Kompas.com - 05/03/2021, 09:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Pandemi membuat pola hidup masyarakat berubah. Salah satunya, lebih cenderung pada gaya hidup sedentari, di mana lebih banyak waktu untuk duduk dan kurang bergerak.

Hal ini menyebabkan banyak orang mengalami kenaikan berat badan, bahkan berisiko obesitas.

Selain meluangkan lebih banyak waktu untuk berolahraga, cara lain yang efektif mencegah kelebihan berat badan adalah membaca dengan cermat informasi gizi pada label kemasan makanan dan minuman.

Ini penting untuk memahami jumlah kandungan gula, garam, dan lemak yang akan dikonsumsi.

Baca juga: Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Kebanyakan orang, seringkali ketika membeli sebuah produk dalam kemasan hanya memperhatikan label expired ataudan label harga.

Tapi, abai dengan label informasi nilai gizi atau Nutrition Fact yang tertera pada kemasan.

Padahal, informasi nilai gizi ini ada bukan hanya untuk pemanis kemasan, melainkan untuk kepentingan kesehatan.

Dijelaskan oleh Koordinator Kelompok Standarisasi Pangan Olahan Badan POM Yusra Egayanti, S.Si, Apt,. MP, BPOM mewajibkan pencantuman informasi nilai gizi pada semua produk kemasan, agar konsumen dapat melihat kandungan gula, garam dan lemak.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Nutrifood yang berkolaborasi dengan Kemenkes RI dan Badan POM RI bertajuk 'Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas' Kamis, (4/3/2021).

"Ini sangat penting, mengingat kita harus membatasi konsumsi gula, garam dan lemak harian agar menghindari risiko obesitas," ujar Ega.

Perlu diketahui, bahwa anjuran yang dicantumkan dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2013  minimal konsumsi gula harian berkisar sebanyak 50 gram perhari atau setara dengan 4 sendok makan.

Untuk garam sebanyak 5 gram perhari atau setara dengan 1 sendok teh, sedangkan untuk lemak sebesar 67 gram perhari atau setara dengan 5 sendok makan. 

"Maka dari itu, jika kita ingin membeli atau mengonsumsi suatu produk, lihat dulu kadar garam, gula, dan lemak (GGL) yang ada didalamnya, sehingga bisa memantau agar konsumsi kita tidak lebih dari minimal kebutuhan konsumsi GGL," lanjut Ega.

Namun, Ega menuturkan, masih banyak orang yang belum terbiasa melihat label informasi gizi. Salah satu alasannya, penamaan pada lebael informasi gizi kurang familiar sehingga sulit dipahami.

Namun sebenarnya, cara membaca informasi nilai gizi dapat dipelajari.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X