Kompas.com - 01/03/2021, 19:21 WIB
Ilustrasi shutterstock.comIlustrasi

KOMPAS.com - Tekanan kehidupan acap kali membuat seseorang menjadi stres. Bahkan stres tidak hanya terjadi pada pekerja atau karyawan saja. Mahasiswa atau pelajar pun bisa mengalami kondisi stres.

Kondisi ini bisa saja terjadi karena banyaknya tugas yang diberikan atau permasalahan lain yang membuat perasaan jadi tidak tenang.

Dari permasalahan yang bisa saja dialami setiap orang ini, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mempunyai inovasi membuat alat pendeteksi stres.

Baca juga: Mahasiswa Dapat Rp 9 Juta Per Semester, Ini Cara Daftar KJMU 2021

Gagasan ini makin unik karena Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra membuat sebuah alat deteksi dini sederhana gejala stres berdasarkan pemeriksaan urine.

Deteksi stres berbasis biomarker pada urine

Berkat inovasi menciptakan alat pendeteksi depresi berbasis pemeriksaan urine ini, mereka berhasil meraih medali Emas untuk kategori Presentasi dan medali Perunggu untuk kategori Poster, pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta.

Baca juga: Pola Hidup Sehat dengan Permainan Ular Tangga ala Mahasiswa UAD

Ide ini merupakan usulan sebuah solusi alat pendeteksi depresi non-invasive berbasis biomarker spesifik pada urine.

Salah seorang anggota tim, Maha Yudha Samawi menerangkan, alat ini bekerja dengan mendeteksi beberapa biomarker spesifik yang berpotensi besar dapat mengindikasikan depresi. Antara lain:

  • Sorbitol
  • Asam urat
  • Asam azelat

Gunakan metode elektrokimia

Biomarker ini, lanjut Yudha, akan dideteksi dan diukur dengan metode elektrokimia. Kemudian bisa menunjukkan apakah seseorang mengalami depresi atau tidak.

“Alat ini menjadi pendeteksi depresi klinis noninvasif pertama di Indonesia. Umumnya deteksi depresi masih menggunakan kuisioner yang rawan risiko subjektifitas pasien akibat harapan akan kondisi yang dialaminya," papar Yudha seperti dikutip dari laman itb.ac.id, Senin (1/3/2021).

Baca juga: Cegah Kecelakaan Kerja, Mahasiswa UMM Ciptakan Sarung Tangan Safety

Ketiga mahasiswa ini lantas membuat alat deteksi yang bersifat klinis. Penggunaan biomarker atau zat penanda yang dihasilkan tubuh akibat perubahan metabolisme saat seseorang terkena depresi untuk mengurangi risiko subjektifitas.

"Biomarker yang kami gunakan adalah asam azelat, asam urat dan sorbitol yang terdapat di urine,” papar Yudha.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X