Cegah Virus Corona, China Akhirnya Hapus Trenggiling dari Daftar Obat Tradisional

Kompas.com - 10/06/2020, 19:02 WIB
Trenggiling dewasa. shutterstock.com/positivesnapshotTrenggiling dewasa.

Pada tahun 2020 ini, secara resmi sisik trenggiling tidak lagi menjadi bahan baku untuk pengobatan tradisional China.

Trenggiling terancam punah

Selama ini, trenggiling menjadi spesies mamalia yang paling banyak diperdagangkan di dunia.

Sebanyak 200.000 trenggiling dikonsumsi setiap tahun di Asia, baik sisik maupun dagingnya.

Lebih dari 130 ton sisik, hewan hidup dan mati disita dalam perdagangan hewan liar pada akhir tahun lalu.

Baca juga: Mengenal Trenggiling, Hewan Langka yang Dituduh Penyebar Virus Corona

Bahkan angkanya diperkirakan bisa mencapai hingga 400.000 hewan, menurut kelompok konservasi WildAid.

Perdagangan delapan spesies trenggiling dilindungi oleh hukum internasional dan tiga dari empat spesies merupakan hewan asli Asia yang masuk dalam daftar merah Union for Conservation of Nature, sebagai spesies yang terancam punah.

Termasuk di antaranya spesies trenggiling asal China yang semakin mendekati kepunahan.

Dokumentasi sisik trenggiling yang diamankan di Malaysia pada 8 Mei 2017.  Kini, pada 13 Juni 2017, otoritas Malaysia kembali mengamankan 300 kilogram sisik trenggiling yang diselundupkan di Bandara Kuala Lumpur. AFP/ MANAN VATSYAYANA Dokumentasi sisik trenggiling yang diamankan di Malaysia pada 8 Mei 2017. Kini, pada 13 Juni 2017, otoritas Malaysia kembali mengamankan 300 kilogram sisik trenggiling yang diselundupkan di Bandara Kuala Lumpur.

Baca juga: Trenggiling Jadi Mamalia yang Paling Banyak Diperdagangkan di Dunia

Lebih banyak kejelasan diharapkan setelah China menyelesaikan dan menyetujui revisi undang-undang perlindungan satwa liar, mungkin di tahun depan.

“Kami sangat memuji pengumuman ini, dibuat sebagai pengakuan atas perlunya melindungi trenggiling yang terancam punah,” Steve Blake, kepala perwakilan WildAid di Beijing.

Trenggiling yang terkenal sulit berkembang biak di penangkaran, telah menjadi sorotan dunia sejak dimulainya wabah Covid-19.

Baca juga: Trenggiling Mungkin Bukan Penyebar Virus Corona, Ini Alasannya

Sebab, penelitian menunjukkan hewan ini mungkin merupakan inang perantara yang menularkan virus SARS-CoV-2 ke manusia.

Dari dua hewan yang diketahui secara alami membawa virus corona Sars-CoV-2, yakni kelelawar dan trenggiling, yang terakhir adalah yang paling bermasalah, baik untuk dagingnya dan untuk sisik yang melindungi tubuhnya.

Hingga kini, menurut ahli, tidak ada yang secara positif diidentifikasi sebagai sumber perantara yang mentransfer virus corona baru ini ke manusia, meskipun identifikasi 100 persen terbukti sulit dipahami.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terapi Antibodi Covid-19 Efektif untuk Gejala Ringan, Studi Jelaskan

Terapi Antibodi Covid-19 Efektif untuk Gejala Ringan, Studi Jelaskan

Fenomena
Mengenal Solusi Iklim Alami untuk Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia

Mengenal Solusi Iklim Alami untuk Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia

Fenomena
Kadal Raksasa Belajar Terbang Selama 150 Juta Tahun, Kok Bisa?

Kadal Raksasa Belajar Terbang Selama 150 Juta Tahun, Kok Bisa?

Fenomena
Fosil Rahang di Antartika Ungkap Burung Terbesar Pernah Hidup di Bumi

Fosil Rahang di Antartika Ungkap Burung Terbesar Pernah Hidup di Bumi

Fenomena
BPOM Belum Keluarkan Izin Edar Vaksin Covid-19 di Indonesia, Apa Alasannya?

BPOM Belum Keluarkan Izin Edar Vaksin Covid-19 di Indonesia, Apa Alasannya?

Oh Begitu
Uji Kesuburan Tanah di Mars, Ahli Lakukan Simulasi Bercocok Tanam

Uji Kesuburan Tanah di Mars, Ahli Lakukan Simulasi Bercocok Tanam

Oh Begitu
BPOM Tak Akan Keluarkan Izin Edar Vaksin Corona Sebelum Terbukti Aman

BPOM Tak Akan Keluarkan Izin Edar Vaksin Corona Sebelum Terbukti Aman

Oh Begitu
Libur Panjang, Selat Malaka hingga Flores Waspada Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Libur Panjang, Selat Malaka hingga Flores Waspada Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Penemuan yang Mengubah Dunia: Sejarah Termometer Hingga Manfaatnya di Masa Pandemi Covid-19

Penemuan yang Mengubah Dunia: Sejarah Termometer Hingga Manfaatnya di Masa Pandemi Covid-19

Oh Begitu
BPOM: Belum Ada Kandidat Vaksin Covid-19 yang Dapat Izin Edar di Indonesia

BPOM: Belum Ada Kandidat Vaksin Covid-19 yang Dapat Izin Edar di Indonesia

Fenomena
Saat Sakit, Kelelawar Cenderung Melakukan Social Distancing

Saat Sakit, Kelelawar Cenderung Melakukan Social Distancing

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Kenapa Undur-undur Jalan Mundur dan Bikin Lubang?

Serba-serbi Hewan: Kenapa Undur-undur Jalan Mundur dan Bikin Lubang?

Oh Begitu
Virus Corona Si Penipu Ulung, Studi Jelaskan Cara Mimikri SARS-CoV-2

Virus Corona Si Penipu Ulung, Studi Jelaskan Cara Mimikri SARS-CoV-2

Fenomena
Jarang Disorot, Ini 3 Peran Penting Etnis Tionghoa dalam Sumpah Pemuda

Jarang Disorot, Ini 3 Peran Penting Etnis Tionghoa dalam Sumpah Pemuda

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Telemedisin dan Layanan Kesehatan Digital Makin Krusial di Indonesia

Pandemi Covid-19, Telemedisin dan Layanan Kesehatan Digital Makin Krusial di Indonesia

Kita
komentar
Close Ads X