Terkait Slogan "Merdeka Belajar", Ini Tanggapan Kemendikbud

Kompas.com - 14/07/2020, 14:35 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Dok. Jilan Rifai/Biro KSHM KemendikbudMenteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

KOMPAS.com - Konsep Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim kini sudah sampai pada Episode 5.

Penggunaan slogan Merdeka Belajar oleh Kemendikbud sempat dipertanyakan karena istilah yang sama sudah lebih dulu dipatenkan oleh PT. Sekolah Cikal sejak tahun 2018 yang kemudian disetujui pada tahun 2020.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kemendikbud Evy Mulyani mengatakan, Merdeka Belajar yang digunakan untuk mengampanyekan program dan kebijakan Kemendikbud terinspirasi dari ajaran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara.

Baca juga: Mendikbud: Sekolah di Jabar Jadi Contoh Nasional Pembelajaran Tatap Muka

Filosofi Merdeka Belajar mengandung makna yang mendalam, yakni mengajarkan semangat dan cara mendidik anak untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya, dan merdeka tenaga.

“Filosofi inilah yang menjadi akar Merdeka Belajar yang dijalankan Kemendikbud saat ini,” kata Evy dalam konferensi daring, Senin (13/7/2020).

Semangat Merdeka Belajar, lanjut dia, juga sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo kepada Mendikbud, yakni untuk menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat.

Termasuk menghadirkan iklim inovasi, sehingga dapat menghasilkan SDM unggul dan berkarakter untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Baca juga: Seperti Ini Simulasi Belajar Tatap Muka di Sekolah untuk Zona Hijau

Secara khusus, lanjut Evi, Presiden meminta Mendikbud melakukan deregulasi dan debirokratisasi di lingkungan pendidikan. Reformasi pendidikan nasional tersebut memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

"Menurut Presiden, tidak hanya dilakukan oleh kementerian dan lembaga, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, serta kemitraan dengan swasta," kata Evi.

Dalam menyelenggarakan pembangunan pendidikan nasional, lanjut dia, Pemerintah melalui Kemendikbud mengedepankan prinsip gotong royong, sebagai inti dari Pancasila, dalam perumusan hingga pelaksanaan berbagai program dan kebijakan.

Peran serta berbagai pihak dalam gotong royong membangun pendidikan nasional merupakan keniscayaan dan faktor penting yang hendaknya semakin diperkuat.

Baca juga: Lowongan Program Karier BCA, Dapat Uang Saku dan Jadi Pegawai Tetap

Evi juga menjelaskan, dalam pemanfaatan Merdeka Belajar sebagai slogan kampanye program dan kebijakan, Kemendikbud tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemilik merek, dalam hal ini PT Sekolah Cikal, secara resmi dan tertulis juga telah mengizinkan penggunaan slogan Merdeka Belajar untuk dunia pendidikan tanpa memungut kompensasi apa pun.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X