BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Aqua

Faktanya, Segel Plastik di Kemasan Botol Minuman Bisa Mencemari Lingkungan

Kompas.com - 19/10/2020, 10:57 WIB
Ilustrasi segel plastik di kemasan botol minuman. Dok. ShutterstockIlustrasi segel plastik di kemasan botol minuman.

KOMPAS.com - Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa penggunaan segel plastik pada produk minuman kemasan berfungsi untuk menjaga kualitas isi produk. Sebenarnya, segel plastik tersebut tidak memengaruhi kualitas air di dalamnya.

Pasalnya, minuman kemasan yang beredar di pasaran sudah dilengkapi cincin pengaman di antara tutup botol dan badan botol. Cincin pengaman tersebut berfungsi sebagai kunci untuk menjamin keamanan isi produk.

Selama cincin pengaman tersebut belum terlepas atau terpisah dari tutup botol, dapat dipastikan produk tersebut belum pernah dibuka sebelumnya. Dengan demikian, konsumen tidak perlu khawatir dengan kualitas isi air minum dalam kemasan, meski tidak menggunakan segel plastik.

Cara memastikan cincin pengaman pada minuman kemasan sudah terbuka atau belum pun mudah. Suara retakan saat membuka tutup botol menjadi tanda bahwa cincin pengaman baru terbuka untuk pertama kali.

Baca juga: Pelaku Usaha Makanan dan Minuman Kemasan Ingin Daur Ulang Sampah

Namun, segel plastik masih digunakan di beberapa minuman kemasan, sekalipun sudah menggunakan cincin pengaman. Segel plastik dipakai untuk meyakinkan konsumen akan kualitas produknya.

Segel plastik tidak aman

Selain tidak lagi krusial dalam menjaga keamanan isi produk, segel plastik sebenarnya memiliki beberapa kekurangan. Misalnya saja, dapat merusak kesehatan dan mencemari lingkungan.

Segel plastik yang digunakan pada kemasan botol minuman umumnya terbuat dari polyvinyl chloride ( PVC). PVC merupakan material yang berbahaya jika digunakan dalam kemasan makanan dan terjadi kontak langsung dengan manusia.

PVC biasa digunakan dalam pembuatan botol detergen, botol sabun, botol sampo, dan pipa saluran.

Baca juga: 5 Hal Penting Saat Memilih Botol Minum

Bahan plastik ini juga mengandung zat Diethylhydroxylamine (DEHA) yang dapat merusak ginjal dan hati. Melansir dari laman EcoWatch, PVC juga mengandung klorin yang tinggi. Jika terkena panas, klorin tersebut dapat membentuk dioksin yang memiliki efek buruk pada kesehatan.

Bahkan, bahan kimia yang digunakan untuk membuat PVC diakui sebagai karsinogen oleh The World Health Organization’s International Agency for Research of Cancer. Bila tubuh terus-menerus terpapar, akan berpotensi memicu penyakit kanker.

Selain berbahaya bagi kesehatan, PVC juga memiliki dampak negatif pada lingkungan. Lebih lanjut, menurut studi yang dilakukan oleh McKinsey, segel plastik pada botol air kemasan terbuat dari PVC tipis sehingga mudah tercecer. Sampah jenis ini juga sulit didaur ulang.

Ceceran sampah segel plastik lama-kelamaan dapat mencemari lingkungan dan berdampak buruk terhadap ekosistem.

Baca juga: Yang Perlu Diperhatikan dari Minuman Kemasan

Seperti diketahui, sampah plastik tengah menjadi perhatian dunia. Pasalnya, selain mencemari lingkungan, sampah plastik juga membahayakan kehidupan di masa depan.

Sampah plastik membutuhkan waktu 1.000 tahun untuk dapat terurai dengan sempurna. Bahkan, jika masuk ke laut, sampah plastik dapat mengancam kelestarian hewan laut.

Diberitakan Kompas.com, Senin (3/8/2020), sebuah penelitian terbaru memperkirakan sekitar 710 juta ton sampah plastik akan mencemari lingkungan pada 2040. Namun, hal tersebut dapat dihindari dengan mengambil langkah yang signifikan, seperti mengurangi penggunaan plastik.

“Jika kita tak melakukan apa pun, masalah sampah plastik jadi semakin tidak terkendali. Jadi, berdiam diri bukanlah pilihan,” kata Manajer Senior Pew’s Preventing Ocean Plastics Dr Winnie Lau.

Baca juga: Habitat Penguin di Ujung Dunia Terancam Sampah Plastik

Segel pengaman di masa depan

Penggunaan segel cincin dan meniadakan segel plastik merupakan langkah awal untuk mengurangi sampah plastik. Beberapa perusahaan air minum di Indonesia pun telah mengambil langkah tersebut.

Ke depan, desain cincin pengaman kemungkinan bakal terus berkembang. Tidak menutup kemungkinan, cincin pengaman tidak lagi terpisah dengan tutup botol. Dengan begitu, sampah dari tutup botol dan cincin pengaman tidak mudah tercecer.

Bukan tidak mungkin pula perkembangan teknologi di masa depan dapat mereduksi penggunaan plastik dalam industri minuman kemasan, termasuk dalam pembuatan cincin pengaman.

Salah satu bahan yang sedang dikembangkan dan bisa digunakan adalah biodegradable plastic atau bioplastik yang diproduksi dari serat tumbuhan. Dengan menggunakan bahan serat tumbuhan, bioplastik dapat dengan mudah terurai, baik melalui mikroorganisme maupun cuaca.

Baca juga: Tahun 2040, 1,3 Miliar Ton Sampah Plastik Akan Tenggelamkan Bumi

Mengutip theguardian.com, Kamis (1/10/2020), pemerintah Inggris tengah membuat regulasi dan standardisasi penggunaan bioplastik yang ramah lingkungan. Nantinya, bioplastik harus lulus uji, seperti dapat diurai dalam dua tahun dan tidak mengandung mikroplastik atau nanoplastik.

Di Indonesia, teknologi bioplastik terus diuji dan dikembangkan sebelum digunakan secara massal untuk mengganti benda-benda berbahan plastik.

Sebelum teknologi tersebut digunakan secara massal, konsumen bisa mengambil langkah nyata dengan memilih produk yang ramah lingkungan. Konsumen juga bisa lebih bijak dengan mengurangi sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara ini, konsumen telah berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan menekan warisan sampah plastik pada generasi berikutnya. Konsumen pun turut membantu kehidupan masa depan yang lebih baik.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Oh Begitu
Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Oh Begitu
Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Kita
Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Oh Begitu
Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Fenomena
Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Oh Begitu
Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Oh Begitu
Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
komentar