"Blended Learning" Jadi Kesempatan Ubah Paradigma Pendidikan Lama

Kompas.com - 15/07/2020, 15:25 WIB
Webinar antar pemangku kepentingan pendidikan yang digelar Kabupaten Tangerang (15/7/2020), Banten memnahas pendidikan jarak jauh (PJJ) dan juga blended learning. DOK. DISDIK KAB. TANGERANGWebinar antar pemangku kepentingan pendidikan yang digelar Kabupaten Tangerang (15/7/2020), Banten memnahas pendidikan jarak jauh (PJJ) dan juga blended learning.

KOMPAS.com - Pola pembelajaran bauran atau blended learning diharapkan tidak saja  menjadi solusi di masa pandemi covid-19 namun juga menjadi pemantik perubahan paradigma lama pendidikan di Indonesia.

Dalam webinar antar pemangku kepentingan pendidikan yang digelar Kabupaten Tangerang (15/7/2020), Banten, pendidikan jarak jauh (PJJ) dan juga blended learning diharapkan mampu menjadi solusi dalam pelaksanaan pembelajaran di masa new normal dan juga meningkatkan angka partisipasi pendidikan.

Bupati Tangerang, Zaki Iskandar menyampaikan, "Dalam 4 bulan terakhir pemerintah daerah fokus pada penanganan kasus covid, namun tidak meninggalkan fokus bidang pendidikan, termasuk melakukan inovasi dalam menjaga kualitas pendidikan anak-anak."

Zaki Iskandar menyampaikan Kabupaten Tangerang telah mencapai puncak pandemi pada bulan Mei 2020. "Mudah-mudahanan tidak ada gelombang kedua, apalagi bertepatan dengan awal tahun ajaran baru. Jangan sampai elemn pendidikan terpapar."

Ia menegaskan faktor keselamatan dan kesehatan siswa dan keluarga menjadi perioritas sehingga masih terus dilakukan kajian dalam pembukaan pondok pesantren, universitas, tingkat SMA/SMK dan SMP yang menjadi prioritas awal belajar tatap muka.

Baca juga: Berkah dan Tantangan PJJ di Tahun Ajaran Baru Era Normal Baru

Orientasi pendidikan

Dalam kesempatan sama, Muhammad Nur Rizal penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), mengingatkan orientasi pendidikan di masa darurat wabah global ini tidak boleh sama seperti di masa normal.

"Di era gawat darurat ini orientasi pendidikan tidak boleh berdasar pada buku saja namun harus berdasarkan kondisi nyata di lapangan sehingga terjadi kolaborasi antara orangtua dan siswa dan guru. Bukan karena terpaksa belajar dari rumah," ujarnya.

Karenanya Rizal menyampaikan, "guru tidak hanya menyiapkan pedagogi, tapi juga perlu menyiapkan skenario pembelajaran." Menurutnya pembelajaran berbasis skenario ini akan membuat siswa lebih kontekstual dengan realitas yang terjadi dengan sekitarnya.

"Hybrid learning mengombonasikan antara online dan offline orientasinya adalah problem solving, memecahkan masalah. Maka revolusi pendidikannya adalah anak diajarkan abstract thinking sehingga bisa menganalisa permasalahan dengan baik," jelas Rizal.

Untuk itu ia menjelaskan tugas guru kini bukan saja mentrasfer pengetahuan. "Pembelajarannya harus berdasaran personalized learning mengacu kodrat anak didik kita yakni keingintahuan, berimajinasi, berkolobrasi dan kemerdekaan," jelas Rizal.

Ia menjelaskan, "jadi kalau karena blended learning, orientasi kurikulum, pendidikan, dan guru tidak hanya mencekokan pengetahuan kepada anak, namun anak didorong bisa menemukan sendiri pengetahuan, menganalisa dan mengolah menjadi value untuk dirinya."

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X