[POPULER EDUKASI] Penelitian Jahe Merah untuk Tangkal Corona | Virus Hoaks Lebih Berbahaya dari Corona | 7 Langkah Pencegahan Corona di Sekolah

Kompas.com - 05/03/2020, 10:44 WIB
Simulasi penanganan pasien terinfeksi virus corona di RAUD Margono Soekarjo Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020). KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAINSimulasi penanganan pasien terinfeksi virus corona di RAUD Margono Soekarjo Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020).

Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito: Virus Corona Tak Mematikan, Lebih Berbahaya Virus Hoaks Corona

Ketua Tim Viral Airborne RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD-KP mengatakan masyarakat tak perlu panik virus corona sesungguhnya tak mematikan.

Ia menilai virus Hoaks lebih berbahaya daripada virus corona. Dr. Ika menyampaikan hal tersebut dalam kuliah mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Program Studi Profesi Apoteker bertema Tentang Corona Virus dan Penanganannya.

Menurut Dr. Ika, virus corona pernah menjadi wabah dunia dengan tiga jenis yang dikenal selama ini, yaitu SARS-Cov, MERS-Cov dan COVID-19. SARS muncul tahun 2002 di China dan Hongkong, kemudian MERS muncul tahun 2012 dan di akhir tahun 2019 menyusul COVID-19.

Baca juga: Pendaftaran KIP Kuliah Dibuka, Mahasiswa Keluarga Tidak Mampu Diimbau Segera Daftar

 

SARS-Cov jumlah kasusnya mencapai 8.098, meninggal dunia 774 orang dan Case Fatality Rate 9,6 persen. MERS-Cov yang terjangkit lebih sedikit yaitu 2.494, tetapi angka kematian cukup tinggi 858 sehingga Case Fatality Ratenya 34,4 persen.

Sementera, COVID-19 tercatat per tanggal 1 Maret 2020 mencapai 87.137 kasus dengan jumlah kematian mencapai 2.981. Angka kematian ini terlihat sangat tinggi, tetapi bila dibandingkan dengan jumlah kasusnya maka Case Fatality Rate-nya hanya 3,4 persen.

Benarkah angka kematian yang disebabkan oleh kasus virus Corona tidak tinggi? Baca data selengkapnya di artikel ini.

7 Langkah Pencegahan Penularan Virus Corona di Lingkungan Sekolah

Ibu Negara Iriana Joko Widodo cuci tangan bareng pelajar SDN Tanjungsiang, Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (7/2/2019) pagi. KOMPAS.com/AAM AMINULLAH Ibu Negara Iriana Joko Widodo cuci tangan bareng pelajar SDN Tanjungsiang, Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (7/2/2019) pagi.

Layaknya virus penyebab flu dan batuk, virus Corona dapat menyebar melalui udara sehingga penularannya bisa terjadi dengan cepat.

Penyebaran virus ini umumnya terjadi di lingkungan padat orang, seperti pasar, mal, bandara, termasuk di sekolah. Lingkungan sekolah bisa menjadi lokasi potensial penyebaran beragam virus, baik flu, batuk, cacar air, termasuk virus Corona.

Walau begitu, kepanikan bukanlah jalan keluar untuk "melawan" virus ini, melainkan melalui langkah-langkah pencegahan dan penanganan tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Pulmonologist Siloam Hospital Yogyakarta Paulus Wisnu Kuncoromurti.

Baca juga: Bisa untuk SBMPTN 2020 dan PTS, Ini Cara Mudah Daftar KIP Kuliah

 

Menurut dokter yang akrab disapa Wisnu ini, virus Corona bisa dicegah dan disembuhkan bila setiap orang, khususnya guru dan orangtua, melakukan langkah-langkah tepat dalam menghadapi serangan virus ini.

Langkah lengkap pencegahan penularan virus Corona di lingkungan sekolah, tempat les dan lokasi keramaian yang kerap didatangi oleh anak dapat dilihat melalui tautan ini.

 

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X