Kompas.com - 10/06/2020, 23:28 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberi arahan dalam acara ?Serah Terima Jabatan Menristekdikti Periode 2014-2019 kepada Menristek/KaBRIN periode 2019-2024 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Dok. KemenristekdiktiMenristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat memberi arahan dalam acara ?Serah Terima Jabatan Menristekdikti Periode 2014-2019 kepada Menristek/KaBRIN periode 2019-2024 di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

KOMPAS.com - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memperkirakan harga vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan dari berbagai negara akan melonjak.

Hal itu diungkapkan saat live streaming bersama Rakyat Merdeka dengan topik Vaksin Made in Indonesia melalui aplikasi telekonferensi pada Selasa (9/4/2020).

Ketersedian 170 juta vaksin

Bagi Indonesia ini menjadi tantangan tersendiri karena perlu mengimunisasi paling tidak 130 juta penduduk (setengah populasi) hingga 170 juta penduduk (dua per tiga populasi).

Baca juga: Presiden Duterte Tak Izinkan Siswa Masuk Sekolah sampai Vaksin Ditemukan

Menurut Menristek Bambang ini terjadi akibat permintaan tinggi dengan suplai vaksin yang belum mencukupi.

"Saya yakin meskipun nanti ada beberapa perusahaan yang menemukan vaksin, meskipun mereka mengklaim bisa memproduksi satu miliar ampul setahun,” kata Menristek.

Ia melanjutkan, “kalau Bio Farma itu ratusan juta kapasitas produksinya setahun. Kita tidak ada jaminan Indonesia akan langsung bisa mendapatkan atau kalaupun kita bisa membeli langsung, ada kemungkinan harganya tidak bisa harga yang normal.”

Menurut Bambang, “dalam kondisi pandemi di mana hukum demand dan supply yang normal tidak bisa karena sisi demand luar biasa besar, sisi supply sangat terbatas."

"Kita bisa bayangkan kalau kita hanya membeli maka harganya itu bisa melonjak apalagi kalau terlambat dalam membeli," jelas Ketua BRIN.

Menristek/Kepala BRIN menjelaskan saat ini tim pengembangan vaksin nasional sedang dibentuk yang beranggotakan seluruh kementerian yang terkait secara langsung dalam pengembangan vaksin.

Vaksin dari Indonesia

"Saat ini kita sedang membentuk tim pengembangan vaksin nasional yang anggotanya tidak hanya Kemenristek/BRIN tapi juga mengikutsertakan Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan karena nantinya yang imunisasi adalah Kemenkes,” ungkap Bambang.

Selain itu, imbuhnya, perlu adanya diplomasi dan industri untuk mengembangkan vaksin. “Kementerian Luar Negeri karena kita perlu juga diplomasi vaksin, Kementerian Perindustrian karena industri nanti yang akan menghasilkan vaksin itu dan beberapa kementerian lainnya,” ujarnya. 

"Tujuannya adalah kita ingin mendapatkan vaksin dalam waktu relatif cepat agar tidak tertinggal dibanding negara lain," kata Menristek Bambang menegaskan.

"Kemudian kita juga mengembangkan vaksin dari Indonesia sendiri yang kita harapkan akan efektif terutama untuk virus yang beredar di Indonesia," jelasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X