Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Begini Cara Membangun Hunian Tahan Gempa di Indonesia

Kompas.com - 09/01/2024, 11:00 WIB
Masya Famely Ruhulessin,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa selama 2023 terdapat 10.789 aktivitas gempa di Indonesia. Jumlah aktivitas ini di atas rata-rata tahunan sebanyak 7.000 kali gempa.

Dari total jumlah gempa yang tercatat, gempa yang dirasakan guncangannya oleh masyarakat terjadi sebanyak 861 kali dengan 24 diantaranya memberikan dampak kerusakan yang cukup signifikan terhadap bangunan, terutama rumah tinggal.

Dosen Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI) Nuraziz Handika mengungkapkan,  Indonesia yang sering terdampak oleh aktivitas seismik, menghadapi konsekuensi serius berupa kerusakan pada struktur bangunan, khususnya perumahan.

Gempa bumi tidak hanya menginduksi vibrasi fisik pada bangunan, tetapi juga menyingkap kekurangan dalam aspek desain dan konstruksi,” ujar Nuraziz dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Sekali Lagi, Resep Jitu Jepang Bikin Gedung Anti-gempa

Kelemahan ini tidak hanya merusak integritas struktural, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan fatal pada bangunan saat terjadi gempa.

Mengambil contoh gempa Lombok 2018, Nuraziz menyoroti permasalahan detail pembesian dan sambungan pada bangunan, yang menjadi salah satu pemicu kerusakan terbesar pada struktur bangunan.

Menurutnya, kualitas bahan bangunan, pendetailan pembesian, serta sambungan pada dinding, kolom, dan balok merupakan faktor utama yang menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan fasilitas umum, fasilitas sosial, rumah tinggal, serta bangunan sederhana lainnya saat dilanda gempa.

“Untuk membuat bangunan tahan gempa, perlu memperhatikan aspek-aspek, seperti sambungan, pemilihan dan persiapan material sebelum digunakan, pendetailan pekerjaan tulangan, pengangkuran dinding ke kolom, pendetailan penulangan balok kolom, serta hal lainnya agar sesuai dengan standar,” papar Nuraziz.

Ia mencontohkan, diperlukan panjang pengangkuran yang sesuai pada sambungan antara kolom dan balok sloof, dimana tulangan kolom pada bagian atas dan bawah/pondasi kolom sebaiknya dilebihkan dari besar minimal 40 kali diameternya.

Nuraziz yang juga merupakan dosen bidang struktur dengan konsentrasi penelitian pada fenomena retak dan kerusakan material konstruksi FTUI, mengungkapkan bahwa standar yang dijadikan acuan adalah standar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Banyak poster yang dibuat untuk lebih mudah diikuti oleh para pelaksana di lapangan mengacu pada standar tersebut yang dapat diunduh pada tautan https://teddyboen.com/publications_id.html.

Agar lebih mudah dipahami, Nuraziz memberikan contoh perhitungan yang baik terkait besi pengangkuran kolom dan dinding bata.

Baca juga: Rahasia Pencakar Langit di Jepang Tetap Kokoh meski Dihantam Gempa

Ia mengatakan, jika diameter tulangan yang digunakan sebesar 10 mm, maka panjang minimal pengangkuran seharusnya adalah 40 cm ke arah kanan dan ke kiri dari sudut bangunan.

Pengangkuran ini diaplikasikan setiap enam lapis bata. Selanjutnya, besi angkur dicor pada lapis bata sebagai pengikat antara kolom dengan dinding. Dengan demikian, sambungan atau angkur akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Penerapan prinsip yang sama juga berlaku untuk sambungan pada sopi-sopi/gunung-gunung (atap) maupun sudut dinding.

Diperlukan pengangkuran yang tepat pada kolom di tengah dinding yang terhubung pada segitiga pelana atap dan pada kolom yang bertemu dengan sudut dinding.

Untuk membuat bangunan tahan gempa, terdapat beberapa persyaratan pokok yang perlu dipenuhi antara lain kualitas bahan bangunan yang baik, keberadaan dimensi struktur yang sesuai, sambungan elemen struktur utama yang baik, dan mutu pekerjaan yang baik.

“Perlu diperhatikan bahwa pekerjaan ini tidak terlihat kasat mata, dan baru akan teruji ketika gempa terjadi. Oleh karena itu, patuhilah proses dan standar dalam pembuatan bangunan untuk menjaga keselamatan kita bersama,” tandas Nuraziz.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com