Kompas.com - 30/08/2021, 13:00 WIB
Ilustrasi bendungan hidroelektrik. Pembangkit listrik tenaga air di Solina dari Lesko County di daerah Pegunungan Bieszczady di tenggara Polandia. SHUTTERSTOCK/Mateusz LopuszynskiIlustrasi bendungan hidroelektrik. Pembangkit listrik tenaga air di Solina dari Lesko County di daerah Pegunungan Bieszczady di tenggara Polandia.

KOMPAS.com - Sekali dibangun, pembangkit tenaga air bisa memproduksi listrik tanpa henti setiap saat, begitu dalih yang selama ini didengungkan untuk mendukung ekspansi energi air.

Hingga 2019 lalu, lebih dari separuh energi terbarukan di dunia didapat dari bendungan hidroelektrik, lapor jejaring politik Perancis, Ren21.

Namun dengan bencana iklim yang kian terasa, energi air kehilangan argumen terbesarnya, yakni aliran air yang konsisten dan terukur.

Bersamaan dengan datangnya musim kering panjang tahun ini, produksi energi air di dunia anjlok ke level terendah sejak beberapa dekade terakhir.

Baca juga: 10 Tindakan yang Dilakukan untuk Menghemat Energi

Situasi ini disimak pada Bendungan Hoover di atas Sungai Colorado. Kekeringan yang melanda barat AS menyusutkan level air di kolam penampungan menjadi hanya sepertiga.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejak Juli, pembangkit listrik di bendungan harus mengurangi seperempat produksi dibanding situasi normal.

Nasib serupa dilaporkan terjadi di sepanjang Sungai Paraná yang mengalir melalui Brasil, Paraguay dan Argentina.

Kawasan hulu di selatan Brasil sejak tiga tahun didera musim kering ekstrem. Dibanding rata-rata 20 tahun terakhir, level air di bendungan penampungan di pusat dan selatan Brasil dikabarkan berkurang separuh, dan kini hanya terisi sepertiganya saja.

Padahal Brasil menggantungkan 60 persen produksi listriknya pada bendungan hidroelektrik.

Tidak hanya kekeringan, curah hujan ekstrem dan banjir bandang juga dilaporkan melumpuhkan pembangkit listrik tenaga air.

Pada Maret 2019, Siklon Idai merusak dua bendungan di Malawi dan melumpuhkan aliran listrik di penjuru negeri selama dua hari.

India juga kehilangan sejumlah bendungan ketika banjir bandang merangsek dari pecahan gletser dan menewaskan sekitar 200 orang di utara negara bagian Uttarakhand, Februari lalu.

Menurut perkiraan awal, bencana dipicu proyek pembangunan bendungan yang membuat dinding gletser yang sudah rapuh menjadi tidak stabil.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.