Kompas.com - 17/09/2020, 10:41 WIB
Foto dirilis Rabu (16/9/2020), memperlihatkan sejumlah siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pembelajaran secara daring selama pandemi Covid-19 ini memunculkan masalah tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok Jombang yang tidak bisa mengakses jaringan internet. ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIFFoto dirilis Rabu (16/9/2020), memperlihatkan sejumlah siswa SDN Marmoyo, mengerjakan tugas dengan berkelompok menggunakan gawai secara bergantian di rumah warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pembelajaran secara daring selama pandemi Covid-19 ini memunculkan masalah tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok Jombang yang tidak bisa mengakses jaringan internet.

KOMPAS.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyayangkan kasus orangtua menganiaya anak hingga meninggal karena kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim berharap para guru untuk tidak memberikan tugas yang memberatkan siswa.

Pemberian tugas, kata dia, baiknya perlu disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas belajar yang dimiliki masing-masing anak didik

"Kami sangat menyayangkan orangtua berlaku demikian. Hikmahnya begini, kami berharap guru-guru tidak memberikan tugas-tugas yang memberatkan anak-anak. Apalagi masih pendidikan dasar. Kenapa demikian? Karena kita tidak tahu bagaimana kondisi keluarga anak-anak kita di rumah. Bagaimana pola komunikasi mereka dalam keluarga, antara ibu, ayah dan anak. Berapa jumlah mereka bersaudara, termasuk bagaimana fasilitas yang mereka miliki," papar Satriwan dalam keterangan audio yang diterima Kompas.com, Rabu (17/9/2020).

Baca juga: Seperti Ini Cara dan Syarat Dapatkan Kartu Indonesia Pintar

Ia pun mengimbau guru agar kembali kepada surat edaran Kemendikbud tentang penerapan kurikulum darurat di masa khusus.

"Bahwa regulasi tersebut berprinsip pembelajaran selama pandemi ini tidak memberatkan siswa," jelasnya.

Menurutnya, prinsip tidak membebani anak ini otomatis juga tidak akan membebani guru.

"Nah, jadi anak-anak kita ini akan enjoy belajarnya, akan senang dia dalam belajar, jika tugas-tugas tersebut tidak berat dan disesuaikan dengan kondisi atau kemampuan yang dimiliki," paparnya.

Baca juga: Orangtua Bunuh Anak saat Sulit Belajar Online, KPAI: Kekerasan Picu Masalah

Komunikasi wali kelas dan orangtua jadi kunci

Satriwan berharap dinas-dinas pendidikan, Kemendikbud, Kemenag, tidak bosan-bosannya memberikan pelatihan atau webinar kepada para orangtua tentang proses pendampingan anak selama PJJ di rumah.

"Jadi, harus sosialisasi, kemudian ada pemahaman yang utuh kepada orangtua dari negara. Karena harus kita akui masih banyak mindset orangtua kita yang berpikir bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab sekolah atau guru, bukan tanggung jawab keluarga," ungkapnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X