Kompas.com - 08/06/2022, 17:19 WIB
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Sesuai data Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2018, setiap satu orang di Indonesia menyumbang 4 ton sampah tiap tahun.

Jumlah tersebut didapat dari pembagian antara jumlah timbunan sampah di Indonesia yang mencapai 65.200.000 ton per tahun dan penduduk Indonesia yang mencapai 261.115.456 orang.

Salah satunya berasal dari sampah rumah tangga. Jumlah sampah rumah tangga yang cukup tinggi diakibatkan banyaknya tas belanja. Sebanyak 54,8 persen rumah tangga di Indonesia tercatat tidak pernah membawa tas belanja sendiri.

Pakar lingkungan hidup Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Prabang Setyono mengatakan, masih banyak orang yang tidak membawa tas belanja sendiri meskipun gerakan-gerakan prolingkungan sudah banyak dikampanyekan.

Baca juga: UM Undip 2022 Masih Dibuka, Calon Mahasiswa Bisa Ujian di Rumah

Banyak rumah tangga tidak bisa mengelola sampah

Beberapa pemerintah daerah juga sudah memiliki peraturan khusus mengenai penggunaan plastik sekali pakai.

"Masih banyak orang yang tidak membawa plastik belanja. Kalau sekarang itu kan supermarket jual tas-tas kain itu. Tetapi tetap saja banyak yang lupa membawa tas, jadi saat belanja ya beli tas kain itu lagi," ujar Prof. Prabang Setyono seperti dikutip dari laman UNS, Rabu (8/6/2022).

Hal ini disampaikan Prof. Prabang Setyono dalam kuliah umum bertajuk "Tata Kelola Sampah Terintegrasi Berbasis teknologi sebagai Upaya Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca".

Prof. Prabang menyampaikan, banyak rumah tangga yang tidak bisa mengelola sampah.
Sebanyak 66,8 persen rumah tangga mengelola sampahnya dengan cara membakar.

Baca juga: Intip 5 Kampus Swasta Termahal di Indonesia dan Pilihan Prodinya

Cara tersebut memang jamak ditemukan, terlebih lagi di daerah perdesaan. Namun, pembakaran sampah di lahan terbuka itu dapat mengakibatkan emisi rumah kaca. Emisi tersebut tentu memperparah kondisi Bumi.

"Hanya 1,2 persen rumah tangga yang melakukan daur ulang sampah. Memang angkanya kecil, tapi hal itu bisa kita lihat sebagai potensi. Kedepan perlu diperbanyak jumlahnya," imbuh Kepala Program Studi Ilmu Lingkungan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS ini.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.