Kompas.com - 22/04/2021, 16:10 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi dalam dialog Fortadikbud di Bogor, Sabtu, 17 April 2021. DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARKepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi dalam dialog Fortadikbud di Bogor, Sabtu, 17 April 2021.

KOMPAS.com - Dinas Pendidikan Kota Bogor memastikan kesiapan mereka jelang penyelenggaran pembelajaran tatap muka terbatas (PTM) yang telah ditegaskan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri.

Kesiapan ini diungkapan Disdik Kota Bogor melalui Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi dalam dialog Fortadikbud di Bogor, Sabtu, 17 April 2021.

"Kita persiapkan secara detil kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Dari rumah ke sekolah, mulai dari keberangkatan dari rumah, di kelas, hingga pulang," tegas Hanafi. Ia menjelaskan, akan ada 20 SMPN diujucobakan bersama dengan 17 SMP swasta.

Hanafi menyampaikan, PTM ini sangat diharapkan banyak pihak sehingga pihaknya secara khusus melakukan persiapan secara teknis terkait protokol kesehatan, hingga kurikulum.

"Rencananya akan dilaksanakan April, sepanjang disetujui kepala daerah melalui Foum Muspida. Semua sekolah siap melaksanakan PTM ini," ujarnya.

Baca juga: Berhasil Terapkan Home-Based Learning saat PJJ, Global Jaya School Kini Siap Lakukan Pembelajaran Tatap Muka

Dari prokes hingga kurikulum

Lebih jauh Hanafi menyampaikan saat ini sebanyak 5.851 guru dan tenaga kependidikan di Kota Bogor, Jawa Barat telah menerima vaksin Covid-19. Artinya, sudah 77,5 persen dari total 7.551 orang guru dan tenaga kependidikan yang ada di Bogor.

Menurut Hanafi, angka menunjukkan Kota Bogor semakin siap dalam menghadapi pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Tentuya, tetap mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Kementerian.

"Selain kesiapan, daftar periksa dan protokol kesehatan, yang penting juga. Disdik dan Sekolah menanyakan ke orangtua untuk izin siswa mengikuti PTM. Kami tidak memaksakan anak untuk ke sekolah," tambah dia.

"Kami meminta izin kepada orangtua anak (untuk) PTM. Kalau tidak ada itu, tidak akan dilaksanakan," tegasnya lagi. Kepada orangtua, Kadisdik Bogor mengingatkan agar tidak memaksakan anak untuk sekolah kalau anak tidak memungkinkan. 

Pemkot Bogor juga tengah mempersiapkan kurikulum yang akan digunakan pada PTM terbatas nanti. Prinsipnya, tambah Hanafi, kurikulum yang disajikan hanya kurikulum yang memang dibutuhkan untuk kesiapan jenjang selanjutnya dan tidak memberatkan siswa seperti imbauan Mendikbud Nadiem Makarim.

"Materi yang esensi yang kira-kira menjadi bahan mereka nanti untuk naik ke jenjang berikutnya atau lulus di sekolah itu," imbuhnya.

Lebih jauh Hanafi menyampaikan, alternatif PTM terbatas dilakukan secara bergantian antara tatap muka dan PJJ.

"Alternarifnya 50 persen secara lurinh dan 50 persen secara PJJ per pekan. Dengan asumsi 1 minggu kita mendapatkan cukup informasi apakah terjadi paparan atau tidak," jelas Hanafi.

Ia juga menjelaskan, pembatasa juga masih dilakukan untuk jenjang pendidikan awal. "Yang belum saya rekomendasikan TK dan PAUD serta SD kelas awal 1, 2 dan 3," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X