Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) adalah organ departementasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan–kebijakan Nahdlatul Ulama dalam ranah falakiyah, yaitu ilmu astronomi yang ditujukan bagi pelaksanaan aspek–aspek ibadah Umat Islam. LFNU ada di tingkat pusat (PBNU), propinsi (PWNU) hingga kabupaten / kota (PCNU). Lembaga Falakiyah PBNU berkedudukan di Gedung PBNU lantai 4, Jl. Kramat Raya no. 164 Jakarta Pusat.

Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (1)

Kompas.com - 05/10/2021, 19:30 WIB
Panorama langit timur Madiun (Jawa Timur) yang berhiaskan cahaya fajar dengan struktur khasnya. Cahaya fajar memiliki kedudukan penting bagi Umat Islam, sehingga kajian dan pengamatan terhadapnya menjadi signifikan.  Nihayatur Rohmah, 2010Panorama langit timur Madiun (Jawa Timur) yang berhiaskan cahaya fajar dengan struktur khasnya. Cahaya fajar memiliki kedudukan penting bagi Umat Islam, sehingga kajian dan pengamatan terhadapnya menjadi signifikan.

Oleh: KH Salam Nawawi, KH Djawahir Fahrurrazi, KH Abdul Muid Zahid, KH Muhyidin Hasan, M. Basthoni, Ismail Fahmi, Eka Puspita Arumaningtyas, Nihayatur Rohmah, Imam Qustholaani, Rukman Nugraha, Suaidi Ahadi, KH Ahmad Yazid Fattah, KH Shofiyulloh, Djamhur Effendi, Khafid, Hendro Setyanto, Ahmad Junaidi, KH Imron Ismail, Mutoha Arkanuddin, Syifaul Anam, dan Muh. Ma’rufin Sudibyo

 

Kriteria awal waktu Subuh di Indonesia tidak perlu berubah. Waktu Subuh tetap bisa dimulai manakala tinggi Matahari negatif 20º terhadap kaki langit timur, sebagaimana berlaku selama ini.

Dalam terminologi ilmu falak, waktu Subuh di Indonesia tetap dapat menerapkan sudut depresi Matahari (SDM) 20º seperti dipedomani Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama RI. Sehingga tidak perlu ada yang berubah.

Demikian pandangan Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Falakiyah PBNU, setelah melaksanakan kajian berkesinambungan dengan melibatkan para peneliti berkompeten di bidangnya. Yakni para peneliti dalam disiplin ilmu fikih dan ilmu falak.

Baca juga: Tidak Ada Perubahan Waktu Subuh

Kriteria awal waktu Subuh dengan nilai tinggi Matahari negatif 20º tetap digunakan, karena telah memiliki landasan yang kuat dari dua keilmuan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nilai tinggi Matahari demikian sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, para sahabat, para tabi’in, para tabi’it tabi’in, para shalafus shalih dan para auliya. Nilai tinggi Matahari tersebut juga sesuai data hasil pengamatan terkini terhadap cahaya fajar–nyata.

Dengan kajian mendalam ini, maka Umat Islam Indonesia pada umumnya dan warga Nahdlatul Ulama pada khususnya dapat menjalankan ibadah salat Subuh dan puasanya dengan lebih tenang dan nyaman.

Kita tetap berpedoman pada jadwal waktu salat yang ada pada saat ini, misalnya seperti yang disusun Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama.

Dalam ungkapan Drs. KH Sirril Wafa, MA (ketua Lembaga Falakiyah PBNU), “Dengan kajian ini maka awal waktu Subuh dan juga awal puasa di Indonesia yang selama ini kita pedomani memang memiliki landasan yang kukuh. Baik dalam ilmu fikih maupun ilmu falak."

"Bahwa dalam realitas terkini Indonesia mulai terdapat perbedaan pendapat dalam awal waktu Subuh, itu harus kita hormati dan hargai. Perbedaan tersebut serupa dengan perbedaan penentuan awal Ramadhan dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).

Fajar–nyata dan Fajar–semu

Waktu Subuh adalah salah satu dari kelima waktu salat wajib bagi Umat Islam. Seperti halnya waktu salat lainnya, durasi waktu Subuh dikontrol oleh kedudukan Matahari.

Namun berbeda dengan awal waktu salat lainnya (kecuali Isya), maka kita tidak menyaksikan piringan Matahari secara langsung pada saat awal waktu Subuh.

Melainkan, hanya melalui berkas cahaya Matahari pertama yang menembus atmosfer Bumi dan memasuki mata kita. Itulah cahaya fajar, atau lebih spesifik lagi cahaya fajar–nyata atau fajar shadiq.

Cahaya fajar adalah semburat cahaya yang merembang di langit timur sebagai penanda fajar dan terjadi sebelum Matahari terbit.

Padanannya adalah cahaya senja, yang melaburi langit barat pasca Matahari terbenam dan menjadi penanda petang.

Cahaya fajar merupakan fenomena keplanetan dalam tata surya kita, terjadi hanya pada planet yang memiliki selimut udara cukup tebal di atas permukaannya.

Selain di Bumi, program eksplorasi antariksa juga telah mendeteksi fenomena cahaya fajar di planet Mars dan di planet–kerdil Pluto.

Baca juga: Rahasia Alam Semesta, Kenapa Langit Senja dan Fajar Berwarna Orange?

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.