Bagaimana Google Trends Bisa Bantu Monitoring Demam Berdarah?

Kompas.com - 28/01/2019, 18:35 WIB
Ilustrasi demam berdarah kenary820/shutterstockIlustrasi demam berdarah

Oleh Atina Husnayain dan Anis Fuad

DALAM dua pekan Januari tahun ini, hampir 150 warga Depok Jawa Barat terkena demam berdarah dengue ( DBD). Di Jakarta, jumlah kasus DBD meningkat hampir dua kali (370 kasus) pada bulan ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka sebenarnya mungkin lebih tinggi karena belum semua kasus di fasilitas kesehatan terlaporkan.

Kementerian Kesehatan telah menyatakan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah. Bahkan ada kematian karena DBD seperti di Kabupaten Semarang dan Labuan Bajo. Sejak awal Januari 2019 kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat drastis di berbagai daerah.

Selain cara-cara konvensional (pendataan kasus lewat fasilitas kesehatan), kini saatnya memanfaatkan data di internet untuk mendukung sistem monitoring DBD yang lebih efektif. Riset terbaru kami menunjukkan bahwa data di internet  bisa dipakai untuk mendeteksi kenaikan kasus DBD lebih cepat dibanding cara konvensional.

Kerugian akibat gigitan nyamuk

Indonesia adalah daerah endemis DBD terbesar di Asia Tenggara. Kasus DBD pertama dilaporkan pada 1968 hanya terjadi di Surabaya dan Jakarta. Kini, tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang aman dari DBD.

Estimasi kerugian akibat KLB DBD pada 2011 diperkirakan mencapai lebih dari US$6 juta dan diperkirakan naik menjadi lebih dari US$380 juta pada 2015.

Karena musim hujan diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan risiko kesakitan dan wabah DBD perlu diwaspadai dan diantisipasi.

Keterbatasan pengawasan saat ini

Mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue yang terbitkan oleh Kementerian Kesehatan, setiap pasien kasus DBD yang dirawat di rumah sakit wajib dilaporkan dalam 1x24 jam sejak diagnosis ditetapkan.

Namun sistem Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KD-RS) tidak selalu tepat waktu. Sebuah riset di Bandung mengungkapkan bahwa hanya 45,7% kasus DBD yang dilaporkan ke dinas kesehatan kota, itu pun setelah beberapa hari hingga bulan.

Lagi pula, pelaporan kasus DBD dari rumah sakit telah melewati sekian hari masa inkubasi sejak pertama kali digigit oleh nyamuk Aedes aegypti. Korban umumnya memulai dengan minum obat penurun panas, berkunjung ke Puskesmas atau klinik, baru kemudian dirawat di rumah sakit.

Dengan mudahnya mencari informasi, pasien diduga mulai googling di Internet tentang DBD sejak awal masa inkubasi.

Karena itu, kegiatan fogging setelah laporan KD-RS kalah cepat dengan aktivitas penularan oleh nyamuk pembawa virus dengue di lingkungan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar
Close Ads X