Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pernah Menjajah, Mengapa Bahasa Belanda Kurang Dikenal di Indonesia?

Kompas.com - 22/10/2023, 06:30 WIB
Erwina Rachmi Puspapertiwi,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bangsa Belanda mendarat di Jawa sejak tahun 1596 hingga kemudian mendirikan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda di Batavia, sekarang Jakarta.

Hampir 3,5 abad orang-orang Belanda berada di Hindia Belanda mulai dari awalnya berdagang rempah sampai kemudian melakukan penjajahan atau kolonialisasi.

Namun setelah rentang waktu tersebut, kenapa bahasa Belanda tidak populer dan dikuasai banyak bangsa Indonesia?

Baca juga: Asal-usul Gelar Haji, Hanya Ada di Indonesia, Warisan Belanda untuk Tandai Pemberontak

Bahasa Belanda bukan bahasa resmi

Terkait hal ini, Kees Groeneboer pernah menuliskannya dalam buku Weg tot het Westen: Het Nederlands vor Indië 1600-1950. Dia mengisahkan alasan tak masifnya penggunaan bahasa Belanda di Indonesia.

Menurut Kees, bahasa Belanda tidak pernah menempatkan dirinya sebagai bahasa pergaulan atau bahasa pengantar dalam urusan niaga. Bahkan oleh VOC.

Bahasa Belanda saat itu hanya digunakan oleh internal bangsa Belanda. Termasuk dalam kurikulum pengajaran di Hindia Belanda.

"Meskipun memasuki abad ke-18 sudah ditemukannya kurikulum pendidikan berbahasa Belanda, nyatanya pengajaran itu hanya ditujukan pada orang-orang Eropa (bukan pribumi)," tulisnya.

Dikutip dari National Geographic (3/5/2022), pendidikan yang dibuat oleh Belanda bagi kaum pribumi, hanya tersedia bagi para elit penganut ajaran Kristen dengan bahasa Melayu sebagai pengantar pembelajarannya.

Guru dan murid-murid sekolah di Ambon, Hindia Belanda, sekitar 1900.KITLV Guru dan murid-murid sekolah di Ambon, Hindia Belanda, sekitar 1900.

Bahasa Melayu lebih populer

Bahkan bahasa Melayu dinilai lebih populer saat itu.

"Kemudian dengan alasan pragmatis, bahasa Melayu semakin banyak digunakan sebagai lingua franca," tuturnya.

Di sisi lain, sekolah-sekolah Kristen Belanda telah masif membumikan bahasa Melayu ketimbang bahasa Belanda sebagai pengikat persatuan pribumi antarsuku maupun antarpulau.

Bertahan hingga pertengahan abad ke-19, pendidikan yang tersedia di Hindia-Belanda hanya ditujukan bagi orang Eropa, terlebih 80 persen di antaranya diberikan kepada orang Indo (Belanda-Jawa).

Para Indo menganggap bahwa bahasa Belanda hanya sebagai formalitas belaka dalam sekolah untuk mengenal bahasa ayah mereka—notabene ayah Indo adalah seorang Belanda.

Kees Groeneboer mencatat, ketika memasuki 1900-an, hanya 5.000 penduduk pribumi yang menguasai bahasa Belanda. Hal ini setara dengan 1:8.000 penduduk saja yang mampu menguasainya.

Berbeda setelah memasuki abad ke-20, pemerintah Belanda mulai gencar mengenalkan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan Eropa untuk pribumi.

Bahasa Belanda mulai banyak digunakan dalam kurikulum pendidikan pribumi. Namun, pascakekalahan perang atas Jepang pada 1942, dominasi bahasa Belanda mulai tersisih berganti menjadi bahasa Jepang. Begitupun zaman awal kemerdekaan, bahasa Belanda semakin dilupakan.

Baca juga: Asal-usul Gelar Haji, Hanya Ada di Indonesia, Warisan Belanda untuk Tandai Pemberontak

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com