Kompas.com - 29/01/2021, 13:17 WIB
Paket produk dari Mad Bagel. Dok. Tokpedia/Mad BagelPaket produk dari Mad Bagel.

KOMPAS.com - Pandemi membuat pola belanja banyak orang berubah. Belanja via online kini semakin diandalkan, tak terkecuali belanja makanan via online.

Pendiri Mad Bagel, Prima Hayuningputri (Putri) dan Anika Miranti (Nike) menyebutkan saat pandemi, penjualan Mad Bagel naik sampai 270 persen atau sebesar empat kali lipat.

Peningkatan penjualan tersebut didongkrak dari jualan online di Tokopedia Nyam sejak Juli 2020. Mad Bagel sebelum pandemi bejualan offline sejak 2014. 

Baca juga: Rewind 2020, Ini 15 Bisnis Kuliner yang Tren pada 2020

"Kinerja selama pandemi adalah blessing in disguise (berkah dari kejadian tidak menyenangkan). Banyak keterbatasan, semua harus dilakukan secara efektif dan efisien," kata Putri di acara press confrence Tokopedia Nyam, Kamus (28/1/2020).

Nike rekan Putri, menyebutkan bagi yang ingin memulai usaha makanan online, jangan terlalu banyak berpikir tetapi berani melangkah dan mulai.

"Harus gigih juga, untuk marketing bisa belajar terus, dan adaptable (bisa beradaptasi)," kata Nike.

Baca juga: 4 Prediksi Tren Kuliner 2021, Pandemi Punya Peran Besar

Inovasi produk khususnya yang berganti dari usaha makanan ofline ke oline menurut Nike diperlukan. Manfaatkan pula berjualan di berbagai saluran online.

Muhammad Kautsar pendiri Dimsum 49. Dok. Tokopedia Muhammad Kautsar pendiri Dimsum 49.

Pendiri Dimsum 49 Muhammad Kautsar yang berbisnis sejak 2015, menyarankan para pengusaha makanan online untuk berani mencoba.

Ia menyebutkan sebenarnya sudah lama memulai usaha makanan online. Namun, setelah buka akun ia berhenti selama satu tahun karena bingung cara berjualan online.

Oleh karena itu ia mengatakan untuk memanfaatkan fitur dari e-commerce untuk memaksimalkan penjualan.

Baca juga: 5 Tips Foto Makanan dengan Kamera Handphone, Modal untuk Jualan Online

"Ketika sudah mulai, sesuaikan dengan keinginan pasar. Feedback (umpan balik) yang didapat, walaupun ada banyak ambil yang paling dominan dan terapkan," kata Kautsar.

Pandemi tidak membuat usaha Dimsum 49 tersendat. Malahan usahanya bertumbuh tiga kali lipat.

Dari sebelum pandemi memiliki 80 karyawan, Kautsar kini memperkakan 200 orang.

Ia juga bisa mempekerjakan ibu rumah tangga dan karyawan yang terkena dampak pandemi. Saat ini Dimsum 49 juga punya 3.000 reseller yang tersebar di 20 kota Indonesia.

Baca juga: 5 Jenis Makanan Paling Laku di Tokopedia Nyam Saat Pandemi



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X