Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Peduli Sampah Nasional 2022, Pengelolaan Sampah Bisa Hasilkan Pendapatan Ekonomi yang Tinggi

Kompas.com - 21/02/2022, 18:02 WIB
Zintan Prihatini,
Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Tim Redaksi


KOMPAS.com - Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022 jatuh pada hari ini, Senin (21/2/2022). Melalui peringatan itu, kita dapat meningkatkan kembali kesadaran akan pengelolaan sampah khususnya pada tingkat rumah tangga.

Pasalnya, sampah merupakan salah satu permasalahan dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada tahun 2020. 

Penyumbang sampah terbesar berasal dari rumah tangga yakni sebanyak 37,3 persen.

Dalam hal pengelolaan sampah, jaringan dan pelaku daur ulang di indonesia cukup panjang, mulai dari tahap pengumpulan hingga menjadi produk, serta melibatkan banyak pihak.

Hal itu disampaikan Direktur Sustainable Waste Indonesia (SWI) Dini Trisyanti dalam webinar bertajuk Waste Management in Indonesia.

Dijelaskannya, proses daur ulang melibatkan pengumpul, pemulung, bank sampah unit, bank sampah induk, hingga akhirnya sampah bisa masuk ke TPA (tempat pembuangan akhir).

Baca juga: Hari Peduli Sampah Nasional, Ini 5 Solusi Mengatasi Masalah Sampah

“Penting menciptakan ekosistem pengumpulan sampah oleh masyarakat dan bank sampah yang terintegrasi dengan pendaur ulang," kata Dini Senin (21/2/2022).

"Selain masalah kualitas sampah plastik yang masih tercampur dengan sampah lainnya, beberapa jenis kemasan plastik juga masih memiliki nilai rendah, karena keterbatasan teknologi, market, dan kolektibilitas," lanjutnya.

Nilai ekonomi dari pengelolaan sampah

Pada kesempatan tersebut, Dini menuturkan pengelolaan sampah sebenarnya bernilai ekonomi bagi para pengumpul dan sektor industri, terlebih pada jenis sampah plastik.

Adapun empat jenis sampah plastik yang paling banyak diminati oleh para pengumpul sampah di sektor informal, di Pulau Jawa berdasarkan analisis SWI tahun 2020, antara lain:

  1. PP (rigid plastic) berupa air mineral gelas ataupun kemasan makanan sebesar 25 persen.
  2. HDPE (film plastic) berupa plastik saset, compact disk, atau pouch sebesar 20 persen.
  3. PET (rigid plastic) berupa botol minum sebesar 20 persen.
  4. HDPE (rigid plastic) berupa wadah bekas sampo, plastik, atau plastik sampah sebesar 14 persen.

"Jenis (sampah plastik) ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan membebani lingkungan, karena selama masuk ke tempat sampah dan ada jalur daur ulangnya, ada pabriknya, ada marketnya, akan ke ambil (terkelola)," terang Dini menjelaskan potensi nilai ekonomi pengelolaan sampah.

Baca juga: Hari Peduli Sampah Nasional: 5 Fakta Ancaman Nyata Sampah di Indonesia

Ilustrasi sampah plastik yang menumpuk. Solusi pengelolaan sampah di Indonesia dengan waste credit.Freepik/jcomp Ilustrasi sampah plastik yang menumpuk. Solusi pengelolaan sampah di Indonesia dengan waste credit.

Produk daur ulang yang sudah dibersihkan dan dikelola oleh para pengumpul, nantinya dapat dijual kembali kepada konsumen untuk dijadikan bahan pembuatan ember, lapisan karpet, sapu, dan peralatan lainnya.

Dia membeberkan bahwa di tahun 2020, kebutuhan di tingkat global terhadap plastik jenis PET untuk botol minum atau botol air mineral mencapai 27 juta ton, dan diperkirakan di tahun 2030 mendatang kebutuhan ini sebesar 42 juta ton.

Sehingga penerapan model ekonomi sirkular, atau peningkatan produksi barang daur ulang bisa menguntungkan banyak pihak.

"Berdasarkan data ASUPI tahun 2021, kebutuhan resin PET di Indonesia mencapai 31.500 ton per bulan, sayangnya kebutuhan tersebut 44 persennya dipenuhi oleh import. Padahal sampah kita (di Indonesia) banyak," jelas Dini.

Untuk lebih meningkatkan pengelolaan sampah, Dini berkata perlu adanya dukungan dari sisi teknologi maupun inovasi.

Baca juga: Sampah Styrofoam di Bali Meningkat Sejak Pandemi Covid-19, Bagaimana Strategi Pengelolaannya?

"Oleh sebab itu selain penting untuk pemilahan di sumber, pemerintah dan industri perlu mengembangkan teknologi dan model bisnis untuk mengatasinya (pengelolaan sampah),” ucapnya.

Dini menilai, tingkat daur ulang kemasan plastik minuman ringan berjenis PET beserta tutupnya di wilayah Jabodetabek sudah cukup baik.

Kendati kondisi sampah di Indonesia masih tercampur antara sampah organik dan anorganik, rantai daur ulang bisa mengelola sampah dengan metodenya masing-masing.

Menurut riset yang dilakukan SWI tahun 2021, dari total penghasilan di tingkat pengumpul wilayah Jabodetabek, jenis PET berkontribusi lebih dari 65 persen dari sampah kemasan minuman ringan dengan nilai mencapai Rp. 1 miliar per hari.

"Dari aggregator (pengumpul), dijual lagi ke penggiling atau di atasnya (nilai jualnya) lebih dari 1 miliar. Di sini lah ekonomi yang terjadi di tingkat pendaur ulang terutama sektor informal banyak dikontribusikan dari sampah kita sendiri," pungkas Dini.

Baca juga: Pengelolaan Sampah Plastik di Indonesia Perlu Evolusi Perilaku, Apa Maksudnya?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com