Trump soal Chicago: Lebih Parah dari Afghanistan, Hidup di Sana Seperti di Neraka

Kompas.com - 27/06/2020, 16:08 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat berbicara di konferensi pers virus corona di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, Senin (11/5/2020). KEVIN LAMARQUE/REUTERSPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat berbicara di konferensi pers virus corona di Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, Senin (11/5/2020).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Partai Demokrat dan pemerintahan pendahulunya, Barack Obama hampir tidak melakukan apa pun terkait kasus kriminalitas di beberapa kota besar AS seperti Detroit dan Chicago.

"Chicago misalnya, itu lebih parah dari Afghanistan, lebih parah dari... Honduras," ujar Trump sebagaimana dilansir Fox News.

"Kita punya banyak kota yang buruk, pada beberapa kasus, jauh lebih buruk. Lihat Detroit. Lihat apa yang terjadi di Oakland. Apa yang terjadi di Baltimore, kota-kota ini seperti hidup di neraka (sangat buruk)."

Baca juga: Tak Hanya Wabah Covid-19, Wabah Kriminal di Chicago Juga Meningkat

Trump juga menyalahkan Partai Demokrat yang menurutnya hampir tidak melakukan apa pun untuk menangani peningkatan kasus kriminal di sana.

Meski angka pembunuhan telah menurun di Chicago dalam beberapa tahun terakhir, kota itu masih menjadi kota paling berbahaya di AS, termasuk juga Detroit dan Baltimore.

Lebih dari 100 orang, termasuk beberapa anak ditembak di Chicago selama satu pekan, 15 dari angka itu dinyatakan tewas.

Baca juga: Trump Sebut Temannya Puji Dia sebagai Orang Paling Sempurna

Pada 31 Mei lalu, sebanyak 18 orang terbunuh di Chicago. Angka itu merupakan pembunuhan terburuk yang terjadi dalam satu hari selama 6 dekade terakhir menurut media lokal.

Trump juga memperingatkan bahwa dia akan mengintervensi Seattle di Washington DC di mana para aktivis mendirikan zona 'otonom' sebanyak 6 blok di pusat kota yang dikenal sebagai CHAZ dan melarang polisi masuk.

Trump berkata, "Jika mereka tidak melakukan sesuatu terhadap Seattle, kami akan melakukannya. Kami akan masuk ke sana."

Baca juga: Buntut Ujaran Kebencian Trump di Medsos, 9 Perusahaan Boikot Iklan di Facebook

Blok yang dikelola para aktivis di Seattle didirikan selama gelombang protes anti-Rasisme dan kebrutalan polisi akibat kematian seorang pria kulit hitam George Floyd bulan lalu.

Beberapa demonstrasi protes di kota-kota besar diikuti oleh kerusuhan dan penjarahan yang sengit.

Kematian Floyd dan warga Afro-Amerika lainnya di tangan polisi AS kulit putih juga telah menyebabkan peningkatan sentimen anti-Polisi di seluruh negeri "Paman Sam" itu.

Baca juga: Karena Aibnya Diungkap, Trump Berusaha Blokir Buku yang Ditulis Keponakannya


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Thailand Beri Jawaban Begini Saat Didemo Rakyatnya untuk Mundur

PM Thailand Beri Jawaban Begini Saat Didemo Rakyatnya untuk Mundur

Global
Pemerintah Jepang Godok RUU Vaksin Virus Corona Gratis

Pemerintah Jepang Godok RUU Vaksin Virus Corona Gratis

Global
Lindungi Anjingnya dari Serangan Kucing, Celana Pria Ini Melorot

Lindungi Anjingnya dari Serangan Kucing, Celana Pria Ini Melorot

Global
Menlu AS Sebut China 'Predator' Saat Bertemu Pejabat Sri Lanka

Menlu AS Sebut China "Predator" Saat Bertemu Pejabat Sri Lanka

Global
Disebut Teroris, Erdogan Gugat Politisi Sayap Kanan Belanda Geert Wilders

Disebut Teroris, Erdogan Gugat Politisi Sayap Kanan Belanda Geert Wilders

Global
Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, Iran Tampilkan Presiden Perancis seperti Iblis

Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, Iran Tampilkan Presiden Perancis seperti Iblis

Global
Selama 25 Tahun Dipenjara, Tahanan Ini Sudah Bunuh 48 Narapidana

Selama 25 Tahun Dipenjara, Tahanan Ini Sudah Bunuh 48 Narapidana

Global
Seorang Polisi Terbunuh oleh Seekor Ayam dalam Penggerebekan di Filipina

Seorang Polisi Terbunuh oleh Seekor Ayam dalam Penggerebekan di Filipina

Global
Protes kepada PM Thailand, Politisi Ini Sayat Pergelangan Tangan Saat Sidang Parlemen

Protes kepada PM Thailand, Politisi Ini Sayat Pergelangan Tangan Saat Sidang Parlemen

Global
Kisah Umat Beragama di Bangladesh yang Bersatu Perangi Covid-19

Kisah Umat Beragama di Bangladesh yang Bersatu Perangi Covid-19

Global
Serba-Serbi Menarik Jelang Pilpres AS 2020

Serba-Serbi Menarik Jelang Pilpres AS 2020

Global
Ribuan Orang di Bangladesh Protes Kartun Nabi Muhammad Dilindungi Kebebasan Berekspresi

Ribuan Orang di Bangladesh Protes Kartun Nabi Muhammad Dilindungi Kebebasan Berekspresi

Global
Pantai Pasir Putih Buatan di Filipina Memang Indah, Tapi Bisa Picu Bencana Ekologis

Pantai Pasir Putih Buatan di Filipina Memang Indah, Tapi Bisa Picu Bencana Ekologis

Global
Anjing Setia Ini Berjalan 60 Km Selama 26 Hari untuk Pulang ke Majikannya

Anjing Setia Ini Berjalan 60 Km Selama 26 Hari untuk Pulang ke Majikannya

Global
Kerja sama Indonesia-Australia Kembangkan Program Perlindungan dan Bantuan bagi Saksi dan Korban

Kerja sama Indonesia-Australia Kembangkan Program Perlindungan dan Bantuan bagi Saksi dan Korban

Global
komentar
Close Ads X