Di Tengah Kecamuk Perang Azerbaijan-Armenia, Menlu Turki Akan Kunjungi Baku

Kompas.com - 06/10/2020, 14:06 WIB
Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Azerbaijan pada Minggu (27/9/2020) menunjukkan militer Azerbaikan meluncurkan roket ke pasukan Armenia di Nagorny-Karabakh. KEMENTERIAN PERTAHANAN AZERBAIJAN via APFoto yang dirilis Kementerian Pertahanan Azerbaijan pada Minggu (27/9/2020) menunjukkan militer Azerbaikan meluncurkan roket ke pasukan Armenia di Nagorny-Karabakh.

ANKARA, KOMPAS.com – Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, akan melakukan kunjungan kerja ke Azerbaijan pada Selasa (6/10/2020).

Kunjungan tersebut terjadi di tengah pertempuran antara pasukan Azerbaijan dan Armenia di Nagorno-Karabakh sebagaimana dilansir dari Anadolu Agency.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Cavusoglu akan diterima oleh Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev.

Cavusoglu juga akan bertukar pandangan terkait situasi terkini ihwal Nagorno-Karabakh yang masih menjadi palagan perang.

Baca juga: NATO Minta Turki Pakai Pengaruhnya Redakan Perang Azerbaijan-Armenia

Dia juga akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Azerbaijan, Ceyhun Bayramov, untuk membahas perkembangan regional dan internasional saat ini.

Pertempuran di Nagorno-Karabakh dimulai pada Minggu (27/9/2020) dn telah menewaskan ratusan korban hingga saat ini.

Baik Armenia dan Azerbaijan saling menyalahkan lawan sebagai pihak pertama yang memulai pertempuran.

Hubungan antara kedua bekas republik Soviet itu tegang sejak 1991 dan berujung pada bentrokan militer yang menimbulkan banyak korban di Nagorno-Karabakh.

Baca juga: Juara Angkat Besi Armenia Ini Tewas dalam Perang Melawan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh

Berbagai resolusi PBB, serta banyak organisasi internasional, menuntut kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata dan memulai pembicaraan damai.

OSCE Minsk Group, diketuai bersama oleh Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat (AS) dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai dalam konflik tersebut.

Namun pembicaraan damai tidak berhasil dan kedua belah pihak tidak setuju melakukannya.

Tapi bagaimana pun, gencatan senjata disepakati pada 1994 oleh Azerbaijan dan Armenia.

Baca juga: Serang Warga Sipil Azerbaijan, Armenia Dikecam 2 Partai di Turki

Banyak kekuatan dunia, termasuk Rusia, Perancis, dan AS, telah mendesak gencatan senjata dengan segera.

Sementara itu, Turki mendukung hak Azerbaijan untuk membela diri dan menyerukan Armenia untuk mundur.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luka Bakar 80 Persen, Pacar Pengemudi Kecelakaan BMW Singapura Keluar dari ICU

Luka Bakar 80 Persen, Pacar Pengemudi Kecelakaan BMW Singapura Keluar dari ICU

Global
Langgar Prokes Covid-19, Singapura Deportasi 4 Warga Inggris

Langgar Prokes Covid-19, Singapura Deportasi 4 Warga Inggris

Global
Gadis Remaja Tewas Usai Selamatkan Adik Laki-lakinya di Danau yang Membeku

Gadis Remaja Tewas Usai Selamatkan Adik Laki-lakinya di Danau yang Membeku

Global
Biden Perintahkan Serangan Udara ke Suriah, 17 Orang Tewas

Biden Perintahkan Serangan Udara ke Suriah, 17 Orang Tewas

Global
Aksi Militer Pertama Biden: Serangan Udara ke Suriah

Aksi Militer Pertama Biden: Serangan Udara ke Suriah

Global
Presiden Biden dan Raja Salman Membahas Diakhirinya Perang Yaman

Presiden Biden dan Raja Salman Membahas Diakhirinya Perang Yaman

Global
Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Global
Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Global
Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Global
Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Global
[POPULER GLOBAL] Dokumen 'Sangat Rahasia' Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

[POPULER GLOBAL] Dokumen "Sangat Rahasia" Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

Global
Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Global
5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

Global
China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

Global
China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

Global
komentar
Close Ads X