Kompas.com - 01/12/2020, 11:02 WIB

KOMPAS.com - Pakar darurat utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Senin (30/11/2020), dunia berisiko terkena pandemi di masa depan jika "amnesia" dan tidak belajar dari krisis Covid-19 saat ini.

"Saya telah melihat amnesia yang tampaknya dialami dunia setelah peristiwa traumatis, dan itu bisa dimengerti," kata Mike Ryan dalam media briefing di Jenewa.

“Tapi jika kita melakukan ini lagi seperti yang kita lakukan setelah SARS, seperti yang kita lakukan setelah H5N1, seperti yang kita lakukan setelah pandemi H1N1, jika kita terus mengabaikan kenyataan tentang apa yang muncul dan mengabaikan patogen berbahaya, maka kita cenderung mengalami hal yang sama atau lebih buruk lagi di masa depan,” katanya seperti dilansir Reuters, Selasa (1/12/2020).

Baca juga: Lebih dari Setengah Juta Kasus Covid-19 di Indonesia, Pencarian Vaksin Masih Berlanjut

Ryan juga mengecam negara-negara maju. Pihaknya mengatakan bahwa negara-negara utara telah menjalankan sistem perawatan kesehatan seperti maskapai penerbangan berbiaya rendah. Dunia pun sekarang membayar kerugiannya.

"Di utara, karena model biaya untuk sistem kesehatan, kami telah merancang sistem kesehatan kami untuk diberikan pada 95 persen, 98 persen, dengan efisiensi 100 persen. Ini hampir seperti model maskapai penerbangan berbiaya rendah untuk pemberian layanan kesehatan," katanya.

"Nah, kami membayar harga untuk itu sekarang, tidak memiliki kapasitas lonjakan ekstra yang dibangun ke dalam sistem - melihat kesehatan sebagai pusat biaya dalam ekonomi kita, melihat kesehatan sebagai penguras pembangunan, sebagai penyeret kemunduran ekonomi, dan kami perlu membahas kembali apa artinya itu."

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mendesak negara-negara untuk tidak mempolitisasi perburuan asal-usul virus corona baru SARS-COV-2. Dia mengatakan, jika itu dilakukan maka hanya akan menciptakan hambatan untuk mempelajari kebenaran.

"Kita perlu mengetahui asal muasal virus ini karena dapat membantu kita mencegah wabah di masa mendatang," kata Tedros.

"Tidak ada yang disembunyikan. Kami ingin tahu asalnya, dan hanya itu."

Baca juga: Bayi Lahir dengan Antibodi Covid-19, Ini Penjelasan Pakar Neonatologi

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang menuduh China menyembunyikan luasnya wabah dan badan kesehatan global yang berbasis di Jenewa itu terlalu dekat dengan Beijing, telah mengkritik ketentuan penyelidikan internasional yang dipimpin WHO tentang asal-usul pandemi.

Media pemerintah China mengatakan virus itu ada di luar negeri sebelum ditemukan di kota Wuhan di China tengah, mengutip adanya virus korona pada kemasan makanan beku impor dan makalah ilmiah yang mengatakan telah beredar di Eropa tahun lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.