PCR Deteksi Virus Corona Sudah Mati, Mungkinkah Penyebab Hasil Tes Bisa Positif Palsu?

Kompas.com - 07/09/2020, 13:06 WIB
Petugas laboratorium yang meneliti Biokimia Farmasi LIPI melakukan uji validasi deteksi virus corona dari sample swab yang telah diekstrak di Laboratorium Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (31/8/2020). Metode RT-LAMP memiliki sejumlah kelebihan antara lain waktu reaksinya cepat, sekitar satu jam. Sebagai perbandingan, deteksi Covid-19 memakai metode PCR membutuhkan waktu 2-4 jam. RT-LAMP juga digunakan untuk mendeteksi virus influenza, sindrom penapasan akut parah (SARS), dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas laboratorium yang meneliti Biokimia Farmasi LIPI melakukan uji validasi deteksi virus corona dari sample swab yang telah diekstrak di Laboratorium Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (31/8/2020). Metode RT-LAMP memiliki sejumlah kelebihan antara lain waktu reaksinya cepat, sekitar satu jam. Sebagai perbandingan, deteksi Covid-19 memakai metode PCR membutuhkan waktu 2-4 jam. RT-LAMP juga digunakan untuk mendeteksi virus influenza, sindrom penapasan akut parah (SARS), dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).


KOMPAS.com - Seseorang yang terinfeksi virus corona, besar kemungkinan hanya dapat menularkan penyakit Covid-19 sekitar seminggu.

Akan tetapi, hasil tes dapat menunjukkan ia masih positif Covid-19 beberapa pekan setelahnya.

Sejumlah ilmuwan mengungkapkan bahwa tes yang digunakan untuk mendiagnosis virus corona sangatlah sensitif, sehingga bisa mendeteksi fragmen virus yang sudah lama dari infeksi lama, seperti dikutip dari BBC Indonesia, Senin (7/9/2020).

Para peneliti mengatakan hal itu bisa saja mengarah pada perkiraan berlebihan terkait skala pandemi virus corona saat ini.

Kendati demikian, beberapa ahli mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana tes yang andal dapat dibuat, sehingga tidak menyebabkan kasus-kasus aktif tak terdeteksi.

Baca juga: LIPI Bantu Percepat Deteksi Virus Corona Pakai Uji qRT-PCR

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini, Profesor Carl Heneghan mengatakan bahwa tes Covid-19 harus memiliki ambang batas, sehingga jumlah virus yang sangat kecil, tidak lantas memicu hasil positif.

Prof Heneghan meyakini bahwa adanya jejak virus lama yang terdeteksi, setidaknya dapat menjelaskan mengapa jumlah kasus positif meningkat, sementara angka perawatan di rumah sakit tetap stabil.

Para peneliti di The Centre for Evidence-Based Medicine Universitas Oxford meninjau bukti dari 25 studi, yang memasukkan spesieman virus dari tes positif ke dalam cawan petri.

Studi ini untuk melihat apakah virus corona dari spesimen yang diambil akan berkembang.

Baca juga: Masih Bingung Rapid Test Corona atau Tes PCR, Ini Penjelasan Ahli

 

Peneliti menggunakan metode "kultur virus", yakni untuk melihat apa virus masih dapat menginfeksi.

Metode tersebut akan menunjukkan apakah hasil tes positif telah mendeteksi virus aktif yang dapat berkembang biak dan menyebar, ataukah hanya fragmen virus mati yang tidak akan tumbuh di laboratorium maupun pada manusia.

Lantas, bagaimana Covid-19 didiagnosis?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X