"Ibuku yang Terinfeksi Covid Dijadikan Kelinci Percobaan"

Kompas.com - 16/10/2021, 18:17 WIB
Irene (tengah) dan Norberto (di sebelah kirinya) sedianya akan merayakan ulang tahun pernikahan ke-54 pada Mei. KATIA CASTILHO via BBC INDONESIAIrene (tengah) dan Norberto (di sebelah kirinya) sedianya akan merayakan ulang tahun pernikahan ke-54 pada Mei.

BRASILIA, KOMPAS.com - Sebuah penyedia layanan kesehatan di Brasil dituduh memberikan obat-obatan yang belum teruji kepada pasien Covid-19 dan melakukan eksperimen terhadap lansia tanpa persetujuan keluarga. Tuduhan ini dikaitkan dengan kematian, yang menurut keluarga, seharusnya bisa dicegah.

Rasa duka Katia Castilho membuatnya tidak bisa tidur. Pada Maret lalu, Noberto, ayahnya, dilarikan ke rumah sakit umum di Sao Paulo karena Covid-19.

Brasil, yang terpukul keras oleh pandemi, saat itu tengah berada di puncak gelombang kedua, dengan tingkat kematian per hari mencapai 4.000 kasus.

Baca juga: Cucu Presiden Brasil Positif Covid-19, Setelah Ayahnya Terinfeksi Usai ke AS Tanpa Divaksin

Beberapa hari setelahnya, ibu Katia menampakkan gejala tertular Covid-19.

Irene, tak seperti Noberto, memiliki akses pada penyedia layanan kesehatan bernama Prevent Senior, salah satu yang terbesar di negara tersebut dan memiliki lebih dari setengah juta pelanggan.

Keluarga Castilho menghubungi perusahaan tersebut dan dikirimi apa yang disebut sebagai "Covid Kit", sebuah paket perawatan Covid berisi hydroxychloroquine, azithromycin, dan ivermectin — meskipun tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan obat-obatan tersebut bermanfaat dalam menyembuhkan virus corona.

Keadaan Irene semakin memburuk, sehingga Katia dan kedua saudara perempuannya memutuskan membawa sang ibu ke rumah sakit yang dimiliki Prevent Senior.

Namun, yang mengejutkan bagi tiga kakak-beradik itu, sang ibu dipulangkan tanpa diperiksa.

Dalam semalam, keadaan Irene memburuk. Pagi harinya, Irene bahkan sulit bernapas meski sudah dibantu dengan tabung oksigen.

Keluarga itu kembali ke rumah sakit, kali ini Irene dirawat inap.

Di hari yang sama, Noberto meninggal dunia.

Dia dimakamkan dengan terburu-buru, tanpa ritual, sementara mobil jenazah menunggu salah satu putrinya memberikan ucapan selamat tinggal sebelum mengantarkannya kembali ke rumah dan menjemput jenazah lain.

Baca juga: Kekeringan Parah Ancam Pasokan Listrik, Warga Brasil Diminta Berhenti Gunakan Lift dan Mandi Air Dingin

Irene diberikan perangkat yang disebut Covid Kit, sebuah perawatan yang belum teruji, oleh penyedia kesehatannya.KATIA CASTILHO via BBC INDONESIA Irene diberikan perangkat yang disebut Covid Kit, sebuah perawatan yang belum teruji, oleh penyedia kesehatannya.
Sementara itu, di rumah sakit, Irene dirawat di bangsal kecil. Perawat jarang menengoknya, kata Katia. Ketiga putrinya bergantian menjaga dan memastikan masker oksigen terpasang.

Suatu hari, Katia mendapati salah seorang perawat memberikan Irene cairan kental.

Itu adalah flutamide, kata sang perawat, sejenis hormon yang dipakai untuk merawat pasien kanker prostat.

Flutamide dapat menyebabkan kegagalan fungsi liver pada pasien tertentu, dan Irene adalah penyintas kanker liver.

Katia dan kedua kakaknya berkata, mereka telah meminta rumah sakit tidak memberikan obat itu kepada ibunya.

"Saya sangat gundah dengan apa yang terjadi pada ayah saya, sehingga saya tidak mencari dokter untuk mendiskusikan ini," ujar Katia. "Lalu saya melihat keadaan ibu saya semakin buruk."

Irene dirawat di rumah sakit selama nyaris 10 hari, ketika dia kemudian dibawa ke ruang perawatan intensif.

Organ-organnya mengalami kegagalan, dan dia mengalami thrombosis vena dalam. Setelah tiga minggu, dia juga terinfeksi dengan bakteri yang umum ditemukan di rumah sakit.

Irene meninggal dunia.

Ketiga putrinya hanya punya 20 menit untuk mendampingi ibu mereka di saat terakhirnya. Irene dikremasi dan abunya ditaburkan di atas kuburan Noberto.

Baca juga: Dilarang Masuk Restoran karena Belum Vaksin, Presiden Brasil Kepergok Makan Berdiri di Pinggir Jalan AS

"Ibu saya mempercayai mereka"

Setelah intensitas kedua peristiwa itu mereda, Katia berkata dia "tiba-tiba menyadari" apa yang terjadi pada saat perawatan ibunya.

"Saya mulai mengingat-ingat kembali. Saya tidak bisa tidur. Saya merasa seperti sedang memutar kaset kembali, dan menyadari apa yang salah."

Kelalaian itu, kata Katia, dimulai sejak Irene menerima paket "Covid Kit". Saat itu, para ilmuwan telah mulai berbicara tentang banyaknya penggunaan obat-obatan ini, dan banyak dokter meresepkannya ketimbang mengirim pasien ke perawatan intensif yang lebih mahal.

"Ibu saya sangat percaya (Prevent Senior). Dia sangat cemas dan meminta saya menelpon mereka untuk menanyakan kapan 'Covid Kit' miliknya sampai," ujarnya.

"Dia tidak akan pernah menyangka bahwa di tangan mereka, dia hanyalah kelinci percobaan, dan dia akan segera meninggal dunia."

Kini, lebih banyak kematian disalahkan atas praktik medis perusahaan tersebut.

Presiden Bolsonaro telah sering kali menyarankan perawatan dan obat Covid yang belum teruji.REUTERS via BBC INDONESIA Presiden Bolsonaro telah sering kali menyarankan perawatan dan obat Covid yang belum teruji.
Senat yang tengah menyelidiki penanganan pandemi oleh pemerintah juga mendengar tuduhan bahwa perusahaan tersebut ingin mendukung pengobatan-pengobatan yang belum terbukti, yang pernah disebut oleh Presiden Jair Bolsonaro, yang berulang kali mengecilkan Covid-19.

Mantan pasien, Tadeu Frederico de Andrade yang berusia 65 tahun memberikan kesaksian bahwa dia juga diberikan "Covid Kit" dan dirawat dengan flutamide.

Keluarganya berkata bahwa para dokter ingin mengalihkannya ke perawatan paliatif tanpa persetujuan mereka.

"Saya adalah penyintas dari plot mengerikan ini," katanya.

Bruna Morato, seorang pengacara yang mewakili 12 orang whistleblower, mengatakan kepada senat bahwa para dokter diancam dan dipecat jika mereka tidak menyetujui pengobatan yang belum terbukti ini.

Perusahaan tersebut juga dituduh sengaja tidak menyebutkan Covid-19 dalam catatan kematian para pasien untuk menyembunyikan skala permasalahan ini.

Baca juga: Foto Viral Pevoli Brasil Pakai Masker Saat Laga, Ada Alasan Menyentuh di Baliknya

Prevent Senior berkata kepada BBC melalui pernyataan tertulis bahwa Irene dan Tadeu "menerima semua dukungan klinis dan medis" dan perusahaan tidak pernah melakukan tindakan perawatan yang bertentangan dengan etika medis demi mengurangi biaya.

Mereka juga berkata tuduhan terhadap perusahaan tersebut di muka Senat "tak berdasar" dan "merupakan hukuman publik". Perusahaan tersebut juga berkata tidak pernah memecat pegawainya karena pengakuan mereka.

Pedro Batista, CEO perusahaan tersebut, mengaku kepada para senator bahwa Covid-19 tak ditulis dalam laporan pasien setelah dua minggu, karena mereka dianggap tidak lagi menularkan virus.

Namun dia menyangkal menguji obat yang belum terbukti khasiatnya kepada pasien tanpa sepengetahuan mereka.

Saat ini, Prevent Senior sedang diselidiki oleh jaksa penuntut federal, polisi, dan diinvestigasi secara terpisah oleh penegak hukum negara bagian São Paulo.

Kasus ini, yang telah menimbulkan kemarahan publik di negara tersebut, menimbulkan kontroversi politik. Pemerintah federal disalahkan karena longgarnya aturan mereka atas perawatan terkait Covid-19.

Senat juga telah mendengar bahwa pemerintahan Bolsonaro telah berulang kali tidak mengacuhkan tawaran dari perusahaan obat Pfizer yang menjual 70 juta dosis vaksin mereka.

Pekan depan, laporan final hasil investigasi ini akan dibuka untuk umum, dan kemungkinan akan menuduh Bolsonaro telah melakukan pelanggaran serius dalam respon terhadap pandemi, yang mengakibatkan lebih dari 600.000 kematian.

Katia Castilho berkata keluarganya merasa sangat "hancur".

"Hari ketika ayah saya meninggal dunia, dia seharusnya menerima dosis pertama vaksin," ujarnya. "Saya kehilangan ayah dan ibu saya karena virus yang sudah ada vaksin (untuk melawannya).

"Menyangkal sains bisa menyebabkan orang lain tewas, tapi ketika Anda memikirkan tentang uang dan kepentingan yang terlibat dalam semua ini… Saya tidak bisa terus diam."

* Vinicius Lemos di São Paulo berkontribusi untuk laporan ini

Baca juga: Ribuan Warga Brasil Tumpah di Jalan, Tuntut Pemakzulan Presiden Jair Bolsonaro

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ukraina Teriak, Minta Komunitas Internasional Cegah Rusia Lancarkan Invasi

Ukraina Teriak, Minta Komunitas Internasional Cegah Rusia Lancarkan Invasi

Global
Finlandia Siagakan Militernya Setelah Ketegangan soal Ukraina Meningkat

Finlandia Siagakan Militernya Setelah Ketegangan soal Ukraina Meningkat

Global
Sekelompok Kasus Covid-19 Baru Ditemukan, China Lockdown Wilayah Dekat Desa Olimpiade

Sekelompok Kasus Covid-19 Baru Ditemukan, China Lockdown Wilayah Dekat Desa Olimpiade

Global
Emir Qatar akan Bertemu Joe Biden Pekan Depan, Bahas Keamanan dan Afghanistan

Emir Qatar akan Bertemu Joe Biden Pekan Depan, Bahas Keamanan dan Afghanistan

Global
Rekan Wartawan Terbunuh, Wartawan Meksiko Organisir Protes Nasional

Rekan Wartawan Terbunuh, Wartawan Meksiko Organisir Protes Nasional

Global
Gambar Kota-kota Mediterania Diselimuti Salju Tebal akibat Badai Elpida yang Langka dan Parah

Gambar Kota-kota Mediterania Diselimuti Salju Tebal akibat Badai Elpida yang Langka dan Parah

Global
Kemenlu Kanada Hadapi Serangan Siber, Intelijen Sebut Ada Keterlibatan Rusia

Kemenlu Kanada Hadapi Serangan Siber, Intelijen Sebut Ada Keterlibatan Rusia

Global
Imbas Disinformasi Covid-19, Neil Young Minta Spotify Hapus Semua Lagunya

Imbas Disinformasi Covid-19, Neil Young Minta Spotify Hapus Semua Lagunya

Global
Eropa Makin Panas, Ini Perbandingan Kekuatan Militer Rusia-Ukraina

Eropa Makin Panas, Ini Perbandingan Kekuatan Militer Rusia-Ukraina

Global
CEO Apple Dibuntuti Wanita Misterius, Sempat Nekat Masuk Propertinya Tanpa Izin

CEO Apple Dibuntuti Wanita Misterius, Sempat Nekat Masuk Propertinya Tanpa Izin

Global
26 Januari 1950: Republik India Berdiri

26 Januari 1950: Republik India Berdiri

Global
Korea Utara Tak Bisa Diakses Melalui Internet, Diduga Terjadi Pemadaman Total

Korea Utara Tak Bisa Diakses Melalui Internet, Diduga Terjadi Pemadaman Total

Global
Situasi Makin Tegang, Jepang Pertimbangkan Evakuasi Warganya dari Ukraina

Situasi Makin Tegang, Jepang Pertimbangkan Evakuasi Warganya dari Ukraina

Global
Rusia Usulkan Larangan Perdagangan Mata Uang Kripto

Rusia Usulkan Larangan Perdagangan Mata Uang Kripto

Global
AS Berupaya Temukan Jet Tempur Siluman F-35 yang Jatuh di Laut China Selatan

AS Berupaya Temukan Jet Tempur Siluman F-35 yang Jatuh di Laut China Selatan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.