Kedutaan Belanda dan Ecoxyztem Ajak Anak Muda Jadi Kreator Konten Lawan Isu Sampah Makanan

Kompas.com - 29/11/2021, 21:42 WIB
Kedutaan Belanda dan Ecoxyztem, menggelar ?Photo Story and Video Competition: Rethinking Food Waste, Exploring Opportunities yang ditutup secara daring pada 27 November 2021.

DOK. ECOXYZTEMKedutaan Belanda dan Ecoxyztem, menggelar ?Photo Story and Video Competition: Rethinking Food Waste, Exploring Opportunities yang ditutup secara daring pada 27 November 2021.

KOMPAS.com - Masalah sampah pangan adalah masalah fenomena gunung es. Telah banyak inisiatif dan perhatian diberikan kepada sampah anorganik seperti tas kresek, botol plastik, dan kemasan makanan, namun masih cukup timpang perhatian kepada sampah sisa makanan.

Padahal menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) komposisi sampah terbesar yang dihasilkan di Indonesia adalah sampah organik (60 persen) dengan mayoritas berasal dari sampah rumah tangga (37,39 persen).

Menjawab tantangan tersebut, Kedutaan Belanda dan Ecoxyztem, venture builder untuk startup solusi Climate Tech dan permasalahan lingkungan, menggelar “Photo Story and Video Competition: Rethinking Food Waste, Exploring Opportunities".

Gelaran kompetisi foto dan video ditutup secara daring pada 27 November 2021 dengan upacara penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba.

Proses pendaftaran dan seleksi yang dilakukan hanya dalam waktu satu bulan telah berhasil mengumpulkan lebih dari 60 peserta baik dari universitas maupun SMA seluruh Indonesia.

Beberapa peserta yang hadir secara daring mengungkapkan antusiasmenya dalam mencari ide pemecahan masalah sampah makanan melalui media video, dan fotografi. Beberapa diantaranya menyebutkan berasal dari daerah Aceh, Palembang, Jombang, Bogor, dan Purwokerto.

Isu sampah makanan

 

“Kedutaan Besar Belanda sangat senang dapat berkolaborasi dengan Ecoxyztem dan berperang melawan masalah sampah pangan, baik yang ada di limbah hulu maupun yang sudah melewati rantai pasok pangan," ungkap Ana Saleh, Senior Policy Advisor for Agriculture, Fishery, Food, and Forestry Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia.

"Ada banyak sekali cerita yang coba teman-teman sampaikan melalui foto dan video yang telah dikumpulkan, hal tersebut sangat menginspirasi kami untuk menentukan langkah inisiatif selanjutnya dan sekaligus akan terus menggaungkan kampanye dalam mengatasi masalah sampah pangan hingga ke sekolah-sekolah," jelas Ana Saleh.

Baca juga: Prasmul Jadi Salah Satu Perguruan Tinggi yang Paling Banyak Menangkan Kompetisi Wirausaha

Dalam kesempatan sama, Bijaksana Junerosano, Founder Greeneration Group, mengungkapkan, “menurut riset mengenai sampah makanan yang dilakukan oleh Bappenas, UNDP dan Waste4Change dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2019, Indonesia berpotensi mengalami kerugian sekitar 213 sampai dengan 500 triliun per tahun akibat permasalahan sampah makanan."

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.