Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 26/09/2022, 16:08 WIB
Ayunda Pininta Kasih

Penulis

KOMPAS.com - Setiap tahun, universitas-universitas unggulan di Amerika Serikat dan Inggris menerima puluhan ribu aplikasi calon mahasiswa dari seluruh dunia dan hanya meloloskan sebagian kecilnya.

Sebagai contoh, Crimson Education menyebut pada tahun ajaran 2022 ini, Harvard University hanya menerima 4,59 persen dari 42.749 pelajar yang melamar.

Beratnya kompetisi menjadi pemicu utama bagi pelajar-pelajar berprestasi seluruh dunia untuk membangun profil yang sebaik-baiknya.

Baca juga: Biaya Kuliah S1-S2 di Kampus Top Dunia: MIT, Stanford, Harvard

Namun nyatanya, nilai akademis saja tidaklah cukup untuk menjamin keberhasilan. Lalu, apa saja penilaian yang dilakukan oleh kampus terbaik dunia?

Tidak cukup mengandalkan nilai rapor

Amerika Serikat (AS) dan Inggris merupakan dua negara yang menjadi "rumah" beberapa universitas terbaik dunia.

Mulai dari universitas-universitas Ivy League (Universitas Brown, Universitas Columbia, Universitas Cornell, Perguruan Tinggi Dartmouth, Universitas Harvard, Universitas Pennsylvania, Universitas Princeton, dan Universitas Yale) hingga Universitas Oxford serta Universitas Cambridge.

Menjadi destinasi favorit orangtua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya, tidak terkecuali para orangtua Indonesia.

Pasalnya, universitas tersebut tak hanya memiliki sarana dan prasarana yang berlimpah, namun juga jaringan alumni yang ekstensif, reputasi universitas yang menjanjikan segudang peluang berkarier, hingga tenaga pengajar berpengalaman yang telah meraih berbagai penghargaan.

Baca juga: Uang Saku Rp 325 Juta, Ini Cara Daftar Beasiswa Gates Cambridge S2-S3

Namun, menembus universitas kelas dunia bukanlah pekerjaan yang mudah.

Former Alumni Interviewer di University of Chicago dan US University Admissions Strategist, Lyn Han memberikan penjelasan mengenai skema seleksi universitas penerimaan di AS dan Inggris yang bersifat holistik.

“Dalam menyeleksi semua calon mahasiswanya, universitas-universitas unggulan di AS dan Inggris tidak hanya menilai pencapaian akademis, tetapi juga kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan, serta kepribadian calon mahasiswa yang tersirat melalui penulisan esai dan wawancara," ujarnya dalam kegiatan Extracurricular & Leadership Building Profile Seminar with Crimson Education yang berlangsung di Goodrich Suites Artotel Portfolio, Sabtu (24/9/2022), dalam keterangan tertulis.

Selama ini, jelas Lyn Han, ada anggapan yang kuat bahwa pelajar yang memiliki nilai rapor sempurna pasti bisa menembus universitas unggulan seperti Harvard University atau University of Oxford.

"Pencapaian akademis memang penting, tetapi bukan golden ticket yang dapat menjamin keberhasilan seseorang dalam menembus universitas kelas dunia," imbuhnya.

Baca juga: Biaya Kuliah S1-S2 di Inggris: Oxford, Cambridge, UCL

Massachusetts Institute of TechnologyDok. Pixabay Massachusetts Institute of Technology

Mengenal sistem seleksi universitas terbaik dunia

Dalam kesempatan yang sama, Vanya Sunanto selaku Country Manager Indonesia di Crimson Education memaparkan bahwa adanya perbedaan antara pendekatan dalam sistem pendidikan di Indonesia yang cenderung mengutamakan pencapaian akademis dengan sistem pendidikan di AS dan Inggris yang cenderung holistik.

"Inilah yang dijembatani oleh Crimson Education melalui layanan konsultasi dan bimbingan seleksi penerimaan universitas di AS dan Inggris," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam seleksinya, universitas-universitas unggulan di AS menilai semua calon mahasiswanya berdasarkan tiga hal utama, yakni:

"Universitas-universitas tersebut tidak mencari mahasiswa yang sekadar cemerlang secara akademis, melainkan mahasiswa yang cerdas, kreatif, berinisiatif tinggi, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka mencari sosok yang memiliki semangat untuk menciptakan perubahan di dunia," paparnya.

Di sinilah peranan profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan dalam memperkuat aplikasi calon mahasiswa. Kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan dinilai terbukti membawa manfaat atau memberikan dampak sosial, meskipun pada skala kecil, akan semakin memberikan nilai lebih.

Sedikit berbeda dengan AS, universitas-universitas unggulan di Inggris memiliki kecondongan mencari sosok akademisi yang teguh menjunjung ilmu pengetahuan, sehingga bobot penilaian dalam tahapan seleksinya pun berbeda, yakni:

  • Bobot nilai pencapaian akademis memiliki sebesar 75 persen
  • Bobot penilaian profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan adalah 15 persen
  • Bobot penilaian esai dan wawancara adalah 10 persen

Dengan kata lain, kegiatan ekstrakurikuler dan kepemimpinan untuk seleksi penerimaan universitas di Inggris pun tidak dapat dipilih secara sembarang, melainkan harus memiliki keterkaitan dengan program studi yang diminati.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com