Kompas.com - 05/01/2021, 12:06 WIB
Ilustrasi siswa ujian. KOMPAS.com/ALBERTUS ADITIlustrasi siswa ujian.

KOMPAS.com - Hasil survei singkat yang dilakukan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendapati, dari 6.513 responden guru, sebesar 45,27 persen tidak setuju sekolah tatap muka di buka Januari 2021.

Meski begitu, sebanyak 49,36 persen guru menyatakan setuju sekolah tatap muka di buka Januari 2021. Sementara 5,37 persen responden menyatakan ragu-ragu.

Survei tersebut dilakukan FSGI melalui aplikasi google form terkait persepsi para guru atas rencana pemerintah membuka sekolah pada Januari 2021.

Wakil Sekjen FSGI Heru Purnomo mengatakan, mayoritas responden memang menolak buka sekolah tatap muka karena masih tinggi kasus, pandemi belum dapat dikendalikan pemerintah, sehingga mereka sangat khawatir tertular Covid-19.

Baca juga: Sejauh Mana Sekolah Dasar Siap Tatap Muka? Ini Survei Kemendikbud

"Apalagi untuk guru-guru yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dan disertai pula dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung dan lain-lain,” papar Heru dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Alasan guru setuju dan menolak

Jumlah responden yang menyatakan setuju sebanyak 3.215 orang guru, adapun alasan yang dipilih responden yang setuju sekolah tatap muka dibuka Januari 2021, antara lain:

  1. Jenuh mengajar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebanyak 22 persen.
  2. Materi sulit/sangat sulit dan praktikum tidak bisa diberikan secara daring sebanyak 54 persen.
  3. Sebagian siswa yang diajar tidak memiliki alat daring, sehingga tidak mengikuti PJJ sebanyak 9,3 persen.
  4. Sinyal tidak stabil sehingga menjadi kendala PJJ sebanyak 5,8 persen.
  5. Lainnya sebanyak 8,9 persen, menyebutkan bahwa wilayah responden mengajar merupakan wilayah kepulauan yang masuk zona hijau/kuning.

Baca juga: Cair Hari Ini, Dana KJP Plus Tahap II Tahun 2021 Bulan Januari

“Para guru merasakan bahwa peserta didiknya pasti mengalami kesulitan untuk mengerjakan materi pelajaran dengan tingkat kesulitan tinggi, karena materi seperti itu tidak optimal diberikan secara daring, tetapi harus melalui pembelajaran tatap muka, minimal seminggu sekali,” ujar Wakil Sekjen FSGI Mansur dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Sementara itu, jumlah responden yang menyatakan tidak setuju sebesar 2.948 orang. Adapun alasan responden yang menyatakan tidak setuju sekolah tatap muka di buka pada Januari 2021, yaitu:

  1. Kasus Covid-19 masih tinggi sebesar 40,70 persen.
  2. Khawatir tertular Covid-19 di sekolah sebesar 27,74 persen.
  3. Sudah berusia di atas 50 tahun ditambah penyakit penyerta sebesar 10,44 persen.
  4. Infrastruktur dan protokol kesehatan/SOP Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di sekolahnya belum memadai sebesar 14,31 persen.
  5. Lainnya sebesar 6,8 persen karena belum ada sosialisasi protokol kesehatan dari pihak sekolah dan Tidak memiliki kendaraan pribadi, sehingga harus naik angkutan umum yang rentan tertular Covid-19.

Baca juga: Jadwal Asesmen Nasional 2021 dan Contoh Soal AKM Literasi

Rekomendasi FSGI

Survei yang dilakukan pada 19-22 Desember 2020 tersebut melibatkan 6.513 responden guru dari sejumlah provinsi, yaitu provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, D.I.Yogjakarta, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Jambi, NTB, NTT, Papua dan Papua Barat.

Para guru dalam survei ini mengajar pada jenjang SMP/sederajat sebanyak 44,52 persen, mengajar jenjang SD/sederajat sebanyak 25,32 persen, mengajar jenjang SMA 15,35 persen dan jenjang SMK 14,60 persen.

Sedangkan sisanya 0,21 persen mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa). Adapun wilayah kerja responden mayoritas berada di Pulau Jawa (63,7 persen), sedangkan di luar Jawa hanya 36,3 persen).

Terkait hasil survei, FSGI memberikan sejumlah rekomendasi, antara lain:

Baca juga: Kemenag Buka Beasiswa di MAN hingga Lulus Sekolah

  1. FSGI mendorong pemerintah daerah untuk hati-hati dalam memutuskan membuka sekolah pada Januari 2021 karena kasus Covid-19 masih tinggi dan belum dapat dikendalikan.
  2. FSGI mendorong pemerintah tetap menetapkan bahwa 4 Januari 2021 sebagai awal semester genap, namun bukan berarti pembelajaran tatap muka dilakukan pada 4 Januari 2021, karena masih butuh waktu lama dalam penyiapan infrastruktur dan protokol kesehatan adaptasi kebiasaan baru di sekolah.
  3. FSGI mendorong pembukaan sekolah di mulai dari kelas paling atas, pada jenjang paling tinggi dan disertai uji coba dengan 25 persen siswa.
  4. FSGI mendorong tes antigen untuk seluruh pendidik dan peserta didik yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X