Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) adalah organ departementasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan–kebijakan Nahdlatul Ulama dalam ranah falakiyah, yaitu ilmu astronomi yang ditujukan bagi pelaksanaan aspek–aspek ibadah Umat Islam. LFNU ada di tingkat pusat (PBNU), propinsi (PWNU) hingga kabupaten / kota (PCNU). Lembaga Falakiyah PBNU berkedudukan di Gedung PBNU lantai 4, Jl. Kramat Raya no. 164 Jakarta Pusat.

Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (3)

Kompas.com - 21/10/2021, 20:30 WIB
Salah satu data berupa kurva cahaya kecerlangan langit dinihari yang dihasilkan instrumen SQM. Garis putus?putus merupakan pola linear yang menjadi ciri khas fajar?semu (fajar kadzib). Sedangkan pola eksponensial yang menukik merupakan tipikal fajar?nyata (fajar shadiq). Panah hijau merupakan titik belok fajar, yang teramati pada SDM 20º. Diabadikan oleh KH Abdul Muid Zahid dkk (Lembaga Falakiyah PCNU Gresik) di Banyuwangi (Jawa Timur) pada 25 Agustus 2020. dok. LFNUSalah satu data berupa kurva cahaya kecerlangan langit dinihari yang dihasilkan instrumen SQM. Garis putus?putus merupakan pola linear yang menjadi ciri khas fajar?semu (fajar kadzib). Sedangkan pola eksponensial yang menukik merupakan tipikal fajar?nyata (fajar shadiq). Panah hijau merupakan titik belok fajar, yang teramati pada SDM 20º. Diabadikan oleh KH Abdul Muid Zahid dkk (Lembaga Falakiyah PCNU Gresik) di Banyuwangi (Jawa Timur) pada 25 Agustus 2020.

Oleh: KH Salam Nawawi, KH Djawahir Fahrurrazi, KH Abdul Muid Zahid, KH Muhyidin Hasan, M. Basthoni, Ismail Fahmi, Eka Puspita Arumaningtyas, Nihayatur Rohmah, Imam Qustholaani, Rukman Nugraha, Suaidi Ahadi, KH Ahmad Yazid Fattah, KH Shofiyulloh, Djamhur Effendi, Khafid, Hendro Setyanto, Ahmad Junaidi, KH Imron Ismail, Mutoha Arkanuddin, Syifaul Anam, dan Muh. Ma’rufin Sudibyo

Pada bagian sebelumnya telah diketahui Lembaga Falakiyah PBNU berpendapat cahaya fajar–nyata yang menjadi penanda awal waktu Subuh dan awal berpuasa adalah munculnya cahaya fajar–nyata samar.

Yaitu, berkas cahaya selain cahaya fajar–semu dan mulai muncul tepat di kaki langit timur meskipun samar–samar.

Intensitasnya demikian rendah sehingga kita belum bisa mengenali siapapun di samping kita.

Menjadi bagian dari kajian ilmu falak untuk menurunkan deskripsi kualitatif demikian ke dalam besaran angka kuantitatif, yang merepresentasikan sudut depresi Matahari (SDM) bagi munculnya cahaya fajar–nyata samar.

Baca juga: Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (1)

Sejumlah ahli falak yang tergabung dalam Tim Kajian Awal Waktu Subuh Lembaga Falakiyah PBNU merupakan pelopor dalam bidangnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Misalnya saja Dr. Nihayatur Rohmah, salah satu ahli falak perempuan generasi pertama sekaligus pelopor pengamatan cahaya fajar–nyata berbasis kamera digital.

Selimut udara Bumi kita bersifat optis, sehingga mampu membiaskan, menghamburkan, dan menyerap berkas sinar Matahari.

Atmosfer adalah medium bening yang berlapis–lapis dengan kerapatan berbeda–beda untuk setiap lapisan.

Tiap lapisan memiliki indeks biasnya sendiri. Maka persentuhan antar lapisan yang membentuk keseluruhan atmosfer membuat seberkas cahaya akan terbiaskan kala melaluinya.

Berkas cahaya datang dari ruang angkasa akan dibiaskan mendekati garis normal. Sehingga, berkas sinar Matahari dapat tiba pada sebuah titik di paras Bumi, meskipun kedudukan Matahari masih jauh di bawah kaki langit timur.

Sedangkan, kemampuan atmosfer dalam menghamburkan berkas cahaya Matahari ditopang oleh molekul–molekul (Nitrogen dan Oksigen) serta partikulat mikro.

Manakala berkas sinar Matahari melewati kumpulan molekul atau partikulat mikro, terjadilah hamburan elastis yang didominasi hamburan Rayleigh dan hamburan Mie.

Sebagai hasilnya maka langit fajar nampak kekuning–kuningan hingga kemerah–merahan di sekitar kaki langit dan kebiru–biruan di ketinggian.

Jika di atas ufuk terdapat sebaran awan tipis, maka hamburan Mie menyebabkan bagian yang ditutupi awan berwarna keabu–abuan hingga keputih–putihan.

Dan kemampuan atmosfer Bumi dalam menyerap berkas sinar Matahari disebabkan molekul tertentu, terutama Ozon.

Molekul Ozon menyerap berkas cahaya Matahari demikian rupa, sehingga lebih melalukan komponen cahaya biru dibanding komponen lain.

Kombinasi faktor pembiasan, hamburan dan serapan itulah yang melahirkan cahaya fajar–nyata menjelang Matahari terbit.

Baca juga: Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (2)

Fajar–semu

Kita harus membedakan antara cahaya fajar–nyata dengan fajar–semu meski keduanya sama–sama hadir di kaki langit timur.

Berdasarkan kajian Lembaga Falakiyah PBNU maka cahaya fajar–nyata merupakan cahaya sangat tipis yang berimpit dengan kaki langit untuk kemudian kian melebar (secara mendatar) dan menebal (secara vertikal) sembari bertambah terang seiring waktu.

Sedangkan, cahaya fajar–semu hadir sebelum fajar–nyata. Intensitasnya lebih lemah ketimbang fajar–nyata dan dapat disetarakan dengan kecerlangan selempang galaksi Bima Sakti.

Cahaya fajar–semu membentuk struktur mirip segitiga yang garis tingginya menjulang sepanjang ekliptika.

Meskipun intensitas cahaya fajar–semu juga meningkat perlahan seiring waktu, tidak pernah seterang cahaya fajar–nyata.

Baca juga: Mengapa Tidur Lagi Setelah Bangun Subuh Bikin Tubuh Lelah?

Saat cahaya fajar–nyata samar tepat telah muncul terbit, maka terjadi tumpang tindih dengan cahaya fajar–semu.

Untuk kemudian cahaya fajar–nyata kian mendominasi dan sebaliknya cahaya fajar–semu memudar dengan cepat.

Jika cahaya fajar–nyata samar berasal dari sinar Matahari yang telah termodifikasi demikian rupa dalam atmosfer Bumi, maka cahaya fajar–semu merupakan produk pemantulan baur sinar matahari terhadap debu–debu antarplanet yang terkonsentrasi di sekitar ekliptika.

Sumber debu antarplanet ini beragam, mulai dari produk emisi komet–komet yang mendekati Matahari hingga aktivitas badai global Mars.

Pentingnya kedudukan cahaya fajar–semu dapat dilihat pada ungkapan Hendro Setyanto, M.Si, astronom edukator sekaligus Wakil Ketua Lembaga Falakiyah PBNU.

Mencoba mengamati cahaya fajar–nyata, tanpa mengelaborasi aspek–aspek yang melingkupi dan terkait dengannya seluas mungkin ibarat orang buta menganalisa gajah.

Maka hendaknya perlu menganalisa dengan seksama, tak terkecuali dengan cahaya fajar–semu.

Teks–teks sabda Nabi SAW secara tidak langsung mengindikasikan perlunya mengenali kemunculan cahaya fajar–semu dalam mengkaji cahaya fajar–nyata.

Baca juga: Jupiter dan Venus Akan Terlihat Lagi Senin Subuh Nanti

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.