Kompas.com - 19/05/2022, 20:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI angkat bicara soal Singapura yang tak mengizinkan Ustaz Abdul Somad (UAS) masuk.

Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah mengatakan dalam pengarahan media secara daring pada Kamis (19/5/2022) bahwa setiap negara, termasuk Singapura, memiliki kedaulatan dan kebijakan imigrasi masing-masing.

“Dalam praktik selama ini, negara memiliki yurisdiksi dan ketentuan hukum yang berlaku di negaranya. Bisa saja tidak menerima seseorang masuk ke teritorial wilayahnya berdasarkan berbagai pertimbangan dan kita tidak selalu tahu apa alasannya,” kata Faizasyah, sebagaimana dilansir Antara.

Baca juga: Singapura Sebut Alasan UAS Ditolak Masuk, Tuding Ajarkan Ekstremisme

Menanggapi kasus UAS yang ditolak masuk ke Singapura, Faizasyah mengatakan bahwa KBRI telah melakukan langkah perlindungan terhadap WNI, termasuk dengan melayangkan nota diplomatik untuk meminta penjelasan atas alasan penolakan.

Nota tersebut sudah ditanggapi oleh Kementerian Dalam Negeri Singapura melalui pernyataan tertulisnya, yang menyebut alasan penolakan masuk karena UAS dianggap menyebarkan ajaran ekstremis dan perpecahan.

“Tentang permasalahan kemarin, KBRI sudah melakukan tugasnya dan kita juga sudah mencatat penjelasan dari Singapura,” kata Faizasyah.

Baca juga: Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Sementara itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemenlu Judha Nugraha meluruskan bahwa apa yang dialami oleh UAS merupakan penolakan masuk (not to land), dan bukan deportasi seperti yang disampaikan sang ustaz dalam video yang beredar.

“Yang bersangkutan belum lewat proses imigrasi dan pemeriksaan, dan sudah ditolak masuk. Jadi ada dua istilah yang harus kita pahami, soal deportasi dan not to land,” ujar Judha.

Sama seperti Singapura, Judha menjelaskan bahwa Indonesia memiliki aturan keimigrasian sendiri yang diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2011.

Baca juga: UAS Tak Diizinkan Masuk Singapura, Begini Tanggapan Dubes RI dan Kronologinya

Dalam UU itu disebutkan bahwa merupakan kewenangan Indonesia untuk tidak menyampaikan alasan penolakan terhadap WNA untuk masuk ke wilayah RI.

Kebijakan penolakan masuk juga dilakukan Indonesia. Sejak Januari hingga 17 Mei 2022, tercatat ada 452 WNA yang ditolak masuk ke Indonesia dengan berbagai alasan keimigrasian, termasuk di antaranya warga negara Singapura.

“Setiap negara memiliki kedaulatan masing-masing dan kebijakan imigrasi masing-masing mengenai siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak boleh masuk,” tutur Judha.

Baca juga: KBRI Tegaskan UAS Tak Dideportasi, tetapi Belum Masuk ke Singapura

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Putin Puas Bertemu Jokowi: Pembicaraan yang Bermakna

Putin Puas Bertemu Jokowi: Pembicaraan yang Bermakna

Global
Ini Wujud Tembok Perbatasan Baru Polandia dengan Belarus, Membentang Hingga 186 Kilometer

Ini Wujud Tembok Perbatasan Baru Polandia dengan Belarus, Membentang Hingga 186 Kilometer

Global
Keluh Kesah Putin kepada Jokowi

Keluh Kesah Putin kepada Jokowi

Global
Setelah Temui Putin, Jokowi Langsung Bertolak Ke Abu Dhabi

Setelah Temui Putin, Jokowi Langsung Bertolak Ke Abu Dhabi

Global
Usai Bertemu Jokowi, Putin Nyatakan Siap Penuhi Permintaan Pupuk Negara Sahabat, Termasuk Indonesia

Usai Bertemu Jokowi, Putin Nyatakan Siap Penuhi Permintaan Pupuk Negara Sahabat, Termasuk Indonesia

Global
Jokowi Bertemu Putin di Kremlin, Tegaskan Sejumlah Hal Penting

Jokowi Bertemu Putin di Kremlin, Tegaskan Sejumlah Hal Penting

Global
Rangkuman Hari ke-127 Serangan Rusia ke Ukraina, Jokowi Bertemu Putin di Kremlin, 10 Rudal Hantam Perumahan di Mykolaiv

Rangkuman Hari ke-127 Serangan Rusia ke Ukraina, Jokowi Bertemu Putin di Kremlin, 10 Rudal Hantam Perumahan di Mykolaiv

Global
[POPULER GLOBAL] Reaksi Media Rusia atas Kunjungan Jokowi ke Ukraina | Rusia Tingkatkan Serangan setelah Jokowi Berkunjung

[POPULER GLOBAL] Reaksi Media Rusia atas Kunjungan Jokowi ke Ukraina | Rusia Tingkatkan Serangan setelah Jokowi Berkunjung

Global
Upaya Jokowi Selamatkan Eksistensi KTT G20 di Bali

Upaya Jokowi Selamatkan Eksistensi KTT G20 di Bali

Global
Sri Lanka Bangkrut, IMF Minta 2 Hal Ini untuk Keluar dari Krisis

Sri Lanka Bangkrut, IMF Minta 2 Hal Ini untuk Keluar dari Krisis

Global
Rusia Mundur dari Pulau Ular agar Ukraina Bisa Ekspor Produk Pertanian

Rusia Mundur dari Pulau Ular agar Ukraina Bisa Ekspor Produk Pertanian

Global
Bakteri Salmonella Ditemukan di Pabrik Cokelat Terbesar Dunia di Belgia

Bakteri Salmonella Ditemukan di Pabrik Cokelat Terbesar Dunia di Belgia

Global
Jokowi ke Ukraina dan Rusia, Akankah Indonesia jadi Juru Damai?

Jokowi ke Ukraina dan Rusia, Akankah Indonesia jadi Juru Damai?

Global
Banting Murid 27 Kali hingga Tewas, Pelatih Judo Dipenjara 9 Tahun

Banting Murid 27 Kali hingga Tewas, Pelatih Judo Dipenjara 9 Tahun

Global
Xi Jinping Datang, Hong Kong Tegang

Xi Jinping Datang, Hong Kong Tegang

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.