“Modifikasi” Nyamuk DBD, Guru Besar UGM Jadi 10 Ilmuwan Berpengaruh Dunia

Kompas.com - 17/12/2020, 07:37 WIB
Ilustrasi nyamuk demam berdarah, nyamuk aedes aegypti. Ilustrasi nyamuk demam berdarah, nyamuk aedes aegypti.

KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada ( UGM) Adi Utarini berhasil masuk dalam daftar 10 orang berpengaruh dalam mengembangkan sains di tahun 2020. Daftar tersebut dirilis oleh penerbit jurnal ilmiah internasional, Nature.

"Selamat atas pencapaian yang telah diraih. Semoga pencapaian ini dapat meningkatkan semangat #InsanDikti untuk terus berinovasi untuk Indonesia. Yuk #InsanDikti kita ucapkan selamat pada Ibu Adi Utarini!" tulis akun Instagram Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rabu (16/12/2020).

Sebagai Ketua Peneliti World Mosquito Program Yogyakarta, Adi Utarini menemukan terobosan biologis dalam mencegah penyakit demam berdarah dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes Aegypti.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Ada 3 Dosa di Sekolah yang Tidak Boleh Ditoleransi

Bakteri tersebut mampu menghambat berkembangnya virus demam berdarah dengue dalam tubuh nyamuk sehingga virus tersebut terhambat dalam menulari manusia.

Terobosan itu membuat Adi dan rekan-rekan peneliti berhasil memangkas 77 persen kasus demam berdarah di beberapa bagian kota besar Indonesia dengan melepaskan nyamuk yang telah dimodifikasi untuk menghentikan nyamuk menularkan virus.

Melansir laman UGM, penelitian yang dimulai dari tahun 2011 sudah membuahkan hasil. Setidaknya daerah yang menjadi lokasi riset penyebaran nyamuk berwolbachia di Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menurunkan jumlah tingkat insidensi kasus demam berdarah.

Salah satu peneliti Warsito Tantowijoyo mengatakan nyamuk aedes aegypti yang dikenal sebagai vektor pembawa virus dengue apabila di dalam tubuhnya mengandung bakteri wobcahia maka tidak akan mampu menularkan virus dengue ke manusia. Sebab, wolbachia akan menahan replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.

Baca juga: Kampus Swasta Ini Raih Predikat 4 Star di Pemeringkatan Dunia

“Memang tidak nampak ada perubahan pada nyamuk, namun virus dengue tidak bisa berkembang karena wolbachia memblokade proses replikasi,” kata pakar entomolog ini, dikutip dari laman UGM.

Tidak hanya menahan laju replikasi, bahkan dengan adanya wolbachia dalam tubuh nyamuk akan menyebabkan jumlah virus dengue pun menjadi sedikit.

“Potensinya untuk menulari dengue jadi sangat rendah,” paparnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X