Kompas.com - 07/05/2021, 08:30 WIB
Lokasi bencana longsor yang berada di area pembangunan proyek PLTA Batang Toru, di Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Hingga Rabu (5/5/2021), sudah 10 korban ditemukan. Dan salah satunya diduga pekerja asing (TKA) yang sebelumnya dikabarkan hilang. KOMPAS.COM/ORYZA PASARIBULokasi bencana longsor yang berada di area pembangunan proyek PLTA Batang Toru, di Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Hingga Rabu (5/5/2021), sudah 10 korban ditemukan. Dan salah satunya diduga pekerja asing (TKA) yang sebelumnya dikabarkan hilang.

KOMPAS.com - Tanah longsor terjadi di area proyek pembangunan PLTA Batang Toru yang dikerjakan oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) pada Kamis (29/4/2020).

Kejadian mengenaskan ini menyebabkan setidaknya 10 orang tewas dan tiga orang lainnya masih hilang, berdasarkan pencarian hingga Rabu (5/5/2021).

Menanggapi kejadian ini, Direktur Kampanye organisasi kampanye lingkungan Mighty Earth, Amanda Hurowitz, mengungkapkan bahwa pihaknya turut berduka cita terhadap keluarga korban tewas.

"Bersama ini, kami menyatakan rasa duka mendalam terhadap keluarga korban tewas atau luka akibat bencana menyedihkan itu, baik penduduk setempat maupun pekerja dari China, yang berada jauh dari kampung halaman mereka," ujarnya.

Baca juga: Walhi Tanggapi Klaim PLTA Batangtoru Ramah Lingkungan

"Kami mengimbau PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) dan pejabat pemerintah di semua tingkatan memberikan bantuan dan dukungan secepatnya kepada yang terdampak serta mengambil tindakan untuk mencegah kerusakan dan bahaya lebih jauh," imbuhnya lagi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun di saat yang sama, Hurowitz juga mengungkapkan bahwa bencana longsor yang menewaskan banyak orang ini sebenarnya dapat dicegah.

Pasalnya, ilmuwan, pejuang lingkungan, dan bahkan berbagai laporan yang diterima Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Indonesia telah memperingatkan bahwa medan di sekitar proyek bendungan Batang Toru rawan longsor karena curah hujan tinggi, medan berbukit-bukit serta drainase buruk.

"Proyek itu juga terletak tidak jauh dari garis patahan bumi, di kawasan rawan gempa dan sedang dibangun, tampaknya tanpa rencana memadai untuk mengurangi dampak kegiatan pembangunan di kawasan rawan tersebut," katanya.

Baca juga: Menelusuri Hutan Batang Toru, Mencari Sosok Orangutan Tapanuli

Hurowitz pun mengingatkan kembali akan kejadian longsor pada bulan Desember 2020 di kawasan PLTA Batang Toru yang menewaskan seorang pekerja China.

Dalam laporan singkat mengenai kejadian tersebut di situs resmi Magma Indonesia, disebutkan bahwa lokasi kejadian berada pada Zona Potensi Gerakan Tanah Menengah hingga Tinggi, sehingga memang memiliki potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Memudahkan Pasien, USAID dan Kemenkes Luncurkan Aplikasi Rujukan Pasien TBC oleh Apoteker

Memudahkan Pasien, USAID dan Kemenkes Luncurkan Aplikasi Rujukan Pasien TBC oleh Apoteker

Oh Begitu
Covid-19 Sebabkan Rambut Rontok, Benarkah?

Covid-19 Sebabkan Rambut Rontok, Benarkah?

Kita
5 Fenomena Ini Belum Diungkap oleh Sains, Salah Satunya Hutan Menari

5 Fenomena Ini Belum Diungkap oleh Sains, Salah Satunya Hutan Menari

Oh Begitu
Berusia 3200 Tahun, Kuil Ini Jadi Tempat Mempelajari Alam Semesta di Zaman Kuno

Berusia 3200 Tahun, Kuil Ini Jadi Tempat Mempelajari Alam Semesta di Zaman Kuno

Oh Begitu
5 Obat untuk Pasien Covid-19 Rekomendasi WHO, Dari Dexamethasone hingga Remdesivir

5 Obat untuk Pasien Covid-19 Rekomendasi WHO, Dari Dexamethasone hingga Remdesivir

Oh Begitu
Bantu Kendalikan Perubahan Iklim, Ini Kegiatan yang Bisa Kita Lakukan Sehari-hari

Bantu Kendalikan Perubahan Iklim, Ini Kegiatan yang Bisa Kita Lakukan Sehari-hari

Oh Begitu
Tanpa Cahaya Alami, Bagaimana Manusia Purba Bikin Lukisan di Dalam Gua?

Tanpa Cahaya Alami, Bagaimana Manusia Purba Bikin Lukisan di Dalam Gua?

Oh Begitu
5 Manfaat Berjemur untuk Kesehatan, Salah Satunya Meningkatkan Imun

5 Manfaat Berjemur untuk Kesehatan, Salah Satunya Meningkatkan Imun

Oh Begitu
Obat Ivermectin, Disarankan WHO untuk Terapi Covid-19 Hanya dalam Uji Klinis

Obat Ivermectin, Disarankan WHO untuk Terapi Covid-19 Hanya dalam Uji Klinis

Oh Begitu
Satu Lagi Manfaat Kopi, Turunkan Risiko Penyakit Lever

Satu Lagi Manfaat Kopi, Turunkan Risiko Penyakit Lever

Oh Begitu
Lawan Virus Corona, Peneliti Korea Selatan Coba Gunakan Bakteri

Lawan Virus Corona, Peneliti Korea Selatan Coba Gunakan Bakteri

Oh Begitu
Erick Thohir Sebut Akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Erick Thohir Sebut Akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Oh Begitu
Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Kita
Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Kita
Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Fenomena
komentar
Close Ads X