oleh Sukawati selaku presiden Negara Indonesia Timur (negara bagian RIS pada tahun 1946-1950), akhirnya Andi Azis ditangkap.

Hingga kemudian tentara APRIS dan KL-KNIL melakukan baku tembak dan pemberontakan ini berakhir setelah Andi Azis meninggal dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) sebagai tentara Kerajaan Hindia Belanda meninggalkan Makassar.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X